Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

BELAJAR GOTONG ROYONG PADA TRADISI MASYARAKAT SUKU BADUY

Masyarakat Baduy sedang gotong royong memperbaiki rumah warga
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

BELAJAR GOTONG ROYONG PADA TRADISI MASYARAKAT SUKU BADUY

Tradisi gotong royong masih dipertahankan di banyak daerah di Indonesia. Di Minahasa terdapat tradisi gotong royong Mapalus, di Sumatera Utara terdapat Marsiadapari, di Bengkulu terdapat Ngacau Gelamai atau di NTT terdapat gotong royong Gemohing. Suku Baduy di Banten pun memiliki tradisi gotong royong yang menarik.

 

Jakarta (23/04/2021) Suku Baduy berada di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masyarakat Baduy hidup secara sederhana dan dekat kepada alam. Oleh karena itu jenis pekerjaan utama masyarakat Baduy adalah bertani di lahan kering, atau yang disebut dengan istilah ngahuma. Hampir seluruh masyarakat Baduy bertani. Sementara untuk mengisi waktu luang, sebagian masyarakat Baduy melakukan pekerjaan sampingan, seperti menyadap nira, membuat anyaman dan menenun kain khas Baduy.

 

Salah satu hal menarik dari Suku Baduy adalah masih menjalankan tradisi gotong royong. Sobat Revmen mungkin penasaran, seperti apa tradisi gotong royong yang masih dilestarikan suku Baduy. Ada empat jenis tradisi gotong royong di Baduy, yaitu tradisi nyambungan, liliuran, dugdug rempug dan tunggu lembur.

 

Nyambungan adalah tradisi gotong royong memberikan sumbangan kepada warga desa yang sedang melakukan hajatan atau pesta, seperti hajatan perkawinan atau khitanan. Namun uniknya, tradisi nyambungan dilakukan dengan sistem resiprositas atau timbal balik. Jadi, meskipun memiliki tujuan untuk membantu meringankan beban warga yang sedang hajatan, tapi suatu saat penyelenggara hajatan harus mengembalikan bantuan itu pada si pemberi bantuan suatu saat nanti. Bantuan berupa sumbangan ini mirip dengan menabung dan dilakukan tanpa paksaan atau standar jumlah tertentu.

 

Liliuran adalah tradisi gotong royong membantu meringankan pekerjaan warga yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Dalam tradisi liliuran, orang yang membantu bekerja tidak akan diberi upah, melainkan akan dibantu kembali saat membutuhkan (arisan tenaga). Mirip dengan tradisi nyambungan yang menganut sistem resiprositas, namun bedanya ini dilakukan dalam konteks pekerjaan.

 

Dugdug rempug adalah tradisi gotong royong bekerja bakti dalam membangun atau memperbaiki fasilitas umum desa. Seperti memperbaiki jembatan atau membersihkan jalan yang biasa dilalui warga. Untuk membangun fasilitas pribadi juga dilakukan, tapi hanya pada saat awal pendirian bangunan.

 

Tunggu lembur adalah tradisi gotong royong siskamling (sistem keamanan keliling) atau ronda. Kebanyakan warga Baduy adalah petani. Namun lahan yang harus mereka olah biasanya jauh dari rumah. Saat mereka pergi bertani, belum tentu mereka akan pulang di hari yang sama. Oleh karena itu seringkali desa menjadi sepi. Untuk menjaga keamanan, dibuatlah sistem tunggu lembur (menjaga kampung). Tunggu lembur membutuhkan sekelompok orang untuk menjaga desa selama 24 jam dengan sistem bergilir. Setiap hari pasti ada kelompok warga yang menjaga desa sesuai jadwal piketnya. Sambil bertugas melakukan tunggu lembur, biasanya mereka akan membuat atap kiray, memotong rotan, atau sekedar membakar kayu dan membuat makanan.

 

Sobat Revmen, pada masyarakat kota besar, tradisi gotong royong mungkin sudah mulai ditinggalkan. Di Jawa Tengah misalnya, tradisi bersih-bersih lingkungan, ronda malam, gugur gunung atau kerik desa sudah ditinggalkan. Demikian pula di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menurut penelitian Ira Siti Rohimah yang berjudul, “Analisa Penyebab Hilangnya Tradisi Rarangken,” tradisi gotong royong, seperti rarangken, sudah tidak lagi dijalankan oleh masyarakat Garut. Namun demikian, di daerah-daerah tradisi gotong royong masih dipegang teguh.

 

Sebagaimana masyarakat Baduy, ada baiknya kita tetap melestarikan gotong royong, seperti bekerja bakti membersihkan lingkungan saat libur, meronda malam demi menjaga keamanan lingkungan atau membantu tetangga yang sedang dalam kesulitan. Di samping itu, pada era digital seperti sekarang, gotong royong juga dapat dilakukan dengan menggunakan medium teknologi, seperti berpartisipasi dalam memberikan sumbangan bagi masyarakat yang membutuhkan melalui kitabisa.com dan yang sejenisnya. Sobat Revmen, gotong royong adalah jati diri bangsa ini. #AyoBerubah #GotongRoyong

 

Referensi:

https://revolusimental.go.id/bctzOFejaX/kabar_revolusi_mental/berita_dan_artikel/edit?user_code=223#https://revolusimental.go.id/bctzOFejaX/kabar_revolusi_mental/berita_dan_artikel/edit?user_code=223#Sistem Gotong Royong Pada Masyarakat Baduyhttp://ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id/patanjala/index.php/patanjala/article/view/128#:~:text=Sistem%20Gotong%2Droyong%20 pada%20Masyarakat,sesuatu%20kepada%20warga%20yang%20sedang

 

Nama Lain Gotong Royong di Berbagai Daerah di Indonesia. Available at: https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/16/184850169/nama-lain-gotong-royong-di-berbagai-daerah-di-indonesia?page=all. Diakses tanggal 13 April 2021.

 

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: