Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

ENDE DAN JEJAK PERUMUSAN PANCASILA

Rumah Pengasingan Soekarno Sekaligus Tempat Perenungan Pancasila
  • 09 Maret 2021
  • 0 Komentar

ENDE DAN JEJAK PERUMUSAN PANCASILA

Sejarah lahirnya Pancasila tidak bisa dilepaskan dari sosok Soekarno. Di bawah pohon sukun, di sebuah daerah bernama Ende, Soekarno pertama kali merenung dan merumuskan Pancasila.

 

Jakarta (22/02/2021) Keindahan Danau Kelimutu, Pantai Batu Biru, atau keunikan budaya tenun Zawo bisa didapatkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain keindahan alam dan keunikan budaya, Ende juga memiliki sejarah menarik terkait perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah mencatat bahwa di Ende Soekarno pernah diasingkan oleh Belanda pada tahun 1934-1939. Pengasingan yang justru membuat Soekarno menelurkan gagasan mengenai Pancasila.

 

Saat diasingkan, Soekarno menempati rumah milik  Abdullah Ambuwawu, di Jalan Perwira, Ende Utara. Di sekitar lokasi, terdapat sebuah taman. Di taman inilah Soekarno mulai menggagas butir-butir Pancasila. Butir-butir ini yang nantinya diusulkan oleh Soekarno pada Sidang Pertama BPUPKI saat merumuskan falsafah negara Indonesia bersama Mohammad Hatta, Soepomo, Mohammad Yamin dan KH. Abdul Wachid Hasyim. Butir-butir tersebut disebut oleh Soekarno dengan nama Pancasila. Pancasila versi pertama memuat lima asas yang berisi Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Prikemanusiaan, Persatuan dan Kesatuan, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Bukan hanya di hadapan BPUPKI, Soekarno juga menyampaikan Pancasila di depan Kongres Amerika Serikat pada tahun 1956. Pidato Soekarno mengenai Pancasila mendapatkan sambutan yang meriah dari anggota Kongres AS.  Tahun 1960, Soekarno kembali menyampaikan Pancasila kepada dunia. Sekali ini dihadapan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

 

Bagi Soekarno, Pancasila adalah kumpulan nilai-nilai luhur milik bangsa Indonesia. Namun, meski lahir dari bumi Indonesia, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dapat diterima secara universal. Soekarno menyatakan, “Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanya menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir yang indah.”