Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Cindy Samiadji, “Perupa Sampah” dan Pendidik Konservasi

GIBersih, Konservasi, Sampah
  • 13 Mei 2022
  • 0 Komentar

Cindy Samiadji, “Perupa Sampah” dan Pendidik Konservasi

Dari sampah, Cindy Samiadji membuat karya seni sebagai bentuk kampanye penyelamatan satwa. Tak hanya itu, ia ikut andil menjadi relawan dalam pendidikan konservasi untuk anak-anak sekolah.

Jakarta (13/05/2022), Kaum Muda Pecinta Alam (KMPA) Tunas Hijau Airmadidi merupakan salah satu organisasi pecinta alam di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara. Di organisasi inilah Cindy Samiadji menegakkan komitmennya untuk  aktif kampanye pelestarian alam.

Kepada Sindomanado.com, ia mengakui semua bermula dari hobinya mendaki gunung. “Selanjutnya kami berpikir untuk  mulai kampanyekan pelestarian lingkungan ketika melihat rusaknya hutan gunung Klabat akibat penebangan liar, dari kampanye awal cukup berhasil karena penebangan hutan berhenti, “terangnya.

Bersama komunitas pecinta alam lain di Minut, Tunas Hijau Airmadidi ikut membentuk Solidaritas Pecinta Alam Minahasa Utara (SPAMU). Gabungan organisasi pecinta alam Minut ini kemudian sepakat untuk bergiliran menjaga pintu masuk jalur pendakian Gunung Klabat.

Seiring itu, bentuk kampanye yang dilakukan kian beragam. Lewat musik mereka membentuk band Lamp Of Bottle dengan lagu yang diciptakan khusus untuk kampanye konservasi lingkungan hidup dan kearifan lokal. Beberapa lagu dari grub beraliran punk ini dikenal di kalangan pecinta lingkungan yakni Lawan Reklamasi, Negri Bencana, Hijau, Pulau Bangka, dan Belajar dari Alam Berbuat Untuk Alam.

Selain dengan musik, beberapa cara kreatif lain adalah dengan membuat sablon baju maupun pernak-pernik bertuliskan ajakan menjaga alam. Kini, Iin, panggilan akrab Cindy Samiadji, mencoba dengan cara lain yakni melukis. Tidak dalam artian teknis maupun teoritis. Iin hanya merangkai barang-barang bekas untuk membentuk visualisasi satwa liar.

Dilansir dari Mongabay.co.id, beberapa tahun silam ia menyaksikan video kreasi visual berbahan sampah di Youtube. Iin pun mencoba membuat karya sendiri. Menurutnya, beberapa bahan sampah plastik telah menyediakan kombinasi warnanya sendiri. Sehingga, begitu proses merangkai rampung, karya yang dibuatnya jadi semacam gambar tanpa proses melukis dan mewarnai. Namun, pada karya jenis tertentu, ia perlu menambahkan detail-detail warna untuk mempertajam visualisasi.

Dalam kurun dua tahun, setidaknya 20 karya telah ia buat. Bahannya mulai dari sedotan plastik, bungkus cemilan (snack), hingga puntung rokok. “Kadang-kadang kalau jalan, saya juga mengumpulkan sampah. Tapi tidak banyak, paling banyak hanya di sekitar sini. Saya ingin membersihkan sampah mulai dari lokasi terdekat. Untuk cat biasanya dapat dari kegiatan-kegiatan lain. Misalnya setelah melukis di kafe, cat sisanya saya pakai,” terangnya seraya menyebut bahwa kini beberapa rekan juga mendonasikan barang bekas untuk dijadikan media berkarya.

Dari sampah dan barang-barang sisa penggunaan manusia itu, Iin menampilkan satwa-satwa endemik Sulawesi Utara maupun satwa terancam punah seperti, yaki (Macaca nigra), hiu bungkuk, hiu paus, penyu, paus serta dugong. Kegiatan itu adalah kombinasi dari hobi, kampanye penyelamatan satwa liar, hingga penerapan pada diri sendiri untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.

Pendidikan Konservasi Dini

Melalui kreasi berbahan sampah itu, Iin ingin menyampaikan bahwa di Indonesia, terutama Sulawesi Utara, terdapat satwa endemik dan satwa terancam punah yang perlu diselamatkan. Iin pun terjun menjadi relawan di Pendidikan Konservasi Tangkoko (PKT). PKT merupakan program pendidikan dari Macaca Nigra Projects (MNP). Awalnya, tahun 2011, pendidikan konservasi hanya pada sekolah di sekitar Cagar Alam Tangkoko. Kini, mereka mengadakan program pendidikan yang tersebar di kota Bitung, kabupaten Minahasa Utara hingga kota Manado.

Menurut Iin, pendidikan formal bisa menjadi salah satu jalan yang cukup baik untuk menyampaikan pesan-pesan penyelamatan satwa seperti yaki. Lewat pendidikan di sekolah-sekolah, pengetahuan mengenai topik-topik konservasi akan bisa dikenal sejak dini. Lewat aktifitas pendidikan konservasi, para siswa telah mengetahui bahwa yaki adalah satwa dilindungi yang tidak boleh diburu, diperdagangkan, dikonsumsi maupun dipelihara.

Selain melalui proses belajar-mengajar formal, PKT juga menyampaikan pesan-pesan konservasi melalui musik, mengajak siswa-siswi membaca puisi, dan memerankan teatrikal dengan topik penyelamatan yaki.

Dengan semua yanag dilaluinya, Iin berharap tiap orang perlu bergerak dengan cara apapun untuk menyelamatkan bumi dari permasalahan sampah. Sebab, tanpa kesadaran kolektif umat manusia, produksi sampah yang tidak terkendali akan membuat kondisi bumi semakin mengkhawatirkan.

Selain membuat karya berbahan sampah sebagai bentuk kampanye, Iin juga mulai mengurangi penggunaan plastik untuk keperluan sehari-harinya. Misalnya saja, untuk keramas, Iin telah menggantikan shampo dengan jeruk nipis atau berendam di laut. Ia juga lebih memilih membeli baju bekas ketimbang baju baru. “Untuk keseluruhan memang berat, jadi saya coba memulai dari sendiri,” pungkas Iin.

*PS

Sumber

Mongabay.co.id diakses 13 Mei 2022

Sindomanado.com diakses 13 Mei 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: