Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

GOTONG ROYONG TINGKATKAN PENDIDIKAN SAAT PANDEMI COVID-19

Dua siswa sedang belajar online di atas sebuah bangunan demi memperoleh sinyal
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

GOTONG ROYONG TINGKATKAN PENDIDIKAN SAAT PANDEMI COVID-19

Dunia pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak akibat pandemi COVID-19. Proses belajar mengajar terhambat dan akhirnya harus dialihkan dengan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), terutama daerah yang berada di zona merah.

 

Jakarta (09/05/2021) Proses pendidikan tidak boleh berhenti meski berada dalam situasi pandemi Covid-19. Pemerintah menetapkan kebijakan agar belajar dilakukan dari rumah secara daring. Ini merupakan satu-satunya solusi yang dapat dilaksanakan agar proses belajar dan mengajar dapat berjalan terus, mengingat pembelajaran secara tatap muka masih memberikan resiko penyebaran Covid-19, terutama di daerah dengan zona merah. Namun itu artinya ada perubahan dalam kebiasaan belajar-mengajar dan penggunaan teknologi. Perubahan tersebut dapat menjadi sebuah masalah selama masa transisi beradaptasi menuju era normal baru.

 

Salah satu tantangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah diperlukannya jaringan internet. Siswa sering mengalami kesulitan untuk mengakses internet, baik karena faktor ekonomi maupun geografis. Secara geografis, jaringan internet belum merata di semua wilayah. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2019-2020 Quarter 2, penetrasi internet perwilayah di Indonesia tertinggi di ada pulau Jawa (56,4%) dan Sumatera (22,1%). Sementara untuk wilayah lain, terutama di Maluku dan Papua, penetrasi internet masih sangat rendah (3,0%). Jaringan internet sangat sulit terutama di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T).

 

Menurut Muhammad Hasan Chabibie, Ketua Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin Kemendikbud), hingga Juli tahun 2020, dari 217.515 sekolah di seluruh Indonesia, masih terdapat 42.159 (19%) sekolah yang belum mendapatkan akses internet.

 

Masalah ini coba dicarikan solusinya, baik oleh pemerintah, pihak sekolah, maupun pihak lain yang berkepentingan. Pihak pemerintah, melalui Kemendikbud, membuat sejumlah kebijakan, seperti menerapkan program Belajar Dari Rumah (BDR) melalui TVRI dan materi cetak, membuat aplikasi Rumah Belajar, penyusunan modul belajar sesuai kurikulum dalam kondisi khusus, serta membolehkan dana BOS dan BOP digunakan untuk keperluan membeli pulsa, paket data atau layanan pendidikan daring berbayar.

 

Selain melalui pemerintah pusat, solusi mengatasi kendala pelaksanaan proses pendidikan juga diinisiasi oleh pemerintah daerah. Contohnya adalah “Wifi Desa” yang diinisiasi oleh Kepala Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. “Wifi Desa” merupakan wifi gratis yang diberikan kepada para siswa untuk melakukan proses belajar. Pihak sekolah kemudian berkoordinasi kepada pihak Desa untuk mengatur penjadwalan akses internet. Password wifi desa biasanya dibagikan melalui grup aplikasi Whatsapp kepada kelompok belajar sesuai jadwal. Program wifi gratis juga diberlakkan oleh sejumlah pemerintahan daerah lain di Indonesia.

 

Dunia usaha juga memberikan dukungan. Sebagai contoh seperti yang dilakukan oleh perusahaan Biznet Networks. Melalui program tanggung jawab perusahaan yang diberi tema “Biznet Free Wi-Fi Program for Education,” Biznet telah menghadirkan layanan internet gratis di beberapa sekolah. Empat sekolah di antaranya ada di Kota Malang yang mencakup MAN 1 Kota Malang, MAN 3 Kota Malang, SMA Kolese Santo Yusup dan SMA Corjesu Malang.

 

Sementara dari pihak sekolah, inisiatif datang dengan cara yang bervarasi. Sebagai contoh, Sekolah Dasar Negeri 1 Tuksongo, Temanggung, Jawa Tengah, berada di lokasi terpencil. Otomatis akses internet sangat sulit. Kepala Sekolah SDN 1 Tuksongo kemudian berinisiatif mencari solusi dengan cara “menebeng” jaringan internet dari sekolah lain yang jaraknya 1 kilometer. Lain halnya dengan inisiatif yang dilakukan SMP Negeri 1 Rembang, Jawa Tengah. Isti Chomawati, Kepala Sekolah SMPN 1 Rembang, menyatakan bahwa pihak sekolah tetap memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak memiliki gawai untuk belajar langsung di sekolah. Dengan prokes yang ketat, program ini telah berjalan sejak tahun 2020.

 

Para siswa pun mengambil inisiatif untuk mengurai berbagai kendala PJJ. Contohnya adalah Dimas Ibnu Elias, siswa SMPN 1 Rembang. Dikarenakan tidak memiliki gawai, Dimas berinisiatif untuk belajar langsung ke sekolah, meski hanya sendirian. Pihak sekolah memang membuka kesempatan kepada siswa yang tidak memiliki gawai untuk sekolah secara tatap muka.  Kegigihan untuk mendapatkan ilmu juga diperlihatkan beberapa siswa di daerah pegunungan di perbatasan Sumowono, Kabupaten Semarang-Temanggung, Jawa Tengah. Setiap hari mereka rela berjalan hingga 1 kilometer untuk mencari tempat yang dapat menjangkau sinyal agar dapat mengikuti pelajaran secara daring.



 

Sobat Revmen, contoh-contoh kasus di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak contoh lain yang menunjukan bahwa semangat gotong royong masih ada di tengah bangsa Indonesia dan tetap dapat memberikan psychological striking force (daya tonjok psikologis), yang salah satunya ditunjukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan meski di masa pandemi Covid-19. Mari kita tetap pertahankan semangat gotong royong dan turut berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. #AyoBerubah. #GotongRoyong

 

 

 

Referensi:

Achmad Safuan. (2020). Solusi Keren Atasi Kendala Belajar Daring. Available at: https://mediaindonesia.com/humaniora/331632/solusi-keren-atasi-kendala-belajar-daring. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Biznet Networks. (2020). Available at: https://www.biznetnetworks.com/foundation/blog/biznet-menghadirkan-layanan-internet-gratis-untuk-sekolah-sekolah. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Kumparan. (2020). Available at: https://kumparan.com/kumparannews/gotong-royong-majukan-pendidikan-di-tengah-pandemi-covid-19-1u1B6OEdEk4/full. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Temanggungkab.go.id. (2020). Available at: https://mediacenter.temanggungkab.go.id/berita/detail/minimnya-akses-internet-jadi-kendala-pembelajaran-daring-di-daerah-terpencil. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Wahyu Kuncoro. (2020). Gotong Royong Menyelamatkan Pendidikan di Masa Pandemi. Available at: https://www.harianbhirawa.co.id/gotong-royong-menyelamatkan-pendidikan-di-masa-pandemi/. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Yohanes Enggar Harususilo. (2020). “Wifi Desa” Praktik Baik Gotong Royong Pendidikan di Tengah Pandemi dari Riau. Available at: https://www.kompas.com/edu/read/2020/08/08/145237571/wifi-desa-praktik-baik-gotong-royong-pendidikan-di-tengah-pandemi-dari-riau?page=all. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: