Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Sampah dan Gotong Royong Wujudkan Ekonomi Sirkular

seluruh elemen masyarakat bergotong royong demi terciptanya ekonomi sirkular
  • 13 April 2021
  • 0 Komentar

Sampah dan Gotong Royong Wujudkan Ekonomi Sirkular

Dalam mewujudkan terciptanya transisi ekonomi linear menuju ekonomi sirkular dibutuhkan peranan segenap elemen bangsa untuk bergotong royong dan berperan aktif.

Jakarta (13/04/2021) Kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan saat ini mendorong sistem ekonomi untuk berevolusi. Bila sebelumnya sistem ekonomi bergerak secara linear yang membebankan bumi akibat terus menghasilkan sampah, kini bergulir menuju ekonomi sirkular yang mengadopsi prinsip-prinsip pemaksimalan sumber daya guna mengurangi sampah. Negara-negara dunia pun menaruh fokus untuk menargetkan tercapainya ekonomi sirkular, tak terkecuali Indonesia. Namun untuk bisa mewujudkan tercapainya ekonomi sirkular dibutuhkan peranan seluruh elemen untuk ikut bergotong royong dan bahu membahu karena dalam pelaksanaan ekonomi sirkular harus dilaksanakan dari hulu ke hilir.

Mengutip Kompas.com, berdasarkan catatan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, sampah plastik yang diproduksi di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. [A1] Dari jumlah itu, sebanyak 3,2 juta ton berakhir mencemari lautan. Seperti dilansir portal Maritim.go.id, Pemerintah Indonesia pun menargetkan pengurangan sampah plastik di laut sebanyak 70% di tahun 2025, yang diwujudkan dalam Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Plastik Laut tahun 2018-2025 dan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83/2018 tentang pengelolaan sampah laut. Tidak hanya itu, bahkan telah dibentuk Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) yang terdiri dari 16 Kementerian/Lembaga terkait demi implementasi nyata untuk penanganan sampah di laut.

Di samping itu, pemerintah pun turut menggandeng sektor non-government atau kelompok masyarakat dalam menangani pencemaran sampah di laut. Mengutip Republika.co.id, pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah mampu menghasilkan 7.000 unit bank sampah. Di mana, fasilitas itu menjangkau lebih dari 1 juta rumah tangga dalam penanganan sampah nasional. Oleh karenanya penerapan ekonomi sirkular menjadi terobosan dan pendekatan penting dalam mengatasi permasalahan lingkungan tersebut agar dampak kerusakan tak semakin parah, terutama terkait pengelolaan sampah. Pemerintah Indonesia bahkan telah memuat ekonomi sirkular dalam visi Indonesia 2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Ekonomi sirkular didefinisikan oleh World Economic Forum (WEF) sebagai prinsip untuk lebih efisien dalam mengelola sumber daya alam, mengurangi limbah produksi, dan menggunakan kembali bahan material yang sudah ada. Atau dengan kata lain, ekonomi sirkular memperpanjang dan memaksimalkan waktu pakai produk dan material hingga batas akhirnya yang mendukung regenerasi sistem alami.[A2]  Bila pola dalam ekonomi linear menganut model beli, pakai, dan buang, maka model ekonomi sirkular akan mengacu pada 3R yaitu reduce (kurangi), reuse (gunakan kembali), dan recycle (daur ulang). Bahkan menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dari 3R tersebut ditambahkan lagi dengan recovery (proses perolehan kembali) atau dan repair (melakukan perbaikan) sehingga menjadi 5R.

Di samping mengatasi persoalan lingkungan, dengan menerapkan sistem yang menghindari sampah dan memperpanjang waktu pakai material juga akan jauh lebih menguntungkan secara sosial dan ekonomi. Sehingga lebih jauh, ekonomi sirkular dapat bermanfaat mengentaskan persoalan multidimensi seperti kemiskinan dan menciptakan peluang usaha serta lapangan kerja. Menurut Kementerian PPN/Bappenas, seperti dilansir Antara, ekonomi sirkular diproyeksikan mampu menambah Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 642 triliun. Penerapan ekonomi sirkular yang berfokus pada 5 sektor industri prioritas, yaitu makanan dan minuman, tekstil, perdagangan grosir dan eceran, serta konstruksi dan elektronik, disinyalir dapat menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru hingga tahun 2030.

Namun untuk mensukseskan penerapan ekonomi sirkular dan memberikan dampak ekonomi yang nyata, berbagai pihak diperlukan untuk saling bergotong royong dan ikut berperan, mulai dari pemerintah, dunia usaha/industri, hingga masyarakat. Peran pemerintah misalnya ialah menyediakan kerangka analisis acuan dan aspek perencanaannya, meyakinkan sektor industri dan bisnis, serta mendorong kesadaran konsumen dan menguatkan keuntungan yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Adapun sektor industri dapat melahirkan inovasi bisnis maupun inovasi produk yang dirancang dengan menggunakan komponen atau material yang dapat digunakan kembali dan tahan lama. Di tanah air misalnya, lahir inovasi bioplastik berbahan singkong sebagai pengganti kemasan plastik sekali pakai, aspal berbahan limbah plastik, hingga pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar mesin diesel.

Sedangkan masyarakat pun sebagai pengguna produk berperan untuk meningkatkan kesadaran dan merubah perilaku konsumsi yang lebih bijak dan mendukung pelestarian lingkungan. Misalnya, memilih produk yang lebih berkualitas, tahan lama, dan dapat didaur ulang, serta memperbaiki atau mendayagunakan ulang barang yang rusak alih-alih membeli yang baru. Masyarakat juga bisa ikut berperan dalam menciptakan ekosistem ekonomi sirkular, dimulai dari langkah kecil seperti membantu memperbaiki pengelolaan sampah plastik. Ingat, apa yang dibeli masyarakat berdampak pula pada apa yang disediakan pasar, sehingga masyarakat memiliki kekuatan dan peran yang sangat besar untuk berkontribusi terhadap terwujudnya ekonomi sirkular. Proses peralihan menuju ekonomi sirkular tidaklah mudah, namun bila seluruh elemen bangsa bergotong royong dan berperan aktif kita pun dapat bersama-sama mewujudkannya menjadi nyata. #AyoBerubah

Sumber Foto:

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4374539/upaya-menghidupkan-gerakan-ekonomi-sirkular-di-pulau-komodo

 

Referensi:

Sampahlaut.id

Nationalgeographic.grid.id, 17/02/21

Bsn.go.id, 24/06/20

Wri-indonesia.org, 30/08/20

Unilever.co.id, 18/02/21

Interregeurope.eu, 13/09/19

Retnawati, Berti Bekta. (2018, Januari 17). Bersinergi Membangun Ekonomi Sirkular. Tribun Jateng, p.2.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: