Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

GODAAN PLAGIARISME MASYARAKAT AKADEMIS

Seorang pria diam-diam melakukan plagiarisme
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

GODAAN PLAGIARISME MASYARAKAT AKADEMIS

Banyak pihak yang menganggap bahwa tindak plagiarisme terjadi karena adanya masalah teknis di lapangan. Namun sebetulnya plagiarisme terjadi karena masalah yang lebih substantif, yaitu minimnya integritas.

 

Jakarta (23/04/2021) Nelson Mandela, mantan Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB), pernah menyatakan dengan lantang, “Pendidikan adalah senjata paling hebat yang dapat digunakan untuk mengubah dunia.” Ini merupakan salah satu quote paling idealis, sekaligus paling memotivasi, dalam dunia pendidikan. Semua orang tentu sepakat bahwa melalui pendidikan, manusia dapat mengubah dunia. Namun hal itu harus dilakukan dalam bingkai kejujuran.

 

Jika proses pendidikan dilakukan dengan mencontek atau plagiat, maka terdapat sebuah contrdictio in terminis (bertentangan dengan istilah itu sendiri). Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dikemukakan bahwa fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, syaratnya harus memiliki martabat. Definisi dari martabat terkait dengan harga diri dan integritas. Maka jika proses pendidikan dilakukan dengan mencontek, terdapat pertentangan istilah di dalamnya. Pendidikan haruslah didasari oleh kejujuran.

 

Namun sayangnya, pemberitaan mengenai plagiarisme (mencontek/menjiplak) di dunia pendidikan, termasuk yang menjangkiti masyarakat akademis, sudah sedemikian terbuka. Baik mahasiswa, tenaga pendidik, hingga pemimpin kampus terlibat dalam tindak plagiarisme demi memperoleh ijazah, jenjang karir, atau kepentingan lain.

 

Dalam KBBI, plagiat didefinisikan sebagai mengambil karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri. Sementara dalam Permendiknas No. 17 Tahun 2010 dikatakan bahwa plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

 

Konsekuensi seseorang melakukan plagiarisme menurut UU Sisdiknas Pasal 25 ayat (2) adalah dicabutnya gelar akademik, profesi, atau vokasi. Pasal ini diperkuat oleh (Junto) Pasal 70, lulusan yang karya ilmiahnya digunakan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) terbukti merupakan jiplakan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

 

Undang-Undang sudah mengatur ketentuan mengenai plagiarisme. Secara moral pun plagiarisme tidak dibenarkan. Namun jika belakangan ini marak aksi plagiarisme di kalangan akademisi, maka ini merupakan alarm untuk memperbaiki paradigma, sistem dan moral dalam pendidikan. Kasus dugaan plagiarisme yang pernah menimpa Fathur Rokhman, Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) tahun 2020 dan Muryanto Amin, Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 2021 menghentak banyak orang. Meski keduanya dianggap tidak terbukti melakukan plagiarisme, namun banyak pihak yang menangkap adanya sinyal-sinyal ketidakberesan dalam dunia pendidikan tinggi tanah air terkait plagiarisme.

 

Apakah Sobat Revmen pernah melakukan plagiarisme? Melakukan plagiarisme memang menggoda, karena dianggap dapat mempercepat dan mempermudah mengerjakan tugas-tugas akademik. Namun jika pernah melakukannya, hentikan hal itu sebelum menjadi kebiasaan. Sebab plagiarisme bukan solusi. Plagiarisme justru dapat merugikan diri sendiri.

 

Ada 3 tips untuk menyelesaikan tugas akademik tanpa plagiarisme. Pertama, buatlah rencana penulisan yang memudahkan, seperti menentukan tema atau judul yang sederhana, lokasi penelitian yang mudah dijangkau, serta melibatkan narasumber atau responden yang mudah dihubungi. Inti dari sebuah karya ilmiah bukan dilihat dari “keren” atau tidaknya materi tulisan, melainkan dari keaslian, sistematika, kemudahan melakukan penelitian dan apakah materi tulisan mampu memberikan perspektif baru. Kedua, harus bersedia untuk belajar teknik menulis kutipan secara benar. Ketiga, kerjakan tugas sedini mungkin. Jika tugas itu berbentuk makalah, langsung kerjakan setelah tugas diberikan. Jika tugas itu berbentuk tugas akhir (skripsi/tesis/disertasi) cicil dari jauh-jauh hari, jangan menunggu waktunya datang baru dikerjakan. Dan yang mesti selalu diingat, perjuangan selama bertahun-tahun mengenyam pendidikan akan percuma jika diakhiri melalui plagiarisme.

 

Sobat Revmen, sudah saatnya kita menjadi bagian dari masyarakat tanpa plagiarisme. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas

 

 

 

Referensi:

Kumparan.com, 02/02/21

Fridaymagazine.ae, 18/11/19

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: