Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

BUNG KARNO, SEPAKBOLA DAN PERSATUAN INDONESIA

Bung Karno melihat maket stadion sepakbola Gelora Bung Karno
  • 21 Juni 2021
  • 0 Komentar

BUNG KARNO, SEPAKBOLA DAN PERSATUAN INDONESIA

Bagi Bung Karno, sepakbola bukan sekedar olah raga, melainkan juga alat perjuangan. Bung Karno sejak awal yakin bahwa sepak bola adalah satu sarana yang tepat untuk mengekspresikan persatuan.

 

Jakarta (21/06/2021) Hingga tahun 1928, stadion dan lapangan-lapangan sepakbola di Indonesia hanya dimiliki oleh pemerintah kolonial Belanda. Biasanya di depan pintu lapangan diberikan tulisan, “Verboden voor Inlanders en Houden” (dilarang masuk untuk pribumi dan anjing). Anak-anak Belanda tidak mau bermain bola dengan anak-anak pribumi. Menurut J.J. Rizal, orang Indonesia pun tidak boleh meminjam stadion. Hal inilah yang membuat salah seorang pejuang bernama Mohammad Husni Thamrin mengeluarkan uang pribadinya untuk membangun stadion pertama di Indonesia dengan standar internasional di daerah yang sekarang disebut Petojo, Jakarta Pusat.

 

Menurut National Geographic Indonesia (2021), setelah mendirikan stadion, Thamrin juga membentuk perkumpulan sepakbola yang bernama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) Jakarta. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 28 November 1929, perkumpulan sepakbola itu berganti nama menjadi Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ). Dan nama stadion sepakbola menjadi tempat klub itu bernama Stadion VIJ. Menurut J.J. Rizal, ini merupakan perkumpulan sepakbola pertama yang menggunakan nama Indonesia.

 

Pada tahun 1930 lahir perhimpunan sepakbola pertama di Indonesia yang diberi nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (sekarang PSSI). Perkumpulan ini dipimpin oleh Ir Soeratin Sosrosoegondo. PSSI lahir atas dorongan dari VIJ yang berkeinginan Indonesia memiliki perkumpulan sepakbola yang bersifat nasional.

 

Pada tahun 1932, ketika Bung Karno bebas dari Penjara Sukamiskin di Bandung, M.H. Thamrin menjemputnya dan membawanya ke Stadion VIJ di Batavia. Bung Karno diminta untuk melakukan kick off pertama di pertandingan final PSSI di stadion tersebut. Peristiwa itu sekaligus mengumumkan kepada rakyat di Batavia bahwa Bung Karno telah bebas. Rakyat bersorak menyambut kebebasan Bung Karno.

 

Ini menjadi titik balik bagi Bung Karno yang melihat bahwa sepakbola bukan sekedar olah raga, melainkan juga alat perjuangan. Bung Karno sejak awal yakin bahwa sepak bola, olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat dan melibatkan banyak massa, adalah satu sarana yang tepat untuk mengekspresikan persatuan. Pasca kejadian tersebut, dalam konges PSSI yang ke-2, yakni tanggal 14-16 Mei 1932, PSSI secara resmi menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi organisasi. Inilah yang kemudian membuat Bung Karno semakin percaya bahwa sepak bola adalah salah satu wadah yang efektif untuk mengkampanyekan persatuan bangsa.

 

Pada tahun 1950, Bung Karno berniat untuk membangun sebuah stadion bertaraf internasional di Indonesia. Niat itu baru terlaksana pada tahun 1960. Pembangunan ini dilakukan menyusul terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games ke-4 pada tahun 1962. Namun Bung Karno tidak hanya ingin membangun sebuah stadion, melainkan membangun multi-sports complex. Atas kerjasama dengan Uni Soviet, pembangunan stadion, yang kemudian dikenal dengan nama Gelora Bung Karno (GBK), dilakukan mulai tahun 1960. Uni Soviet juga mengirimkan insinyur dan teknisinya ke Indonesia untuk merancang pembangunan GBK. Pada tanggal 21 Juli 1962, stadion GBK diresmikan. Satu bulan kemudian Asian Games dilaksanakan di GBK. Dunia terpukau oleh kemegahan GBK. Satu tahun kemudian Indonesia menggelar Ganefo atau Games of The New Emerging Forces. Semua kegiatan Ganefo berpusat di stadion GBK. Baik Asian Games maupun Ganefo adalah salah satu sepak terjang Bung Karno dalam mengkomunikasikan persatuan bangsa dan persatuan negara-negara berkembang.

 

Sobat Revmen, GBK adalah simbol kebanggaan Indonesia saat itu, sementara sepakbola adalah simbol persatuannya. Namun lebih dari itu, GBK kemudian disulap oleh Bung Karno menjadi wadah yang lebih luas lagi, yaitu dijadikan sebagai wadah untuk menggalang persatuan bagi negara-negara di Asia dan negara-negara berkembang. Maka melalui sejarah dan perjuangan Bung Karno kita semakin paham bahwa persatuan bangsa bisa dirajut melalui banyak jalur, termasuk jalur olah raga. #AyoBerubah #GerakanIndonesiaBersatu

 

Referensi:

 

Bola.net. (2015). Available at: https://www.bola.net/editorial/sukarno-sepak-bola-politik-dan-bahasa-persatuan.html. Diakses tanggal 26 Mei 2021.

 

Nationalgeographic.grid.id. (2021). Available at: https://nationalgeographic.grid.id/read/132560296/peran-besar-tokoh-betawi-mh-thamrin-bagi-sejarah-sepakbola-indonesia?page=all.  Diakses tanggal 26 Mei 2021.

 

Kompas.com. (2019). Available at: https://megapolitan.kompas.com/read/2019/02/16/12205541/perjuangan-mh-thamrin-lahirkan-sepak-bola-di-ibu-kota?page=all. Diakses tanggal 26 Mei 2021.

 

Sport.detik.com. (2013). Available at: https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-2366927/gelora-bung-karno-mimpi-besar-Bung Karno--kebanggaan-sepakbola-indonesia. Diakses tanggal 26 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: