Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

DON’T SAY YES WHEN YOU WANT TO SAY NO

Seorang wanita frustasi karena menjadi Doormat
  • 06 April 2021
  • 0 Komentar

DON’T SAY YES WHEN YOU WANT TO SAY NO

Seringkali karena merasa “tidak enak” seseorang akhirnya melakukan perbuatan yang tidak disukainya. Sikap ini dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Secara psikologis, sikap “tidak enakan” dapat memicu lahirnya rasa rendah diri, frustasi dan ketidakujuran. Diperlukan dua hal untuk mengatasinya, yaitu berani mengatakan “tidak” dan memupuk integritas.

 

Jakarta (08/03/21) Dalam istilah psikologi, orang yang “tidak enakan” disebut sebagai people-pleaser atau doormat personality disorder, yakni tipe orang yang memiliki mentalitas untuk melakukan apapun yang orang lain minta. Mereka rela menjadi “bantal” atau “keset” orang lain, meski sadar bahwa ada konsekuensi yang kelak muncul pada dirinya, yaitu mereka menjadi lebih sibuk, stress, sulit mengambil keputusan, suka membohongi diri sendiri dan sering kehilangan fokus. Doormat personality disorder tidak berkaitan dengan nilai kesetiakawanan atau solidaritas, sebab orang yang “tidak enakan” berposisi sebagai pihak yang dirugikan, sementara orang lain diuntungkan.

 

Umumnya, pengidap doormat personality disorder kerap mengatakan “ya” meskipun mereka sebenarnya ingin mengatakan “tidak.” Mereka sadar bahwa mereka tidak suka melakukan apa yang orang lain katakan, namun tidak kuasa untuk menolaknya. Penolakan terbaik yang bisa dilakukannya hanya mengeluh di dalam hati.

 

Ada tiga penyebab utama kenapa seseorang mengidap doormat personality disorder. Pertama, dibentuk oleh lingkungan sejak kecil. Orang tua dan lingkungan sering memerintah anak tanpa pernah mendorong anak untuk melakukan apa yang menurutnya baik. Hal ini akan membentuk mental anak menjadi “penurut semu.” Anak kehilangan jati dirinya dan bersedia menuruti setiap ucapan yang diberikan orang lain.

 

Kedua, ada kekosongan atau lack dalam dirinya sehingga mereka tidak percaya diri untuk melakukan apa yang menurut mereka benar. Kekosongan itu kemudian coba dicarikan pembenarannya dengan cara menyenangkan orang lain.

 

Ketiga, adanya tradisi yang menuntut “kepatuhan absolut” sehingga seseorang tidak dapat menolak untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan tradisi. Kondisi ini kemudian akan terbentuk menjadi sikap setelah melakukan pembiasaan secara rutin.

 

Ada dua cara untuk melepaskan seseorang dari sikap doormat personality disorder. Pertama, menguatkan dan mendukung orang itu untuk berani menolak atau mengatakan tidak. Kata “tidak” memiliki kekuatan untuk menanamkan rasa percaya diri pada diri seseorang. Secara internal, orang yang bersangkutan perlu membiasakan dirinya sendiri untuk berani mengatakan “tidak” pada orang lain. Ini merupakan bentuk lain dari keberanian dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.

 

Kedua, menumbuhkan integritas. Integritas adalah sikap konsisten terhadap prinsip-prinsip kebaikan. Ada keselarasan antara ucapan, perasaan dan perbuatan. Melalui integritas, seseorang memiliki tolak ukur bahwa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan kata hati dan kebenaran.

 

Herbert Fensterheim, penulis buku best seller “Don’t Say Yes When You Want To Say No” terbitan Dell Publication tahun 1975, mengatakan secara gamblang bahwa mengetahui apa yang kamu pikirkan saja tidaklah cukup, kamu harus mengekspresikannya secara nyata.

 

Sobat Revmen, mari tumbuhkan rasa percaya diri, keberanian untuk mengatakan “tidak” pada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak mudah mengatakan “iya” sebelum melakukan klarifikasi dan melihat konsekuensinya, serta gemar memupuk integritas demi menjadi individu dan bangsa yang unggul dan mandiri. #AyoBerubah

 

 

Referensi:

Psychologytoday.com, 01/05/08

Femina.co.id, 13/06/16

Klikdokter.com, 27/04/19

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: