Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

CEGAH RADIKALISME MELALUI MODERASI DAN TOLERANSI

Kerukunan antar umat beragama
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

CEGAH RADIKALISME MELALUI MODERASI DAN TOLERANSI

Setiap paham atau gerakan yang memaksakan kehendak dengan menggunakan cara-cara kekerasan bertentangan dengan semangat Pancasila. Untuk itu sikap moderat dan semangat toleransi harus ditumbuhkan dan diaktualisasikan, terutama oleh generasi muda.

 

Jakarta (24/06/2021) Sobat Revmen tentu sudah sering membaca atau mendengar istilah radikalisme. Secara definitif memang istilah radikalisme memiliki pengertian yang kontroversial. Sebagian pakar menganggapnya sebagai sebuah istilah yang netral, namun sebagian yang lain menganggapnya sebagai istilah yang negatif. Pada perkembangannya, radikalisme dianggap sebagai paham yang mengontrol tindakan kekerasan untuk memaksakan kehendak sekelompok orang.

 

Menurut kamus Britannica (1998), istilah radikalisme pertama kali digunakan oleh Charles James Fox saat mendeklarasikan “reformasi radikal” dalam konteks perluasan hak pilih masyarakat. Istilah radikal kemudian digunakan sebagai istilah umum yang meliputi semua aktivitas yang mendukung gerakan reformasi parlementer di Inggris Raya. Pada abad ke 19, istilah radikal yang digunakan di Inggris, Eropa Kontinental dan Amerika Latin, yang memiliki konotasi sebagai sebuah gerakan progresif dari ideologi liberal yang terinspirasi oleh Revolusi Prancis. Dengan kata lain, dapat disimpulkan, bahwa istilah radikal dan paham radikalisme digunakan untuk mengidentifikasi gerakan-gerakan politik.

 

Apa yang disebut dengan radikal dan radikalisme? Menurut kamus Merriam Webster (2019), kata radikal berasal dari bahasa Latin radix, yang artinya “akar.” Istilah radikal kemudian secara literal diartikan sebagai gerakan kembali kepada hal-hal yang paling mendasar. Menurut KBBI, radikal berarti (1) secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); (2) amat keras menuntut perubahan (Undang-Undang, pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertindak.

 

Sementara radikalisme menurut KBBI adalah (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrim dalam aliran politik.

 

Berdasarkan definisi dari KBBI di atas, maka radikal adalah sebuah gerakan yang terkait dengan urusan politik yang biasanya menuntut perubahan yang dilakukan secara ekstrim atau melalui cara-cara kekerasan. Sementara radikalisme adalah paham yang dianut oleh para radikalis. Menurut Andy Fitzgerald, dalam The Guardian (2014), pada umumnya istilah radikal diberi label secara negatif dan sering diasosiasikan sebagai ekstrimisme. Namun seringkali sejarah mencatat bahwa gerakan-gerakan radikal justru dilakukan untuk mendukung demokrasi dan keadilan. Martin Luther King pernah diberi label sebagai radikal saat memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan membela kaum kulit hitam untuk memperoleh haknya dalam pemilu, hak-hak buruh dan hak-hak sipil lainnya.

 

Di Indonesia, sebagaimana dinyatakan oleh Haedar Nashir, dalam Republika (2018), radikalisme sering dikonotasikan sebagai radikalisme agama. Nashir menyayangkan bahwa istilah radikal dan radikalisme telah digunakan secara sewenang-wenang dan mengalami paradoks serta ambigu, sebab jika terdapat sebuah gerakan kekerasan yang dilakukan tidak menggunakan label agama, maka gerakan itu tidak dikatakan sebagai gerakan radikal, melainkan gerakan separatis atau pengacau keamanan.

 

Banyak kontroversi dalam istilah radikal dan radikalisme. Hal ini membuat kita mengalami kesulitan untuk menyimpulkannya. Namun banyak orang di Indonesia yang sepakat bahwa istilah radikal adalah istilah yang mengandung makna negatif, terlepas apapun akar sejarah dari kata radikal itu sendiri. Istilah radikal identik dengan istilah memaksakan kehendak melalui cara-cara kekerasan. Jika radikal disamakan dengan pengertian ini, maka kita harus menolaknya. Sebab Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi yang menghargai perbedaan.

 

Setiap paham atau gerakan yang memaksakan kehendak dengan menggunakan cara-cara kekerasan bertentangan dengan semangat Pancasila. Untuk itu sikap moderat dan semangat toleransi harus ditumbuhkan dan diaktualisasikan, terutama oleh generasi muda. Generasi muda harus memiliki sikap, tingkah laku dan tindakan yang menghargai berbagai keragaman dan perbedaan. Hal ini bisa dilakukan dengan menanamkan moderasi dan toleransi.

 

Moderasi merupakan suatu proses “jalan tengah” untuk memahami dan melakukan sesuatu secara adil dan seimbang. Jalan tengah inilah yang diperlukan pemerintah dan masyarakat di tengah keberagaman identitas dan kepentingan Indonesia yang majemuk. Menangkal radikalisme dengan cara moderat dapat dipahami sebagai suatu usaha menjaga dan merawat persatuan dan keutuhan negara bangsa. Bersama dengan toleransi, moderasi dapat menjadi landasan berbangsa dan bernegara yang harmoni di tengah perbedaan.

 

Sobat Revmen, banyak sekali sikap moderat dan toleran yang dapat kita lakukan sehari-hari. Contohnya seperti membudayakan sikap sopan santun, menghargai perbedaan pendapat, tidak menganggap diri sendiri selalu benar, dan menghargai orang lain yang berasal dari agama atau ras yang berbeda. #AyoBerubah #GerakanIndonesiaBersatu

 

Referensi:

Merriam-Webster.com. (2019). Diakses tanggal 1 Juni 2021.

Republika.com. (2018). Diakses tanggal 1 Juni 2021.

Theguardian.com. (2014). Diakses tanggal 1 Juni 2021.


Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: