Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

BUDAYA ANTRI JADI TOLAK UKUR SEBUAH BANGSA

Anak Sekolah Dasar sedang mengantri
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

BUDAYA ANTRI JADI TOLAK UKUR SEBUAH BANGSA

Dalam teori budaya mengantri (queue culture) dikatakan bahwa seseorang harus bersedia menekan egonya agar tercipta ketertiban ideal saat mengantri, meski tidak ada pihak yang berwenang untuk mengawasi.

 

Jakarta (12/05/2021) Saat mengantri di bandara, supermarket, bank atau pom bensin, terkadang kita bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah kita berada di jalur antrian yang benar? Apakah antrian di jalur ini akan lebih cepat dibanding jalur yang lain? Sebelum pertanyaan itu terjawab, muncul seseorang yang memotong antrian dan tiba-tiba berada di depan, membuat posisi antrian kita menjadi lebih panjang. Kesal sudah pasti, namun lebih dari itu di dalam hati kita juga mengeluh: “Beginikah sikap tertib dan disiplin bangsa kita?”

 

Istilah “mengantri” mungkin sering dianggap klise dan remeh, sebab istilah ini muncul hampir setiap saat dalam kosakata keseharian kita. Namun yang sulit adalah praktiknya. Dan yang tersulit adalah menjadikannya sebagai sebuah bagian dari budaya dalam kehidupan kita. Meskipun kebanyakan orang menganggapnya sebagai klise, tapi secara teoritis budaya mengantri, yang diistilahkan dengan queue culture, telah lama dipelajari dalam studi sosiologi secara serius.

 

Dalam teori queue culture, seseorang harus bersedia menekan egonya agar tercipta ketertiban ideal saat mengantri, meski tidak ada pihak yang berwenang untuk mengawasi. Menurut David H. Maister (2005), dalam sistem mengantri dikenal istilah FIFO atau singkatan dari first in, first out (siapa yang datang pertama, maka dia yang terlebih dahulu dilayani). Hal ini sesuai dengan aturan norma yang berlaku di banyak negara. Maka siapa pun yang datang belakangan, harus rela untuk dilayani lebih lama. Meski demikian, pada situasi darurat, seperti di rumah sakit, orang yang datang belakangan boleh saja memotong antrian dikarenakan kondisi kritis, hendak melahirkan atau kecelakaan. Dengan kata lain, secara normatif orang-orang yang (beralasan) sibuk, waktunya sempit atau sedang terburu-buru tidak memiliki hak untuk memotong antrian. Jika memang ingin dilayani cepat, maka harus datang duluan. Ini merupakan konsekuensi logis dalam disiplin waktu.

 

Menurut Wexler (2015), budaya mengantri sangat penting bagi sebuah bangsa, sebab ia dapat membentuk sikap disiplin dan kemauan untuk menghargai orang lain di tengah masyarakat. Tolak ukurnya bukan apakah ada pihak yang mengawasi atau tidak, melainkan karena kesadaran yang datang dari dalam diri seseorang. Oleh karena itu budaya mengantri dapat dijadikan ukuran apakah sebuah masyarakat mentaati aturan dan norma di negaranya atau tidak. Ini dapat menjadi cerminan bagi sebuah bangsa. Artinya, jika sebuah bangsa tertib dalam mengantri, maka bangsa itu dapat diasumsikan sebagai bangsa yang disiplin dan tertib, demikian sebaliknya.

 

Sobat Revmen, selain dapat memberikan citra pada sebuah bangsa, budaya mengantri juga memiliki fungsi lain, yaitu untuk melatih kesabaran, melatih disiplin waktu, belajar menghargai orang lain, serta melatih sikap tertib dalam mentaati aturan dan norma yang berlaku. Kita bisa menjadikan budaya antri sebagai salah satu bagian dalam daftar prioritas pendidikan karakter kita. Kita dapat menerapkannya di mana saja, termasuk saat di bandara, di bank, supermarket, WC umum, pom bensin, atau di depan mesin ATM. Kalau kita masih suka “nyodok” antrian, seharusnya kita malu, bukan? #AyoBerubah #GerakanIndonesiaTertib

 

 

Referensi:

 

David H. Maister. (2005). The Psychology of Waiting Lines. Available at: http://www.columbia.edu/~ww2040/4615S13/Psychology_of_Waiting_Lines.pdf. Diakses tanggal 7 Mei 2021.

 

Kim Litelnoni. (2019). Available at: https://medium.com/hipotesa-indonesia/queue-culture-di-indonesia-7579fe08a669. Diakses tanggal 7 Mei 2021.

 

Mark N. Wexler. (2015). Re-Thinking Queue Culture: The Commodification of Thick Time. Available at: https://www.academia.edu/29660229/Re_thinking_queue_culture_the_commodification_of_thick_time. Diakses tanggal 7 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: