Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Dirikan Perpustakaan Pohon, Hanif Wicaksono Budidayakan Tanaman Buah Langka Kalimantan

Hanif Wicaksono melestarikan tanaman buah khas Kalimantan dengan mendirikan Tunas Meratus dan perpustakaan pohon (arboretum)
  • 27 November 2021
  • 0 Komentar

Dirikan Perpustakaan Pohon, Hanif Wicaksono Budidayakan Tanaman Buah Langka Kalimantan

Berupaya melestarikan keanekaragaman plasma nutfah tanaman buah khas Kalimantan, Hanif Wicaksono pun membangun perpustakaan pohon (arboretum) dan program konservasi tanaman endemik Kalimantan bernama Tunas Meratus.

 

Jakarta (27/11/2021) Sobat Revmen, keanekaragaman hayati di Indonesia begitu melimpah dan merupakan salah satu yang terkaya di dunia. Sayangnya laju perkembangan zaman dan modernisasi mengancam kelestarian berbagai flora dan fauna tersebut, yang membuatnya menjadi langka bahkan terancam punah. Ialah Mohamad Hanif Wicaksono, seorang pembudidaya tanaman buah langka khas Kalimantan yang berupaya menyelamatkan keanekaragaman plasma nutfah tersebut dengan mendirikan perpustakaan pohon (arboretum) dan program konservasi tanaman endemik Kalimantan bernama Tunas Meratus. Seperti apa? Yuk sobat Revmen, kita simak kisah inspiratif berikut ini!

 

Pria kelahiran Blitar 18 Agustus 1983 itu sehari-hari bekerja sebagai tenaga penyuluh program Keluarga Berencana (KB) di Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Namun di luar pekerjaannya tersebut, lalu Mohamad Hanif Wicaksono banyak menghabiskan waktunya sebagai pembudidaya tanaman buah langka khas Kalimantan. Ia menginisiasi program Tunas Meratus yang fokus mengumpulkan, mendokumentasikan, membibitkan, dan membudidayakan tanaman buah asli Kalimantan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian sumber daya plasma nutfah Kalimantan. Kebun pembibitan untuk menyelamatkan buah khas Kalimantan tersebut berlokasi di Desa Gambah Luar Muka, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

 

Adapun perpustakaan pohon buah langka khas Kalimantan atau arboretum kebun induk yang ia dirikan berlokasi di Desa Ambutun, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Di arboretum seluas 2,6 hektar tersebut terdapat lebih dari ratusan jenis pohon buah langka Kalimantan yang ia tanam, mulai dari Silulung (Baccaurea Angulata), Buah Bindang (Borassodendron Bornensis), hingga Lahung Burung (Durio Excelsus). Mulai ‘blusukan’ ke hutan di enam kabupaten wilayah Kalimantan Selatan sejak 2012 lalu, Hanif setidaknya telah mengidentifikasi sekitar 160 pohon dan buah langka endemik Kalimantan. Hasil identifikasi dan budidayanya tersebut lantas ia dokumentasikan dalam buku dalam dua buah buku yakni Potret Buah Nusantara Masa Kini dan seri Buah Hutan Kalimantan Selatan.

 

Panggilan Hanif melakoni kegiatan pelestarian tersebut berawal dari keresahannya karena tanaman buah khas Kalimantan semakin langka akibat tingginya laju deforestasi. Menurutnya,  amat disayangkan banyak tanaman buah lokal Kalimantan yang tidak diketahui masyarakat umum dan kekayaan hayati tersebut dapat benar-benar punah jika tak ada yang mengambil aksi pelestarian. Lulusan Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang itu pun lantas bergerak sendiri dan memulainya dengan modal seadanya serta belajar secara otodidak. Selain ingin mengenalkan ragam tanaman buah lokal khas Kalimantan yang semakin langka ke masyarakat luas, lewat kegiatan yang diinisiasinya tersebut Hanif juga berharap dapat membuka kesempatan pada meningkatnya ekonomi masyarakat yang tertarik mengembangkan dan membudidayakannya ___ sehingga dapat memberikan pilihan alternatif konsumsi buah nusantara.

 

Selain lebih tidak rentan untuk ditebang, menurutnya pembudidayaan tanaman buah lokal Kalimantan yang dilakukannya tersebut dapat membantu memulihkan ekosistem karena buah disukai oleh hewan. Kemudian, keberadaan arboretum tanaman buah lokal Kalimantan yang ia dirikan tersebut juga dapat menjadi lokasi ekowisata sekaligus tempat penelitian untuk tanaman-tanaman buah langka khas Kalimantan. Kini bibit tanaman buah khas Kalimantan yang dibudidayakan Hanif tersebut sudah disebarkan ke sejumlah kebun raya agar bisa tetap dilestarikan. Bahkan, Desa Marajai di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, telah menjadi desa plasma nutfah untuk pembudidayaan tanaman buah langka khas Kalimantan lho, sobat Revmen!

 

Atas kiprah dan kontribusi positifnya di bidang lingkungan dalam melestarikan tanaman buah lokal khas Kalimantan, Hanif pun mengantongi sejumlah penghargaan. Di antaranya, Astra Satu Indonesia Awards 2018 di bidang lingkungan, Pena Hijau Awards 2018 kategori penggerak lingkungan, hingga menerima penghargaan Kalpataru Tahun 2021 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Upaya pelestarian dan pembudidayaan yang diinisiasi oleh Hanif tersebut kiranya menjadi aksi nyata dari salah satu gerakan Revolusi Mental yakni Gerakan Indonesia Bersih ___ yang secara tidak langsung ikut melakukan penghijauan lingkungan dan menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan. Nah sobat Revmen, memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang jatuh setiap tanggal 5 November setiap tahunnya, mari sama-sama kita lindungi dan lestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia agar tidak punah! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersih #HariCintaPuspadanSatwaNasional

 

Sumber Foto:
https://www.instagram.com/tunasmeratus/

 

Referensi:

Kalsel.antaranews.com. (2021). Diakses tanggal 1 November 2021.

Liputan6.com. (2021). Diakses tanggal 1 November 2021.

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 1 November 2021.

Antaranews.com. Diakses tanggal 1 November 2021.

Banjarmasin.tribunnews.com. (2021). Diakses tanggal 1 November 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: