Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Esti Asih: Rumah Cangkang Bambu, Tahan Gempa

tokohinspiratif, bambu, kearifan lokal
  • 10 Mei 2022
  • 0 Komentar

Esti Asih: Rumah Cangkang Bambu, Tahan Gempa

Rumah bambu dengan pemodelan cangkang sangat cocok untuk daerah rawan gempa. Kearifan lokal banyak memberi contoh tradisi agar rumah bambu awet.

Jakarta (10/05/2022), Bambu sudah dikenal sebagai bahan bangunan sederhana. Di tangan Esti Asih Nurdiah, dosen Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, bambu bisa menjadi bahan bangunan yang besar sekali ukurannya dengan struktur shell atau bisa disebut cangkang. Hal ini tercermin lewat penelitiannya di The University of Sheffield-United Kingdom, dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia.

“Saya memang tertarik dengan bambu. Dan bambu di Indonesia ini semakin menarik hati saya untuk diteliti sebab dalam dunia arsitektur masih jarang yang meneliti secara khusus seberapa dalam kurva lengkungan yang bisa dibuat oleh bambu menjadi struktur gridshell tanpa melukai batangnya, “urai Esti seperti dikutip beritajatim.com.

Esti pun harus terbang kembali ke tanah air untuk menguji material dan pembangunan modelnya. “Kampus menjadi tempat uji bambu thesis doctoral saya, dan saya bekerja sama dengan Sahabat Bambu sebagai penyedia material bambu dan tukang ahli bambu, ”ungkap wanita yang sangat perhatian terhadap konstruksi rumah tradisional ini.

Esti telah membuat dua model bangunan yaitu struktur cangkang yang kini telah didirikan di area kampus Timur UK Petra. Model bangunan yang didirikan yang pertama berukuran 10.80 x 10.80 meter dengan bahan bambu bulat. Sedangkan model kedua berukuran 8.40 x 8.40 meter dengan bahan bambu bilah.

Pemodelan cangkang, menurut Esti, mudah dibuat dan sangat cocok di Indonesia yang banyak terjadi gempa. Untuk masyarakat yang mengungsi, dapat menggunakan model ini. “Untuk mendirikan, menjalin, memotong bilah, butuh dua hari. Sedangkan mendirikannya cuma butuh dua jam, “tutur Esti seperti dikutip Mongabay.co.id

Belajar dari masyarakat tradisional, Esti menyebut, dua cara merawat rumah berbahan bambu agar awet. Pertama, sebelum bambu disusun menjadi material bangunan, rendam dahulu di sungai. Di bambu terdapat sari pati atau starch bebentuk tepung, dengan direndam starch akan larut, sehingga tidak dimakan rayap.

Kedua, dengan cara mengasapi dari bakaran tungku atau pawon. Fungsinya, mengusir serangga yang ada di material bambu. Ini banyak dilakukan masyarakat di pedesaan. Bila dilakukan dengan benar dan dirawat, usia bangunan dapat mencapai 20 tahun atau lebih. “Asap yang keluar dari tungku memasak, otomatis mengusir serangga yang ada di atas atap atau struktur bambu,” terangnya.

Kini Esti yang dibantu oleh para mahasiswa prodi Arsitektur itu memasuki proses pembebanan untuk melihat sampai mana kekuatan bambu yang dibentuk menjadi struktur gridshell. Bambu yang tumbuh di tanah air ini jenisnya sangat banyak. Esti menggunakan bambu jenis apus (Gigantochloa apus) dan bambu petung (Dendrocalamus asper).

Esti menyebut hanya dalam waktu tiga hingga lima tahun, bambu  bisa dipanen. Jika ingin bertahan lama maka harus melalui proses pengawetan terlebih dahulu. Proses pengawetan ini untuk membunuh serangga dan jamur yang biasanya membuat bambu ini menjadi tak bertahan lama.

Dilansir dari sahabatbambu.com, ada lebih dari 1.500 spesies bambu di seluruh dunia. Di Indonesia juga ditemukan lebih dari 100 jenis bambu yang hampir seluruhnya dapat dimanfaatkan. Disebutkan juga, jenis-jenis bambu tertentu memiliki kekuatan regang (tensile) hingga 28.000 per inci, dibandingkan dengan baja yang memiliki tensil 23.000 per inci.

Menurut Esti, bambu dapat digunakan untuk bangunan tipe rendah dan menengah. Tipe rendah yaitu bangunan 3 sampai 4 lantai, sedangkan tipe sedang mencapai 10 lantai. “Di Bali, bangunan 3-4 lantai sudah ada yang memakai bambu, “urainya seraya menyebut pentingnya revitalisasi pembelajaran konstruksi maupun arsitektur bambu.

“Masyarakat juga perlu memahami pentingnya menanam bambu bagi lingkungan, seperti menahan longsor di lahan miring, menyerap air, serta menyerap karbon di udara. Bambu juga sustainable. Bila dibongkar dan material bambu diletakkan di tanah, akan mudah terurai, ”pungkas Esti. #Revolusimental #Ayoberubah

*PS

Sumber :

Beritajatim.com diakses 9 Mei 2022

Mongabay.co.id diakses 9 Mei 2022

Sahabatbambu.com diakses 10 Mei 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: