Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Bayu Skak : Jangan Minder dengan Budaya Lokalmu!

Gerakan Indonesia mandiri, kebudayaan, lokal, bahasa daerah
  • 03 April 2022
  • 0 Komentar

Bayu Skak : Jangan Minder dengan Budaya Lokalmu!

Film Yo Wis ben adalah cara Bayu Skak menjelaskan revolusi mental. “Mentalnya dibangun dulu, mentalnya local pride, tidak minder dengan budaya lokalnya sendiri! “

 

Jakarta (2/04/2022), Sobat Revmen, Siapa yang nggak kenal dengan penulis,  aktor,  youtuber kelahiran kota Malang satu ini? Awal memulai karir melalui video Youtube, melebar ke dunia perfilman Indonesia, hingga memiliki bisnis yang beromzet besar. Dialah Bayu Eko Moektito atau yang lebih akrab disebut Bayu Skak.

Bayu Skak adalah salah satu seniman yang konsisten menggunakan bahasa daerah khususnya Jawa Timur dalam pembuatan semua konten dalam channel Youtube miliknya. Bahkan, Bayu tidak sungkan untuk melontarkan kata umpatan seperti jancok dan sebagainya.

“Ya jelas, saya bangga kok dengan budaya lokal, dengan bahasa lokal. Mimpi besar saya adalah membawa local value  into pop culture, “tegasnya kala ditemui dalam acara Workshop Penguatan Media Gerakan Nasional Revolusi Mental, Kamis (31/3) lalu di Harris Hotel, Jakarta.

Bagi Bayu, budaya lokal itu adalah modal besar untuk merangsang budaya kreatif. Menurutnya, budaya kreatif adalah budaya mencari solusi. Kalau sudah terbentuk budaya kreatif baru tercipta ekonomi kreatif, lantas industri kreatif. Ia pun mencontohkan Jepang dan Korea Selatan yang sukses dengan industri kreatifnya.

“Jangan ujug-ujug (tiba-tiba) industri dikebut, tanpa pondasi ya ambrol, “urainya seraya menyebut dalam film Yo Wis ben itulah ia ingin menunjukkan revolusi mental. “Mentalnya dibangun dulu, mentalnya local pride, tidak minder dengan budaya lokalnya sendiri.  “Kreativitas akar rumput (lokal) lebih dahsyat dari bom atom, “imbuhnya.

Bayu merasa sedih dengan cap remeh dan merasa malu dengan budaya lokal. “Lha wong memang budaya kita itu ya itu-itu saja. Contohnya sopir ngopi di warung sambil menikmati musik dangdut koplo di Pantura. Lho mengapa yang disorot hanya soal warung remang-remang? Ini bagian budaya kita, mengapa tidak digarap wisata transit sopir jalur Pantura, “urai Bayu seraya mengapresiasi berdirinya warung kopi (warkop)  di Manhattan, New York, USA.

“Inilah yang harus direvolusi, banggalah dengan kelokalan kita. Indonesia itu kaya budaya, jangan sampai musnah karena kita minder dengan bahasa lokal kita, budaya lokal kita. Jepang sangat bangga dengan national pridenya, demikian juga Korea. Anime Jepang mengendong sekumpulan brand Jepang. Jadi jualah konten dulu lantas membonceng apa saja, “pungkas Bayu.

 

Reporter :PS

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: