Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Gereja Pancasila di Lereng Gunung Meja

Gereja Pancasila, GNRM
  • 13 Juni 2022
  • 0 Komentar

Gereja Pancasila di Lereng Gunung Meja

Sejak awal, gereja ini sudah meneguhkan nilai-nilai Pancasila di awal pembangunannya.  Selain dana, gereja  juga mendapatkan material bangunan dan tenaga dari umat lintas agama.

Jakarta (13/06/2022), Gereja Katolik Santo Donatus Boanawa terletak di Lereng Gunung Meja, Kabupaten Ende, Pulau Flores. Gereja ini menghadap ke pantai selatan Laut Flores. Di kota tua inilah, Bung Karno antara tahun 1934-1938 diasingkan dan bergumul pemikiran hingga akhirnya menghasilkan butir-butir Pancasila yang menyatukan kebhinekaan Indonesia.

Falsafah dasar negara Pancasila itulah yang akhirnya diterjemahkan lebih nyata oleh Pastor Paroki, Romo Domi Nong, Pr. Tak seperti umumnya gereja Katolik dengan  memasang gambar para kudus, Gereja St Donatus Boanawa memasang simbol lima Sila Pancasila di lisplang balkon gereja yang menghadap ke laut lepas. Simbol dasar Negara RI ini berderet dari timur ke barat.

“Pikiran ini muncul sejak awal merencanakan pembangunan gereja  tanggal 1 Februari 2020,” kata Romo Domi Nong seperti dikutip Flores.Tribunnews.com. Selama masa pengasinganya di Ende, Soekarno sangat sering berjalan dari rumah pengasingannya ke Biara Santo Yosef. Di biara, Soekarno berjumpa dengan imam misionaris Serikat Sabda Allah (SVD). Dia sering berdialog dan berdiskusi banyak hal dengan mereka.

“Apa yang didiskusikan oleh Soekarno dengan para pastor itulah yang menjadi sumbangsih atau andil dari Gereja Katolik bagi dasar negara Indonesia. Karena itu sebagai pastor di wilayah ini, ketika merencanakan pembangunan gereja, sudah mulai berpikir bahwa gereja ini tidak hanya  menunjukkan wajah Gereja Katolik, tetapi menunjukkan juga gereja di negera Indonesia. Terutama tempat di mana Soekarno menemukan pokok-pokok pikiran meletakan dasar negara,“ tutur Pastor Domi.

Diuraikan oleh Pastor Domi, gereja hadir di tengah dunia manusia dengan segala adat kebiasaanya, dan nilai budaya yang hidup masyarakat . Lebih jauh,  nilai yang hidup dalam lima sila Pancasila itu sebenarnya digali dari budaya hidup masyarakat,  kehidupan religius masyarakat, secara istimewa kehidupan masyarakat Katolik.

“Karena itu penempatan simbol-simbol Pancasila pada tampak luar Gereja Katolik mau menandakan bahwa Gereja Katolik mesti menyatu dengan masyarakat terutama nilai hidup yang dihayati oleh masyarakat itu. Masyarakat  Bangsa Indonesia yang memilih Pancasila sebagai dasar negara sebagai keyakinan dan pandangan hidup,” tegas Pastor Domi.

“Apa yang terungkap dalam lima sila Pancasila tidak berbeda jauh dengan nilia-nilai yang hidup dalam Gereja Katolik. Nilai itu sesungguhnya  diturunkan oleh Allah kepada manusia dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat dan negara,” jelasnya seraya menandaskan bahwa pemasangan simbol lima sila Pancasila ini mau menegaskan bahwa umat Katolik di Boanawa mesti menjadi umat Katolik 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.

Dukungan Lintas agama

Masih dilansir dari Tribunnews.com, bangunan gereja Katolik Santo Donatus Bhoanawa di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjadi bangunan gereja pertama di Indonesia yang dibangun menggunakan bata interlock berbahan limbah batu bara atau faba. Awalnya pembangunan gedung gereja tersebut menggunakan bata merah. Kemudian di akhir 2020, dilanjutkan menggunakan bata interlock faba, saat progres pembangunan baru mencapai 40 persen.

Sejak awal pembagunan gereja ini, juga mendapatkan dukungan berupa dana, material dan tenaga dari umat lintas agama. Bata interlock yang digunakan diproduksi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa yang di berada di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Pemanfaatan Faba menjadi bahan konstruksi bangunan, juga baru mulai dikerjakan di 2020.

Inovasi pemanfataan faba di PLTU Ropa, dikerjakan oleh PT. PLN Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores yang membawahi PLTU Ropa. Produk faba, seperti bata interlock menjadi Corporate Social Responsibility (CSR) atau sebagai tangung jawab dan kepedulian sosial PLN. Ide pemanfaatan Faba menjadi bahan konstruksi, datang dari Lambok Siregar, Manager PLN UPK Flores.

PLN UPK Flores telah melakukan uji coba di laboratorium Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Gayung bersambut, di 2021 Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan PP Nomor 22, yakni mengeluarkan Faba PLTU dari limbah B3 menjadi limbah non B3 terdaftar. Sesuai dengan amanat PP Nomor 22 ini, Faba dioptimalkan untuk pembangunan infrastruktur dan pembangunan masyarakat.

PLN juga mendukung keberlanjutan faba di tengah masyarakat dengan membentuk UMKM berbasis faba. Pada 5 Februari 2022, PLN dan dan Keuskupan Agung Ende pun meresmikan UMKM Industri Batako Berbasis faba di Ende. Dengan adanya UMKM itu, masyarakat dapat memproduksi batako standar dan menjualnya dengan harga murah untuk perputaran ekonomi masyarakat setempat.

*ps

Sumber : Flores.tribunnews.com diakses 6 Juni 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: