Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

ETIKA MENYAMPAIKAN KRITIK SOSIAL MELALUI MEDIA SOSIAL

Simbol tangan sedang mengakses media sosial melalui smartphone
  • 28 Juli 2021
  • 0 Komentar

ETIKA MENYAMPAIKAN KRITIK SOSIAL MELALUI MEDIA SOSIAL

Mengkritik memerlukan ilmu, pertimbangan dan klarifikasi (kroscek), sehingga tidak terjerumus yang berujung pada pidana. Melalui asumsi ini, kritik sama dengan dialog untuk melakukan perbaikan-perbaikan atau pembaharuan.

 

Jakarta (19/07/2021) Sebelum era internet muncul seperti sekarang ini, orang menyampaikan kritik melalui berbagai media terpisah. Misalnya Iwan Fals menyampaikannya melalui lagu dan dapat disimak melalui media kaset atau radio. Taufik Ismail menyampaikan kritik melalui puisi dan dapat disimak melalui media koran, majalah, buku atau televisi. Para pelukis menyampaikan kritik lewat lukisan dan dapat disimak melalui media kanvas atau televisi, koran dan radio. Sementara para akademisi dan praktisi menyampaikan kritik melalui forum-forum tatap muka atau melalui media televisi, koran dan radio.

 

Sejak dahulu orang merasa perlu melakukan kritik sosial, baik ditujukan kepada masyarakat itu sendiri atau kepada pemerintah yang berkuasa. Tujuannya bukan untuk menghancurkan masyarakat atau melengserkan pemerintah, melainkan untuk memurnikan (purify) atau menebus (redeem) segala nilai, kebijakan dan aturan-aturan yang dianggap telah menyimpang. Para “kritikus” merasa tidak bisa tinggal diam atau bersikap acuh tak acuh terhadap kondisi yang mereka hadapi, terutama ketika mereka melihat ketidakadilan dipraktikkan dalam kehidupan. Para kritikus menolak untuk bersikap apatis sambil memerintah jiwa mereka, mengutip puisi Alfred Edward Houseman, “Be still, my soul, be still.” (Diamlah jiwaku, diamlah).

 

Namun kritik tidak dapat disampaikan secara sembarangan. Ada aturan atau etikanya. Para public figure (tokoh masyarakat) biasanya menyampaikan kritik secara konstruktif. Artinya, kritik disampaikan untuk perbaikan agar sesuatu yang dikritik dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Mengkritik memerlukan adanya ilmu, pertimbangan dan klarifikasi (kroscek), sehingga tidak terjerumus yang berujung pada pidana. Melalui asumsi ini, kritik sama dengan dialog untuk melakukan perbaikan-perbaikan atau pembaharuan. Karena tujuannya adalah untuk melakukan perbaikan atau pembaharuan, maka dialog yang dilakukan tidak menggunakan cara-cara kekerasan, kebencian, kekasaran, kebohongan, pencemaran nama baik atau sumpah serapah. Kritik mesti berada di antara perpaduan rasio dan emosi yang seimbang.

 

Berdasarkan konstitusi, menyampaikan pendapat di muka umum dijamin dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang berbunyi: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang.”

 

Namun sayangnya para era sekarang, di mana teknologi komunikasi dan internet berkembang sangat pesat, masyarakat mengalami “ledakan emansipasi” dan menganggap media sosial sebagai ruang untuk mengekspresikan kebebasan pendapat sebebas-bebasnya. Ada sebagian masyarakat yang melakukan kritik secara konstruktif dan beretika, namun ada sebagian yang lain menyampaikan kritik tidak pada pakem yang benar. Bahkan bagi golongan kedua ini yang disampaikan bukanlah kritik, melainkan lebih mirip ujaran kebencian, provokasi dan bahkan menjurus pada fitnah serta pencemaran nama baik.

 

Media sosial telah membuka ruang yang sebebasnya bagi siapapun, tanpa terkecuali. Maka yang mengerti etika dan yang tidak, dapat menggunakannya. Agar tidak terjerumus pada tindakan pidana, sebelum menyampaikan kritik perlu memahami etika yang dianggap sahih. Menurut Abdul Azis, setidaknya ada tiga etika yang harus dipegang saat melakukan kritik.

 

Pertama, ketika berniat memberikan kritik maka harus siap dengan solusi dan saran yang membangun. Jika tidak punya solusi atau saran atas kritik yang telah disampaikan, itu sama saja dengan bullshit (omong kosong). Kritik yang demikian lebih banyak dampak negatifnya baik bagi pengkritik maupun yang di kritik. Dan bisa jadi akan timbul perselisihan di antara keduanya.

 

Kedua, sampaikan kritik secara objektif. Mengedepankan objektivitas dalam memberikan kritik adalah bukti kejujuran kita dalam mengkritik. Katakan benar jika memang benar, dan katakan salah jika memang itu salah, bukan sebaliknya. Jangan karena berasal dari kelompok yang berbeda, lalu kita mengkritik sekedar untuk mencari-cari kesalahan orang lain agar citranya atau nama baiknya jatuh di muka umum.

 

Ketiga, lembut dan santun. Sampaikan kritik secara lembut dan santun, sehingga kritik yang disampaikan akan mudah diterima dibanding mengkritik dengan sikap memaksa dan kasar, karena orang yang dikritik tidak merasa dipaksa untuk menerima kritik tersebut. Lagi pula, kritik yang disampaikan secara kasar dapat dijadikan sebagai barang bukti untuk mengadukan kritik tersebut ke arah pidana. Ingat, Indonesia memiliki UU ITE dan polisi siber yang dapat menindak segala hal menyimpang yang terjadi di media sosial.

 

Sobat Revmen, sebagai bagian dari bangsa yang besar, kita perlu menyampaikan kritik dengan tujuan untuk mendapatkan perubahan dan perbaikan-perbaikan bagi bangsa ini di masa mendatang. Namun kritik perlu disampaikan sesuai kapasitas ilmu yang kita miliki dan harus berdasarkan etika yang berlaku secara umum. Pencemaran nama baik, hoaks, provokasi atau fitnah tidak termasuk ke dalam kegiatan mengkritik. Maka berhati-hatilah dalam membedakannya, sehingga kita tidak melanggar hak orang lain dan hukum. Dan yang harus sama-sama kita pahami juga adalah, Gerakan Indonesia Tertib bukan hanya berlaku di ruang nyata, melainkan juga di ruang maya. Dengan tertib di dunia nyata dan maya, secara otomatis kita telah menjaga nama baik diri sendiri atau nama baik institusi yang kita wakili. #AyoBerubah #KritikKonstruktif #HakWargaNegara

 

 

Referensi:

News.okezone.com. (2015). Diakses tanggal 28 Juni 2021.

Abdul Azis. (2021). Diakses tanggal 28 Juni 2021.

Mediaindonesia.com. (2021). Diakses tanggal 28 Juni 2021.

 

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: