Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

BUTET MANURUNG DAN ANAK-ANAK PEDALAMAN

Butet Manurung pendiri Sokola Rimba
  • 09 Maret 2021
  • 0 Komentar

BUTET MANURUNG DAN ANAK-ANAK PEDALAMAN

Bekerja sesuai dengan hobi, melakukan apa yang disukai sambil mendapatkan penghasilan, adalah hal yang menyenangkan. Namun bekerja sesuai hobi sambil memberi manfaat bagi sesama adalah hal yang membahagiakan. Butet Manurung merupakan figur jenis kedua, yang bekerja sesuai hobi sambil memberi manfaat bagi sesama.

 

Jakarta (23/02/21) Sederet penghargaan telah didapatkan Butet Manurung. Di antaranya adalah Man and Biosphere  dari UNESCO (2011), Hero of Asia dari TIME Magazine (2004), Ashoka Fellowship dari Ashoka (2006), Asian Young Leader (2007), Young Global Leader (2009), Ernst and Young Indonesian Social Entrepreneur of the Year (2012), dan Asia Nobel Prize dari Ramon Magsaysay Award (2014). Selain itu, kisahnya telah ditulis ke dalam sebuah buku berjudul Sokola Rimba pada tahun 2007, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2012 dengan judul The Jungle School. Pada tahun 2014, kisah Butet Manurung diangkat menjadi film dengan judul Sokola Rimba, yang diperankan oleh Prisia Nasution. Film ini merupakan karya Mira Lesamana dan Riri Riza.



 

Namun penghargaan demi penghargaan tersebut tidak lahir dengan sendirinya. Butet harus berjuang memasuki pedalaman Jambi, Sumatera Tengah. Menyusuri hutan dan merintis pendidikan alternatif bagi komunitas adat, khususnya Suku Anak Dalam atau Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Pendidikan alternatif yang diberikannya adalah panggilan nuraninya. Ini semacam sebuah perjuangan anak bangsa kepada sesamanya.

 

Butet hobi berpetualang. Kelak hobinya itu menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan.  Butet bercerita, "Saya berharap bisa bekerja sesuai dengan hobi saya. Banyak orang yang bekerja kantoran tapi tidak ingin ada di kantor. Tetapi saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau bekerja yang tidak sesuai dengan hobi."

 

Akan tetapi apa yang dilakukan Butet tidak hanya menyalurkan hobi. Butet ingin memberikan manfaat. Maka pada tahun 1999 sarjana Antropologi dari Universitas Padjajaran ini masuk ke hutan dan mendirikan Sokola Rimba. Butet mengajarkan anak-anak pedalaman agar bisa membaca, menulis dan berhitung. Tantangan yang dihadapinya cukup berat. Selain hutan dan malaria, Butet juga tidak langsung diterima oleh masyarakat setempat. Butet butuh beberapa bulan untuk bisa mendekati anak-anak Suku Anak Dalam.

 

Butet juga harus berkompromi dengan metode dan kurikulum pendidikan yang berbeda. Menurutnya, anak-anak rimba hanya mau belajar karena dua hal; Pertama, demi mempertahankan hutan dan lahan dari tangan-tangan serakah orang asing; Kedua, demi menjaga kelangsungan kelompok Suku Anak Dalam. Butet bersemangat. Sesaat dia merasa menjadi hero dalam mengajarkan anak-anak. Jika anak-anak bisa baca tulis, maka mereka bisa mengeluarkan kitab hukum untuk melawan orang-orang yang ingin mengambil lahan. Jika mereka bisa berhitung, maka mereka bisa menghindari penipuan ketika akan menjual barang-barang hasil tani yang mereka jual.