Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Dijuluki Profesor Singkong, Achmad Subagio Penemu Pertama Tepung Mocaf Asal Indonesia

Tepung Mocaf dapat menjadi opsi alternatif yang lebih sehat ketimbang terigu karena tidak mengandung gluten dan kandungan mineral kalsium yang lebih tinggi.
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

Dijuluki Profesor Singkong, Achmad Subagio Penemu Pertama Tepung Mocaf Asal Indonesia

Berinovasi menciptakan olahan singkong menjadi tepung Mocaf (modified cassava flour), Achmad Subagio berupaya mengangkat derajat singkong sebagai salah satu terobosan dalam mengatasi masalah pangan Indonesia menjadi lebih berdaulat.

Jakarta (28/06/2021) Selama ini singkong kerap dinomor duakan sebagai sumber makanan pokok yang mengandung karbohidrat ketimbang nasi. Bahkan, kerap kali singkong dilekatkan sebagai makanan orang miskin. Padahal singkong atau ubi kayu merupakan sumber pangan lokal yang potensial dan melimpah di Indonesia. Berangkat atas keprihatinannya tersebut, Achmad Subagio kemudian berupaya menaikkan derajat singkong dengan berinovasi mengolah singkong menjadi tepung Mocaf (modified cassava flour) yang menjadi penemuan pertama di dunia. Mari kita cari tahu lebih jauh tentang sosok inspiratif berikut ini!

Achmad Subagio (52) yang merupakan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember itu sedari kecil telah akrab dengan singkong. Ayahnya bertani singkong, sedangkan Subagio saat duduk di bangku sekolah membantu keluarganya berjualan gethuk lindri yang berbahan dasar singkong. Gagasan untuk mengembangkan tepung modifikasi singkong sendiri muncul kala Subagio menyelesaikan short course program jejaring kerja sama antar universitas Asia-Eropa pada 2004 silam. Di mana, saat di Belanda ia mendapati kentang mampu diolah menjadi bahan baku berbagai produk tepung atau pati serta turunannya. Dari sana lah ia bertekad singkong sebagai komoditas pangan lokal juga harus dapat dimanfaatkan dan diolah sedemikian rupa.

Pria kelahiran 17 Mei 1969 itu lantas berupaya membawa singkong naik kelas dengan mengolahnya menjadi bentuk tepung dengan cita rasa dan aroma singkong yang tidak terlalu kuat, sehingga lebih mudah diterima pasar dan fleksibel untuk diolah menjadi bentuk apa pun. Teknologi untuk menghasilkan tepung Mocaf sendiri ialah dengan memodifikasinya dengan cara fermentasi sehingga dapat menghasilkan karakter dan kualitas menyerupai tepung terigu. Dengan modifikasinya tersebut, tepung Mocaf dapat menjadi substitusi tepung terigu, beras, ketan, dan tapioka. Bahkan tepung Mocaf dapat menjadi opsi alternatif yang lebih sehat ketimbang terigu karena tidak mengandung gluten dan kandungan mineral kalsium yang lebih tinggi.

Pada 2006, pria yang melanjutkan studi teknologi pangan di Universitas Perfektur Osaka, Jepang itu mulai memproduksi tepung Mocaf temuannya secara massal. Pada mulanya pabrik tepung Mocaf didirikan di Trenggalek, kemudian berpindah ke Solo dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan dan melibatkan ribuan tenaga kerja. Di samping memproduksi tepung Mocaf multiguna, pria kelahiran Kediri ini juga menciptakan beras cerdas yakni beras analog berbahan dasar tepung Mocaf, dan berbagai olahan turunan Tepung Mocaf lainnya. Meski demikian, Subagio tak mematenkan hak cipta dari hasil penelitian tepung Mocafnya agar masyarakat luas dapat mengadaptasi dan mengembangkannya. Seperti halnya pemuda lulusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Azyumarrida Azra (29), yang juga merintis usaha sosial Rumah Mocaf. Beragam produk turunan tepung Mocaf diproduksi, mulai dari tepung mocaf multiguna, berbagai varian mie, hingga aneka kue kering berbahan dasar tepung Mocaf.

Seiring kian populernya tepung Mocaf dan meningkatnya permintaan pasar, harga jual singkong pun meningkat berkali-kali lipat yang membawa angin segar bagi para petani singkong. Tak hanya bertujuan mengangkat derajat singkong, Subagio yang mendapat julukan sebagai ‘profesor singkong’ itu juga berupaya memberdayakan lahan kritis atau lahan yang cenderung kurang subur menjadi hidup kembali dengan ditanami singkong sebagai pasokan bahan baku untuk tepung Mocaf. Atas inovasinya tersebut, Subagio pun memperoleh penghargaan Kehati Award VIII dari Yayasan Keanekaragaman hayati (Kehati) pada 2015 dan masuk ke dalam buku berjudul Who’s Who in the World 2010 bersama 63 ribu orang lainnya dari berbagai belahan dunia dan latar belakang profesi. Teknologi pengolahan tepung Mocafnya juga masuk dalam 19 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada 2014.

Inovasi Subagio dalam menciptakan tepung Mocaf sebagai alternatif pangan dari singkong kiranya mampu membawa terobosan positif dalam mengatasi masalah pangan di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya kelompok petani dan masyarakat pedesaan. Sehingga, dari tepung Mocaf dan olahannya mampu memberdayakan produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang sejalan dengan gerakan Revolusi Mental yakni Indonesia Mandiri. Sebagaimana Subagio, Indonesia membutuhkan banyak pemuda lainnya yang mampu menggali sumber daya potensial Indonesia untuk dikembangkan demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat banyak.[A2Tak hanya berdaulat dalam hal pangan, dengan melandasi pada nilai-nilai Revolusi Mental yaitu Integritas, Etos Kerja, dan Gotong Royong kita pun dapat bersama-sama mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam berbagai bidang lainnya. #AyoBerubah

 

Sumber Foto:

https://epaper.mediaindonesia.com/detail/achmad-subagio-membuat-singkong-naik-kelas

 

Referensi:

Trubus-online.co.id, 01/08/09

Indonesiaproud.wordpress.com, 08/11/10

Sains.kompas.com, 30/01/15

Antaranews.com, 05/02/15

Mongabay.co.id, 05/02/15

Tabloidsinartani.com, 18/07/20

Mediaindonesia.com, 21/03/21

Tribunnews.com, 09/05/18

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: