Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Belale’: Arisan Gotong Royong Menggarap Ladang ala Masyarakat Sambas

Belale merupakan arisan gotong royong menggarap ladang ala masyarakat Sambas
  • 13 April 2021
  • 0 Komentar

Belale’: Arisan Gotong Royong Menggarap Ladang ala Masyarakat Sambas

Dengan modal semangat gotong royong bahu membahu menggarap ladang, kiranya tradisi belale’ dapat menjadi teladan guna melestarikan tradisi luhur nusantara maupun mereplikasi semangat gotong royong dengan situasi aktual masa kini.

 

Jakarta (08/04/2021) Gempuran modernisasi dan konsumerisme melahirkan sikap individualistis di tengah masyarakat yang membuat praktik-praktik gotong royong kian memudar. Namun di Kalimantan Barat, ada tradisi luhur yang dilandasi semangat gotong royong yang telah berlangsung turun temurun dan masih lestari hingga saat ini. Adalah belale’ atau pengerih, yang merupakan tradisi gotong royong menggarap ladang oleh masyarakat di wilayah Sambas. Yuk sobat Revmen, kita telisik lebih jauh apa itu belale’ dan nilai-nilai gotong royong yang melandasinya!

Belale’ adalah istilah yang digunakan suku Dayak di Sambas, Kalimantan Barat, yang bermakna gotong royong. Para warga yang merupakan petani dan terlibat dalam kegiatan belale’ masing-masing akan memperoleh bantuan secara bergantian atas pekerjaan yang sedang dikerjakan, yang bertujuan untuk saling membantu satu dengan yang lainnya tanpa upah. Sehingga dapat dikatakan pula belale’ memiliki kesamaan dengan sistem arisan, namun yang membedakan ialah bentuk dari kegiatan yang dilakukan yakni bergiliran menggarap ladang atau sawah. 

Kegiatan belale’ sendiri meliputi proses menanam tunas padi, membersihkan lahan atau merumput, hingga menuai padi ketika musim panen tiba yang dalam bahasa Sambas disebut beranyi. Jumlah warga yang diajak kerja sama menggarap sawah dalam kegiatan belale’ tergantung musyawarah atau kesepakatan bersama, namun biasanya berjumlah antara 8 hingga 10 orang. Adapun waktu pelaksanaan belale’ lazimnya dilakukan dari siang hingga sore hari.

Tradisi belale’ yang banyak digeluti oleh ibu-ibu petani tersebut menunjukkan bahwa kaum wanita memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat Sambas. Di mana, ruang aktivitas wanita pun tak melulu berkutat pada urusan dapur dan pekerjaan rumah tangga lainnya, melainkan dapat pula bekerjasama dengan kaum laki-laki bekerja di ladang atau sawah. Dengan konsep gotong royong yang melandasinya, tradisi belale’ membawa manfaat positif yaitu mempererat persaudaraan, solidaritas, dan keharmonisan antarwarga.

Dengan bergotong royong dan saling timbal balik bergilir menggarap ladang, maka dapat mempercepat pula pekerjaan dalam meladang sehingga menjadi lebih efisien baik dari segi materi, waktu, dan tenaga. Mengutip Detik.com, apabila menyewa orang untuk membantu menanam padi di sawah harus mengeluarkan upah Rp 50 ribu per harinya dibandingkan dengan belale’ yang dilakukan secara bergilir sehingga tak perlu mengeluarkan upah. Namun di samping nilai ekonomisnya, para warga pun memilih belale’ karena bisa sambil mengobrol dan bersenda gurau sehingga pekerjaan berat pun terasa ringan.

Tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu, bahkan ditetapkan sebagai dalam salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sejak 2019 , loh sobat Revmen! Hal tersebut menunjukkan Indonesia menyimpan kekayaan budaya yang begitu beragam. Seperti halnya belale’ yang merupakan salah satu tradisi luhur asal Kalimantan Barat, kiranya dapat menjadi teladan untuk terus merawat nilai-nilai gotong royong di tengah masyarakat maupun mereplikasinya dengan situasi aktual masa kini. Sebagai generasi penerus bangsa, yuk sobat Revmen mari sama-sama kita rekatkan dan kembalikan lagi semangat gotong royong sebagai jati diri bangsa Indonesia! #AyoBerubah #IndonesiaBersatu

 

Sumber Foto:

http://ditlin.tanamanpangan.pertanian.go.id/assets/front/img/news/87Kalbar%206.jpg

 

Referensi:

News.detik.com, 15/12/20

Nusantaranews.co, 12/08/16

Kebudayaan.kemdikbud.go.id, 02/11/19

Suarakalbar.co.id, 16/08/19

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: