Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Bung Karno dan Pohon Sukun Bercabang 5

GIBersatu, BUng Karno
  • 09 Juni 2022
  • 0 Komentar

Bung Karno dan Pohon Sukun Bercabang 5

Pengasingan di Ende menjadi salah satu fase penting selama kehidupan Soekarno.

Jakarta (9/6/2022) Kala itu, Indonesia masih di bawah jajahan Belanda. Tepat 14 Januari 1934, Bung Karno dan keluarga tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pengasingan ini sengaja dilakukan oleh kolonial Belanda untuk memutus hubungan Soekarno dan loyalisnya.

 Di Ende, Bung Karno hidup serba sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik seperti di kota besar. Tapi, di Ende lah, Bung Besar memiliki banyak waktu untuk merenung dan berpikir. Ia mulai belajar lebih banyak soal agama Islam. Juga belajar mengenai pluralisme lewat pergaulannya bersama pastor-pastor di Ende, di Rumah Biara Santo Yosef, yang kini disebut Serambi Soekarno. Di Biara itu pula Bung Karno mengisi waktu untuk membaca berbagai buku dan majalah.

Bung Karno juga berkonsultasi tentang rencana dan jadwal pementasan tonil hasil karyanya, serta kerap bertukar pikiran dan berbincang-bincang akrab dengan para biarawan, khususnya dua misionaris asal Belanda, Pater Geradus Huijtink dan Pater Joannes Bouma. Keduanya diketahui menaruh simpati pada cita-cita perjuangan Bung Karno.

"Sebagai teman diskusi, lalu meminjam buku pada pastor. Sampai-sampai kalau pastor berhalangan, kunci kamarnya diserahkan kepada Soekarno," ujar Uskup Agung Keuskupan Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, yang memberikan penjelasan kepada Presiden Jokowi kala mengunjungi Ende awal Juni lalu sebagaimana dilansir siaran pers Sekretariat Presiden.

Jauh dari Ibu Kota membuat Bung Karno tak bisa melakukan banyak hal. Waktunya sehari-hari dihabiskan dengan berkebun dan membaca. Dia juga mulai melukis dan menulis naskah drama pementasan. Di sela kegiatan seninya, Bung Karno berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama TA Hassan dan banyak berdiskusi dengan pastor Pater Huijtink. Dari situlah si Bung Besar menjadi lebih relijius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Tiba suatu masa, Bung Karno kerap berkontemplasi di suatu tempat di bawah pohon sukun yang menghadap langsung ke Pantai Ende. Pohon itu berjarak 700 meter dari kediaman Bung Karno. Biasanya, Bung Karno pergi sendiri ke tempat itu pada Jumat malam. Di tempat tersebut Bung Karno mengaku mendapatkan pemikiran soal butir-butir Pancasila.

Dikutip dari Presidenri.go.id, Bung Karno berpesan agar menaman kembali pohon sukun itu, jika nantinya mati. "Bung Karno saat itu juga berpesan bahwa apabila di suatu masa pohon sukun tersebut mati, hendaklah ditanam kembali dengan pohon sukun yang baru," ujar penutur, Noncent W. Noi kepada Presiden Jokowi dan Ibu Iriana saat mengunjungi Taman Permenungan Soekarno, Rabu (1/6)

“Ketika Bung Karno kembali ke Ende setelah dibuang kembali ke Bengkulu, 12 tahun setelah itu beliau datang kembali ke Ende sebagai seorang Presiden Republik Indonesia dan di hadapan ribuan penduduk Ende ketika itu beliau mengungkapkan bahwa ‘Di kota ini aku temukan lima butir mutiara dan di bawah pohon sukun ini kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Noncent W. Noi.

Ia mengatakan dalam sejarahnya, pohon sukun yang pertama itu mati pada tahun 1972. Pemerintah ketika itu sudah mencoba untuk menanam, tetapi tidak tumbuh. Selanjutnya, pada masa kepemimpinan Bupati Ende periode 1973-1983, Herman Joseph Gadi Djou, ia meminta kepada sahabat-sahabat Bung Karno yang masih hidup ketika itu untuk menanam kembali pohon sukun tersebut

Peristiwa penanaman kembali itu terjadi pada tanggal 17 Agustus 1980 dan pohon sukun itu pun tumbuh sampai saat ini. “Uniknya, Bapak Presiden, pohon sukun ini tumbuh dengan lima cabang. Bagi orang Ende, Bapak Presiden, ini membuktikan bahwa Ende memang benar-benar rahimnya Pancasila,” ungkapnya.

Di Ende hari ini, pohon sukun itu menjadi saksi penceritaan kembali bagaimana kelima nilai luhur Pancasila direnungkan. Tentu tak ada Bung Karno lagi. Pohonnya juga bukan yang dulu. Namun, yang pasti, kalau pendahulunya dulu hanya berbatang satu, si pohon sukun penerus ini punya lima batang.

*ps

Sumber : presidenri.go.id dan setneg.go.id diakses 4 Juni 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: