Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

GAYA HIDUP MINIM SAMPAH

Peralatan gaya hidup minim sampah
  • 28 September 2021
  • 0 Komentar

GAYA HIDUP MINIM SAMPAH

Gaya hidup minim sampah adalah gaya hidup untuk mengurangi barang-barang yang kelak dapat menjadi sampah. Misalnya saat berbelanja atau jajan fast food, para penganut gaya hidup ini akan membawa kantong sendiri dari rumah, supaya tidak membeli kantong plastik di kasir.

 

Jakarta (18/09/2021) Isu lingkungan hidup ternyata dapat menginspirasi masyarakat untuk membangun sebuah gaya hidup. Sebut saja gaya hidup nol sampah (zero waste lifestyle) yang belakangan ini semakin diminati oleh generasi Milenial dan generasi Z di Indonesia. Para penganut gaya hidup ini berpendirian bahwa hidup yang baik, yang sehat dan yang peduli pada bumi adalah gaya hidup yang minim sampah.

 

Apa sih yang dimaksud dengan gaya hidup minim sampah? Bukankah kita tidak bisa lepas dari sampah dalam keseharian kita? Gaya hidup minim sampah adalah gaya hidup untuk mengurangi barang-barang yang kelak dapat menjadi sampah. Misalnya saat berbelanja, para penganut gaya hidup ini akan membawa kantong sendiri dari rumah, supaya tidak membeli kantong plastik di kasir. Hal ini membuat mereka telah mengurangi satu jenis sampah yang mungkin seharusnya mereka produksi. Jika bepergian, mereka membawa bekal makan dan minuman sendiri dari rumah, agar mereka tidak memproduksi sampah makanan dan minuman beserta alat makannya. Apalagi jika makanan dan minuman yang mereka beli dilakukan dengan cara take away (pesanan dibawa pulang), yang dapat menciptakan beberapa jenis sampah sekaligus; styrofoam untuk tempat makanan, gelas plastik untuk tempat minuman dan sedotan untuk minum.

 

Gaya hidup ini dapat memberi dampak positif yang besar dalam mengurangi sampah di Indonesia yang setiap tahun terus bertambah. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2019 Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah. Lalu pada tahun 2020 produksi sampah nasional naik menjadi 67,8 juta ton. Jika kita mengkalkulasi produksi sampah pada tahun 2020 ini, maka ada sekitar 185.753 ton sampah yang diproduksi setiap hari oleh 270 juta penduduk Indonesia. Itu artinya, setiap satu orang penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram perhari. Sobat Revmen tentu sudah mengetahui bahwa sampah yang tidak terurus dengan baik dapat menurunkan kualitas lingkungan dan berbahaya bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.

 

Sampah dapat menyebabkan lingkungan menjadi kotor, banjir, terjadinya polusi laut, polusi udara, polusi tanah dan memberi dampak pada kesehatan. Dampak kesehatan yang mungkin muncul akibat sampah mencakup kanker, diare, disentri, jamur, kolera dan berbagai penyakit kulit. Kerusakan tanah dapat terjadi akibat sampah karena proses penguraian sampah secara alami membutuhkan waktu yang lama. Menurut TheBalance, sampah kertas akan terurai dalam waktu 2-6 minggu, sampah kulit jeruk terurai dalam 6 bulan, karton susu terurai dalam 5 tahun, kaleng makanan terurai dalam waktu 50 tahun, baterai terurai dalam waktu 100 tahun, diapers/popok sekali pakai terurai dalam waktu 250-500 tahun, sampah plastik baru terurai dalam waktu hingga 1.000 tahun dan sampah gelas membutuhkan 1 juta tahun untuk terurai, bahkan ada kalanya gelas tidak bisa terurai sama sekali.

 

Nah, gaya hidup minim sampah menjadi salah satu solusi positif untuk ditempuh secara bergotong royong. Ada lima prinsip yang harus Sobat Revmen lakukan jika ingin hidup dengan zero waste lifestyle, yaitu refuse (menolak penggunaan bahan sekali pakai), reduce (mengurangi penggunaan bahan sekali pakai), reuse (menggunakan kembali bahan yang sudah tak terpakai), recycle (mendaur ulang sampah menjadi produk baru), dan rot (melakukan kompos).

 

Selain melalui 5 prinsip tersebut, gaya hidup minim sampah juga dapat dilakukan melalui cara-cara berikut. Pertama, berbelanja sesuai kebutuhan. Ketika berbelanja, usahakan pula untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai. Kedua, ganti penggunaan produk sekali pakai, seperti tisu, diapers, botol plastik atau sedotan plastik dengan produk yang tahan lama, seperti kain, botol kaca atau sedotan stainless steel.

 

Ketiga, bawa tempat makan atau minum sendiri dan hindari membeli makanan dan minuman take away karena akan menghasilkan banyak sampah. Keempat, bawa tumbler sendiri saat ingin hang-out, khususnya ke kafe atau resto. Kelima, kelola sampah dengan baik. Pilah dan bersihkan sampah sebelum dibuang.

 

Sobat Revmen, mari kita lakukan perubahan-perubahan kecil dalam sikap sehari-hari dengan menerapkan tips di atas. Kita harus sadar betul bahwa kita tinggal di bumi dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Mari kita jaga kebersihan sungai, laut, hutan dan lingkungan sekitar dengan cara menjalani hidup minim sampah. #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersih #GotongRoyong #SelamatkanLingkungan #GenerasiInovatif

 

Referensi:

Indonesia.go.id. (2021). Diakses tanggal 27 Agustus 2021.

Kompas.com. (2020). Diakses tanggal 27 Agustus 2021.

Thebalancemb.com. (2021). Diakses tanggal 27 Agustus 2021.

Bisnis.com. (2020). Diakses tanggal 27 Agustus 2020.

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: