Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Gelorakan Semangat Membaca Lewat Becak Pustaka

Perpustakaan berjalan atau becak pustaka milik Sutopo di Jogja memberikan akses buku bacaan secara gratis demi membudayakan membaca di masyarakat
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

Gelorakan Semangat Membaca Lewat Becak Pustaka

Sutopo atau yang akrab disapa Mbah Topo menyulap becaknya menjadi perpustakaan berjalan guna menggelorakan semangat membaca. Buku bacaan pun dapat dibaca dan dipinjam oleh khalayak umum secara gratis.

Jakarta (18/05/2021) Sobat Revmen, siapa di sini yang suka bosan atau malah jarang membaca buku? Minat baca masyarakat Indonesia masih terbilang rendah dan belum menjadi sebuah kegemaran. Bahkan berdasarkan data Most Littered Nation In the World oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 lalu, Indonesia menduduki peringkat kedua terbawah dari 61 negara soal minat membaca. Semangat membaca itulah yang ingin dibagikan oleh Sutopo dengan menyulap becaknya menjadi perpustakaan berjalan yang ia namakan sebagai becak pustaka. Melalui caranya yang unik itu, ia berusaha memberikan akses bahan bacaan dan menggelorakan semangat membaca agar kian membudaya di masyarakat. Yuk sobat Revmen, kita simak kisah inspiratif berikut ini, yha!

Mbah Topo yang memiliki nama panjang Fransiskus Xaverius Sutopo adalah pengayuh becak dan pegiat literasi asal Kota Yogyakarta. Namun becak yang dikayuhnya tak seperti becak kebanyakan lainnya, lho! Karena ia menyulap bagian belakang becaknya menjadi rak buku yang memuat berbagai buku bacaan. Koleksi buku yang tertata rapi itu pun kini mencapai sekitar 100 dan terdiri dari beragam kategori, mulai dari pendidikan, sastra, ekonomi, sejarah, sosial-budaya, komik, biografi tokoh terkenal, hingga buku rohani. Tak hanya itu, Mbah Topo juga membawa sejumlah koran dari beberapa surat kabar lokal maupun nasional di atas becak pustakanya yang  biasa mangkal di  Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta.

Pria berusia 74 tahun itu mempersilahkan penumpang yang menaiki becaknya, maupun orang-orang di jalan lainnya untuk membaca buku di becak pustakanya tersebut secara gratis. Pembacanya pun beragam mulai dari mahasiswa, pemulung, pedagang pasar, hingga sesama penarik becak. Menurut pria berkacamata itu keberadaan becak pustaka dapat menjadi wadah bagi mereka yang sulit mengakses buku bacaan, khususnya ‘orang kecil’ di jalanan yang tak mampu membeli buku ataupun sungkan mengunjungi perpustakaan dengan gedungnya yang megah.

Mbah Topo pun mempersilahkan koleksi bukunya untuk dipinjam gratis dan dibawa pulang. Ia membebaskan jumlah buku yang ingin dipinjam, mau di baca di mana saja, dan sampai kapan dipinjamnya. Warga Jetis ini mengaku hanya ingin melayani dan memberi akses bacaan kepada masyarakat secara mudah dan gratis. Bahkan Mbah Topo mengikhlaskan bila terkadang buku-buku koleksinya tersebut tidak kembali setelah dipinjam. Ia justru menuturkan bahwa dengan meminjamkan buku tersebut sekaligus dapat mendidik karakter masyarakat untuk berlaku jujur dan menjadi lebih baik. 

Ide untuk membuat becak pustaka berangkat dari kegemarannya membaca buku sejak masih duduk di bangku sekolah. Setelah pensiun sebagai PNS dari Kodim 0734 Yogyakarta pada 2003, Mbah Topo memutuskan untuk menarik becak supaya memiliki kegiatan dan terus bergerak agar tetap sehat. Kegemarannya membaca buku pun tak hilang, justru waktu kosong ketika menunggu penumpang dimanfaatkan Mbah Topo dengan membaca buku. Hingga pada 2017, barulah ia mengubah becaknya menjadi perpustakaan setelah salah seorang pelanggannya memberikan sumbangan puluhan buku. Setelah berhasil merancang sendiri becak pustaka, Mbah Topo kerap mendapat sumbangan buku-buku bahkan ia pernah diundang dan diberikan sumbangan buku-buku oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta dan salah satu penerbit di Yogyakarta. 

Dari becak pustakanya tersebut pula Mbah Topo meraih sejumlah penghargaan, seperti penghargaan lomba desain becak kayuh tahun 2017 dari Dinas Perhubungan DIY, lomba karnaval literasi dari PT Gramedia tahun 2017, hingga mendapat penghargaan dari Dinas Pendidikan Yogyakarta sebagai Pegiat Literasi Kota Yogyakarta untuk tahun 2019-2020. Mbah Topo bahkan mendapatkan becak listrik oleh PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) untuk menggantikan becak sebelumnya yang masih dikayuh. Wah, keren banget enggak sih sobat Revmen? Apa yang dilakukan Mbah Topo untuk menyebarkan semangat membaca lewat becak pustakanya termasuk ke dalam salah satu wujud nyata revolusi mental yaitu Indonesia Melayani , lho!

Di usia senjanya, Mbah Topo mengaku prihatin melihat generasi muda yang saat ini lebih gemar bermain gawai dan sosial media ketimbang membaca buku. Padahal menurutnya buku sangat bermanfaat karena menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Oleh karenanya meneladani Mbah Topo yang masih terus giat membaca dan semangatnya dalam menggelorakan semangat baca lewat becak pustaka, kita pun sebagai generasi muda jangan mau ketinggalan yha! Sebagaimana nasihat Mbah Topo bahwa “Membaca itu tidak ada terlambatnya, sampai akhir hayat selama kita mampu melihat”, yuk sobat Revmen kita jadikan membaca buku sebagai kegemaran hingga akhirnya membudaya di Indonesia!

 

Sumber Foto:

https://www.brilio.net/foto/view/video/2019/03/06/160437/1001064-1000xauto-becak-sutopo.jpg

 

Referensi:

Bbc.com, 28/01/21

Gudeg.net, 27/11/20

Regional.kompas.com, 13/07/17

Hidupkatolik.com, 01/10/19

Brilio.net, 06/03/19

Ruangguru.com, 17/05/19

Kumparan.com, 03/03/19

Mediaindonesia.com, 24/03/21

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: