Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Datang Tepat Waktu Cerminan Karakter Bangsa, Yuk Kita Budayakan!

Budaya datang tepat waktu jadi cerminan karakter bangsa
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

Datang Tepat Waktu Cerminan Karakter Bangsa, Yuk Kita Budayakan!

Membangun karakter bangsa yang tertib, disiplin, dan beretos kerja dapat dimulai dengan tidak datang terlambat yang berarti menghargai waktu dan orang lain.

 

Jakarta (18/04/2021) Sobat Revmen, mungkin sudah tak asing lagi dengan istilah jam karet bukan? Ya, datang terlambat seakan adalah hal yang biasa dan kerap dilumrahkan hingga muncul istilah tersebut di tengah masyarakat, yang juga biasa disebut dengan ‘ngaret’. Sikap yang berkebalikan dengan disiplin ini tentu dapat mencerminkan pribadi seseorang, bahkan jika terus membudaya bukan tak mungkin bila kebiasaan datang terlambat dapat mencerminkan karakter suatu bangsa, lho!

 

Istilah jam karet berasal dari kata dasar 'karet' yang bersifat elastis, mudah diregangkan, melar atau melonggar, dalam hal ini waktu. Seperti karet yang bisa mengulur, orang yang suka ngaret berarti suka merenggangkan waktu alias datang terlambat atau meleset dari waktu yang direncanakan. Orang yang ‘ngaret’ biasanya akan dianggap tidak tertib, tidak menghargai waktu dan juga orang lain. Sebaliknya, orang yang datang tepat waktu mencerminkan karakter diri yang menghargai orang lain, beretos kerja, tanggung jawab, dan dapat diandalkan.

 

Tertib dan disiplin dalam hal menghargai waktu amat penting lho, sobat Revmen! Karena kebiasaan terlambat tidak saja dapat berdampak merugikan pada diri sendiri, namun juga orang lain. Kebiasan terlambat bisa berdampak pada menurunnya produktivitas. Karena keterlambatan mengakibatkan terganggunya jadwal yang telah disusun sebelumnya dan pada akhirnya waktu yang sejatinya dapat digunakan untuk melakukan hal produktif lainnya menjadi termakan atau terbuang sia-sia. Akibat terlambat misalnya, jadwal yang semula direncanakan untuk menyelesaikan dua agenda, menjadi hanya satu agenda saja.

 

Menengok negara tetangga, budaya tepat waktu dan disiplin tinggi sangat lekat dengan masyarakat Jepang, yang sedikit terlambat saja bisa menjadi masalah besar, lho! Di negeri sakura tersebut bahkan tepat waktu menjadi patokan sopan santun dan telah ditanamkan sejak kecil. Namun tak hanya tepat waktu dalam hal tidak datang terlambat, terlalu cepat juga tidak dianggap baik oleh masyarakat Jepang. Selain Jepang, sebagai negara penghasil jam kelas dunia, budaya datang tepat waktu dan efisien pun sangat melekat di masyarakat Swiss. Bangsa pegunungan Alpen ini bahkan menganggap tepat waktu sebagai sumber utama kebahagiaan.

 

Nah, bila kita menginginkan budaya jam karet ini hilang dari masyarakat Indonesia, maka kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Pertama-tama ialah dengan cara perkirakan waktu tempuh atau estimisasi perjalanan dengan cermat. Baik dengan memperhitungkan jarak rumah dengan alamat tujuan, hingga moda transportasi yang akan digunakan. Kedua, hilangkan kebiasaan menunda pekerjaan sehingga lebih efisien dan tak memakan waktu ekstra yang dapat menyebabkan keterlambatan. Ketiga, tempatkan barang-barang di area tertentu, yang dapat mencegah waktu terbuang dan menyebabkan keterlambatan karena mencari barang yang hilang. Terakhir, susun jadwal. Dengan mencatat agenda atau rencana kegiatan yang akan dikerjakan dapat membantu kebiasaan lupa yang bisa jadi salah satu penyebab datang terlambat.

 

Oleh karenanya, yuk sobat Revmen mari sama-sama kita budayakan sikap tertib dimulai dengan menghargai waktu yang berarti pula menghargai orang lain. Dengan mendisiplinkan diri untuk tak datang terlambat maka kita sekaligus membentuk karakter bangsa Indonesia yang tertib dan beretos kerja! #AyoBerubah #IndonesiaTertib #EtosKerja

 

 

Sumber Foto:

https://www.freepik.com/free-vector/tiny-people-huge-sand-glass_9176917.htm#page=1&query=time%20management&position=36

 

Referensi:

Bbc.com, 01/08/16

Cnnindonesia.com, 08/08/19

Cnnindonesia.com, 13/08/19

Japanese.binus.ac.id, 14/09/20

Magazine.job-like.com, 08/07/19

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: