Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENUMBUHKAN RASA SOLIDARITAS PADA ANAK DIDIK

Seorang guru sedang memberikan pengarahan pembelajaran
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENUMBUHKAN RASA SOLIDARITAS PADA ANAK DIDIK

Belajar secara bersama-sama dan bekerjasama dapat menumbuhkan rasa solidaritas. Rasa ini muncul karena ada perasaan yang sama dan saling memiliki.

 

Jakarta (09/05/2021) Di sekolah terdapat beragam jenis karakter siswa dengan beragam tingkat kognitif masing-masing. Ada yang tingkat kognitifnya rendah, ada yang tinggi. Ada yang memiliki kepribadian pemalu, namun ada juga yang pemberani. Idealnya, siswa yang memiliki tingkat kognitif tinggi dapat membantu siswa dengan tingkat kognitif rendah. Asumsinya, jika proses belajar dilakukan bersama teman, dengan pengawasan dan pengarahan guru, maka pembelajaran akan lebih efektif dilakukan. Link and match untuk mengumpulkan para siswa dengan beragam karakternya ini dapat dilakukan melalui cooperative learning.

 

Menurut Slavin, seperti dikutip oleh Sunhaji (2016), cooperative learning merupakan model pembelajaran menggunakan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah peserta didik bekerjasama dan memecahkan masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.

 

Itu artinya, dengan menggunakan model atau strategi cooperative learning, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang siswa, maka siswa dapat dikelompokan menjadi 10 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang siswa. Namun pengelompokan harus mempertimbangkan unsur keberagaman anggotanya.

 

Sederhananya cooperative learning merupakan “belajar kelompok.” Tapi berbeda dengan model belajar kelompok yang biasa, sebagaimana dinyatakan Roger dan David Johnson, pembelajaran dalam cooperative learning perlu memuat lima faktor penting, yaitu: (1) Setiap anggota harus menunjukan usahanya dari peran-peran yang berbeda, (2) Setiap anggota harus punya rasa tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik, (3) Adanya diskusi tatap muka antar anggota, (4) Adanya komunikasi dan keterbukaan pada gagasan antar anggota, dan (5) Adanya evaluasi objektif dari pengajar.

 

Menurut Stephen Balkcom (1992), pembelajaran dengan menggunakan cooperative learning dapat memberikan beberapa keuntungan, yakni dapat membangun daya kritis siswa, dapat membangun relasi yang positif dari siswa dengan karakter yang saling berbeda, dapat membangun suasana dimana pencapaian akademik bukanlah “score” melainkan “value,” dan dapat membangun rasa solidaritas antar siswa.

 

Siswa dengan berbagai latar belakang dituntut untuk saling bekerjasama dan mengedepankan soliditas. Jika ada kelompok yang anggotanya bekerja secara individual atau ada siswa yang tidak bekerja sama sekali, maka proses belajar cooperative learning dapat dibilang gagal pada kelompok itu. Jika tidak terdapat kesimpulan yang diakui bersama oleh seluruh anggota kelompok, maka kelompok itu juga gagal. Intinya, kerjasama tim, solidaritas, dan tanggung jawab adalah kunci sukses pembelajaran cooperative learning.

 

Jika sejak remaja para siswa sudah terbiasa bekerjasama dalam suasana yang guyub, penuh keterbukaan dan saling menghargai, maka mereka akan terbiasa pula untuk bersikap toleran dan mudah berempati dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat.

 

Sobat Revmen, bekerja, belajar atau sekedar menemukan sebuah gagasan yang dilakukan bersama-sama bukanlah hal yang mudah. Sebab setiap orang memiliki ego dan “rasa diri penting” (the desire to be important). Ego yang berlebihan dapat mengikis empati, soliditas dan solidaritas. Menumbuhkan sikap solidaritas tidak dapat dilakukan sekejap, melainkan membutuhkan proses. Model pembelajaran cooperative learning dapat menjadi salah satu alteratif dalam menanamkan sikap solidaritas pada generasi.

 

Sobat Revmen, cooperative learning merupakan salah satu aksi nyata dalam mewujudkan satu dari nilai strategis instrumental revolusi mental, yaitu gotong royong. Sehingga para pelajar penerus bangsa dapat memiliki sikap solidaritas, empati dan gemar bekerjasama. Sobat Revmen dapat memulainya dengan memberi kesempatan pada orang lain untuk menyampaikan gagasannya, menghargai perbedaan pendapat dan mendukung pendapat yang dianggap paling baik meski berbeda dengan pendapat sendiri. #AyoBerubah #GotongRoyong

 

 

Referensi:

 

Sunhaji. (2016). Available at:  http://repository.iainpurwokerto.ac.id/1390/1/Dr.%20H.%20Sunhaji%2C%20M.Ag_IMPLEMENTASI%20STRATEGI%20COOPERATIVE%20LEARNING%20DALAM%20MEMBENTUK%20KETRAMPILAN%20BERFIKIR%20PESERTA%20DIDIK%20DI%20MADRASAH%20ALIYAH%20AL-IKHSAN%20BEJI%20KEDUNGBANTENG%20BANYUMAS.pdf. Diakses tanggal 1 Mei 2021.

 

Stephen Balkcom. (1992). Available at: https://www2.ed.gov/pubs/OR/ConsumerGuides/cooplear.html. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

Chris Zook. (2018). Available at: https://www.aeseducation.com/blog/what-is-cooperative-learning-and-how-does-it-work#:~:text=Cooperative%20learning%20is%20the%20process,blended%20learning%20or%20differentiated%20instruction. Diakses tanggal 26 April 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: