Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Eklin Amtor de Fretes: Rajut Perdamaian di Daerah Bekas Konflik dengan Berdongeng

Eklin Amtor de Fretes berdongeng keliling untuk mengajarkan nilai toleransi dan perdamaian untuk anak-anak di daerah bekas konflik
  • 27 November 2021
  • 0 Komentar

Eklin Amtor de Fretes: Rajut Perdamaian di Daerah Bekas Konflik dengan Berdongeng

Eklin Amtor de Fretes berupaya menjait kembali perdamaian dan toleransi di daerah bekas konflik Ambon, melalui metode dongeng yang menyenangkan untuk anak-anak.

 

Jakarta (27/11/2021) Sobat Revmen, konflik sosial bernuansa SARA pecah di Kota Ambon dan meluas ke pelosok Maluku pada 1999 silam. Konflik berdarah tersebut menyebabkan masyarakat Ambon hidup terpecah dan terkotak-kotak berdasarkan kelompok dan golongan. Meski telah dua dekade berlalu, memori akan konflik horizontal tersebut kerap menyisakan masyarakat yang hidup di daerah bekas konflik dibayangi rasa takut, curiga, dan prasangka. Adalah Eklin Amtor de Fretes, pemuda berusia 30 tahun yang berupaya menyemai nilai-nilai perdamaian dan toleransi untuk anak Maluku dengan cara berdongeng keliling. Yuk sobat Revmen, kita simak lebih jauh kisah dari sosok inspiratif berikut ini!

 

Pria yang lahir di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, ini menyambangi satu komunitas ke komunitas lain di kepulauan Maluku untuk menebarkan pesan perdamaian melalui dongeng sejak 2017 lalu. Inisiatif berdongeng keliling justru berawal dari Eklin yang lebih dulu membentuk Youth Interfaith Peace Camp (YIPC), sebuah forum untuk berdiskusi dan menumbuhkan rasa toleransi antar pemuda lintas agama di Maluku. Mulai dari, pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, hingga kepercayaan lokal Suku Nuaulu. Lebih lanjut, Eklin melihat bahwa dampak dari konflik ternyata tidak saja terasa pada kaum pemuda namun juga anak-anak di Maluku. Dari situlah ia kemudian berinisiatif untuk menjadi pendongeng anak dengan menggagas Dongeng Damai.  

 

Dalam menyampaikan dongengnya, Eklin menggunakan teknik ventriloquist (seni suara perut) dengan bantuan boneka yang dinamakan Dodi ___ akronim dari Dongeng Damai. Lewat caranya tersebut, dongeng yang disampaikannya pun menjadi semakin menarik sekaligus mudah ditangkap oleh anak-anak. Dongeng yang bercerita tentang perdamaian dan toleransi tersebut, menurut Eklin dapat menjadi narasi tandingan dari cerita-cerita kelam masa lalu bermuatan kebencian dan perbedaan yang kerap diterima oleh anak-anak di daerah bekas konflik. Eklin mengaku kemampuan mendongengnya tersebut dipelajari secara otodidak lewat platform media sosial, seperti YouTube. Wah, inspiratif sekali bukan, sobat Revmen?

 

Meski bermaksud positif untuk membawa pesan kedamaian dan toleransi, ternyata ketika berdongeng keliling Eklin sempat mengalami penolakan dari warga. Eklin yang merupakan seorang lulusan sekolah teologi dan berstatus pendeta itu sempat ditolak warga karena dicurigai berniat melakukan misi kristenisasi ketika mendatangi sebuah desa. Namun Eklin tak patah semangat hingga akhirnya menerima banyak respon yang positif dari masyarakat. Tentara dan polisi yang melihat kegiatannya justru kemudian membantu memfasilitasi Eklin untuk mengumpulkan anak-anak. Ketika berdongeng keliling tersebut pula ia dibantu oleh tim relawan Jalan Merawat Perdamaian (JMP) yang merupakan kelompok lintas keyakinan. 

 

Tak hanya mendongeng ke beberapa wilayah Maluku, Eklin bahkan juga sempat diminta untuk mengisi dongeng ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Makassar. Di mana ia tak melulu mendongeng untuk anak-anak di daerah konflik, namun mereka yang berada di lokasi bencana alam maupun ruang rawat anak di rumah sakit. Untuk lebih memberikan pendidikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi, Eklin lantas mendirikan Rumah Dongeng Damai pada tahun 2019 ___ yang dalam kegiatannya kerap diisi oleh para alumni dari Youth Interfaith Peace Camp. Selain tersedia beragam buku cerita maupun boneka-boneka, Rumah Dongeng Damai juga menjadi tempat belajar Bahasa Inggris, Bahasa Jerman hingga kesenian. Di samping menjadi tempat belajar untuk berdongeng, Rumah Dongeng Damai pun menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi masyarakat lintas agama.

 

Berkat kontribusi positifnya dalam menepis segregasi wilayah itu, Eklin akhirnya mendapat penghargaan dari Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards Tahun 2020, sebagai sosok muda inspiratif penerima apresiasi Bidang Pendidikan. Selain itu, apa yang diinisiasi oleh Eklin dalam menebarkan semangat perdamaian dan toleransi melalui dongeng juga menjadi wujud aksi nyata dari Gerakan Indonesia Bersatu, lho! Yuk sobat Revmen, kita tiru semangat Eklin untuk terus merawat persatuan bangsa dengan menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian lewat berbagai medium lainnya! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersatu

 

 

Sumber Foto:

https://rri.co.id/sorong/1692-feature/952172/pemuda-inspiratif-dari-dongeng-perdamaian-hingga-cegah-stunting

 

Referensi:

Indonesia.go.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Goodnewsfromindonesia.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

Kumparan.com. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.  

Rri.co.id. (2021). Diakses tanggal 4 November 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: