Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Generasi Stoberi, Super tapi Rapuh

generasi stroberi
  • 09 Maret 2022
  • 0 Komentar

Generasi Stoberi, Super tapi Rapuh

Generasi Stoberi begitu mudah berhalusinasi dan enteng mengungkapkan kegalauannya. Padahal generasi ini sangat kreatif dan cemerlang pengetahuannya.

 

Jakarta (9/03/2022), Sobat Revmen, belakangan ini di media sosial, kita  kerap disuguhi konten video atau tulisan “aku butuh healing nih”. Adapula, “lelah banget, aku butuh self reward". Bertaburan pula kata-kata work-life balance, mental health, dan sebagainya.  Fenomena itu, menurut Rhenald Kasali adalah kenyataan munculnya generasi stroberi.

Dalam bukunya Strawberry Generation, Rhenald mendefinisikannya sebagai generasi yang penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Generasi yang menginginkan perubahan besar, tetapi menuntut jalan pintas dan berbagai kemudahan. Generasi super tapi rapuh.

Ini semua imbas mudahnya melakukan self diagnose, begitu ujar Rhenald Khasali dalam akun youtubenya. Mereka mencocokkan sebuah konten medsos dengan kehidupan pribadinya, lantas merasa sama situasinya, "Eh, sama nih,aku juga depresi, butuh healing."  Hanya bermodal baca medsos lalu diagnosis sendiri tanpa lewat ahli.

Generasi stroberi awalnya diberikan kepada warga Taiwan yang lahir dari tahun 1982 dan seterusnya. Generasi yang mudah memar seperti stroberi. Istilah ini muncul dari persepsi bahwa anggota generasi ini dibesarkan dengan perlindungan berlebihan oleh orang tua mereka dan dalam lingkungan yang lebih makmur secara ekonomi.

Beberapa waktu lalu, beredar percakapan di media sosial yang (konon) kabarnya ini diucapkan oleh mahasiswa berusia 21 tahun. Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa dia mengalami persoalan-persoalan berat sehingga dia butuh healing. Dan healing-nya sangat menarik, dia butuh cuti 6 bulan libur ke Bali dan lain sebagainya.

Rhenald menanggapi dalam videonya dan juga komentar orang-orang yang menyayangkan tentang kebutuhan healing mahasiswa tersebut . “Apa iya perlu cuti sampai 6 bulan?,” ujar Rhenald. Healing tidak sesederhana itu, menurut Rhenald Kasali, healing adalah suatu proses yang diperlukan untuk mengatasi sebuah luka psikologis di masa lalu yang biasa disebut luka batin. Semacam trauma yang membutuhkan proses dan waktu untuk penyembuhannya.

Klaim butuh healing sebenarnya didasari oleh overthinking yang dialami kaum muda. Ada istilah ‘quarter life crisis’. Hal ini biasanya mulai terjadi pada usia 25 tahun. Overthinking melihat teman-temannya sudah menikah, punya anak, sukses dalam pekerjaan, punya materi lebih, dan lain-lain. Lebih-lebih banyak orang pamer capaian palsu demi konten di medsos.

 

Pendidikan dalam Keluarga

Untuk itu, sejak memiliki anak, orangtua wajib mendidik anaknya memiliki mental yang baik dan sehat. Orangtua dan anak muda pelu memperbaiki literasi. “Dunia ini kaya dengan informasi, tentu harus memvalidasi setiap kebenaran, dan perlu membaca buku dan informasi tambahan. Jangan hanya mengandalkan sumber literasi tunggal, “jelas Rhenald. Orang tua harus bisa mengajarkan memilah bacaan.

Kemudian jangan terlalu memanjakan dan menuruti kemauan anak. Bahkan hal ini dimulai ketika anak mulai tantrum saat balita, jangan terlalu mudah menyerah memenuhi kemauan anak yang merengek ingin keinginannya dikabulkan. Ciptakan suasana belajar yang fun, menyenangkan, supaya anak suka belajar dan tidak kabur ketika ketemu tekanan.

Beri anak ruang untuk memilih tantangan, jangan semua kita tentukan peran yang harus dilakukan. Didiklah anak jadi driver bukan sekadar passenger. Menurut Rhenald, anak perlu dibiasakan menghadapi tantangan. Diajar untuk menempa diri.  “Para mahasiswa yang selama di sini saya lihat manja, enggan menghadapi kesulitan, takut menghadapi situasi yang tidak menentu, ternyata bisa juga menjadi sekeras baja ketika diberi tantangan, “terang Rhenald.

 “Rupanya menghadapi beragam kesulitan, simpul-simpul syaraf berpikir manusia dipaksa bekerja lebih keras dan menjadi lebih hidup, “imbuh Rhenald. Ditambahkan, Orang tua diharapkan tidak memberi labeling yang terekam pada anak. Misal, orangtua bilang anaknya moody dan ini kemudian menempel pada si anak sampai ia dewasa. Akhirnya ia mengklaim bahwa kekurangannya moody karena si anak percaya dengan apa yang dikatakan orang tuanya sedari kecil.

Didiklah anak untuk disiplin dan jangan memaklumi kesalahan. Misal tidak dihukum ketika memecahkan gelas, tidak diberi peringatan ketika bandel. Anak juga harus dihukum pada setiap konsekuensi negatif yang dilakukan.

Sobat Revmen, selain kelemahannya tadi, generasi stoberi juga banyak sekali kelebihannya. Mereka sangat cemerlang, unik, dan lebih terbuka. Mereka kreatif. Di dalam benaknya tersimpan banyak sekali gagasan, termasuk yang paling liar sekalipun. Generasi ini lebih pintar dalam hal akademik dan wawasan. Mereka memiliki kemampuan adaptasi dan komunikasi yang bagus dalam lingkup komunitasnya. Generasi ini kebanyakan juga memiliki prestasi akademik yang bagus karena tuntutan dan motivasi lingkungan yang memadai.

Dikutip dari Kompasiana.com, menurut peneliti  dan praktisi ekologi pesisir dan Laut Aceh, Samsul Bahri , tantangan generasi stroberi terletak dari dalam dirinya sendiri yang sulit dijangkau, yakni mental. Solusi bagi para generasi ini adalah arahan dan bimbingan yang baik dari para orang tua dan senior yang lebih berpengalaman. Anak muda cenderung bersemangat dan selalu siap untuk menang, tapi mereka juga harus siap untuk sebuah kekalahan yang mungkin terjadi.

Para orang tua dan senior harus mengajarkan kepada mereka bahwa tujuan utama dari suatu proses bukanlah hasil akhir dari suatu proses, melainkan pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama menjalani proses. Dan untuk memiliki mental yang tangguh, seperti ditulis dalam bukunya, Rhenald Khasali menyebut harus merubah mental ‘passanger’ menjadi ‘driver’. ‘Fixed mindsetharus diganti dengan growth mindset. Seperti apa mental passanger dan driver itu? Lantas apa fixed mindset dan growth mindset itu? Kapan-kapan kita bahas ya sobat revmen. #ayoberubah #revolusimental

 

Reporter PS

Sumber

Kanal Youtube Rhenald Khasali diakses 5 Maret 2022

Kompasiana.com diakses 5 Maret 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: