Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Baharuddin Lopa, Legenda Pendekar Hukum yang Jujur dan Sederhana

Baharuddin Lopa, Jaksa Agung yang Berintegritas, Jujur, dan Sederhana
  • 01 April 2021
  • 0 Komentar

Baharuddin Lopa, Legenda Pendekar Hukum yang Jujur dan Sederhana

Nama Baharuddin Lopa akan selalu dikenang sebagai seorang jaksa agung yang memberikan teladan integritas sesungguhnya, lewat nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kesederhanaan yang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya. 

 

Jakarta (29/03/21) "Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan! Jangan takut menegakkan hukum dan jangan takut mati demi menegakkan hukum!”. Petikan kalimat tersebut keluar dari seorang mantan Jaksa Agung di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Baharuddin Lopa. Setelah 19 tahun berpulang, namanya masih melegenda sebagai sosok pendekar hukum yang lekat dengan semangat antikorupsinya. Baharuddin Lopa yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia itu dikenal sebagai sebagai sosok yang berani, jujur, sederhana, dan berintegritas tinggi dalam menegakkan hukum. Yuk sobat Revmen, mari kita teladani dan simak kisah inspiratif berikut, yha!

 

Pria kelahiran Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu dikenal berprestasi sejak usia muda. Bagaimana tidak? Saat usianya baru 23 tahun dan masih menjadi mahasiswa hukum di Universitas Hasanudin, Lopa telah berkarir sebagai jaksa di Kajari Makassar pada tahun 1958. Kemudian, di usianya yang baru 25 tahun ia dilantik menjadi Bupati Majene. Selang dua tahun, Lopa lantas menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di sejumlah wilayah, mulai dari Tarnate, Aceh, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta, hingga menjadi Jaksa Agung meski dengan masa jabatan yang singkat karena pria berkacamata itu menghembuskan napas terakhirnya pada Juli 2001.

 

Selama memegang jabatan publik dan berkarier sebagai jaksa, Lopa menunjukkan integritas dirinya dengan tidak berkompromi pada hal ihwal korupsi. Ia tak gentar mengusut kasus-kasus korupsi kelas kakap yang menyangkut para konglomerat Indonesia. Tanpa pandang bulu, Lopa bahkan pernah menjebloskan mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia Bob Hasan, termasuk mengusut dugaan kasus korupsi mantan Presiden Soeharto. Bahkan atas nama keadilan dan kebenaran, ia pernah mengusut kasus pengadaan fiktif Al-Quran senilai Rp 2 juta yang menyangkut karibnya sendiri, K.H. Badawi, sebagai Kepala Kanwil Agama Sulawesi Selatan saat itu. Lopa yang anti dengan pemberian hadiah dalam bentuk apa pun itu pernah menulis di kolom surat kabar, “Jangan berikan uang kepada para jaksa. Jangan coba-coba menyuap para penegak hukum, apa pun alasannya!”.

 

Selain jujur dan berani, sosok Lopa juga dikenal dengan kesederhanaannya dan tidak mau memanfaatkan fasilitas kedinasan di luar keperluan bekerja atau untuk urusan keluarga. Telepon dinas di rumahnya selalu dikuncinya dan ia melarang siapa pun di rumahnya memakainya. Pria kelahiran 27 Agustus 1935 itu juga melarang istrinya menggunakan mobil dinas meski hanya untuk pergi ke pasar atau untuk anaknya berangkat sekolah. Lopa pernah pula mengembalikan bensin mobil dinas yang diisikan oleh rekan sesama jaksa.

 

Karena itu untuk menambah penghasilannya, Lopa rajin menulis kolom di berbagai majalah dan surat kabar, hingga membuka rental play station dan warung telekomunikasi di samping rumahnya. Pada 1970-an Lopa bahkan pernah menyuruh ajudannya untuk menyerahkan uang Rp 100 ribu pemberian hadiah dari Gubernur Sulawesi Tenggara kala itu, ke panti jompo di Kendari ___ yang mana nilai uang tersebut terbilang besar pada masanya. Parcel yang datang ke rumahnya pun akan selalu ia kembalikan. Lopa mengatakan, “Dirinya tidak perlu diberi hadiah karena ia memiliki gaji, yang perlu diberi hadiah adalah rakyat yang susah”.

 

Selain itu sebagai seorang pejabat, Lopa justru memilih penawaran mobil yang paling murah yakni mobil Corona senilai Rp 30 juta, yang ia bayar dengan cara dicicil kepada Jusuf Kalla yang dahulu merupakan pengusaha otomotif di Makassar. Lopa melakukan itu semua bukan karena ia melarat, namun kesederhanaan memang ia pilih sebagai jalan hidup ___ sekalipun dilingkupi dengan berbagai fasilitas kemewahan sebagai seorang pejabat. Setidaknya, pria yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Arab Saudi itu pernah mencatatkan kekayaan pribadinya senilai Rp 1,9 miliar dan simpanan 20 ribu dollar AS. Lopa sendiri pun merupakan keturunan bangsawan, kakeknya yang bernama Mandawari adalah seorang Raja Balangnipa yang juga dikenal bersahaja di wilayah Polewali Mandar, Sulawesi Selatan. Wilayah ini sekarang masuk ke dalam Provinsi Sulawesi Barat, ya sobat Revmen.

 

Di tengah pemberitaan kasus-kasus korupsi yang santer di media massa, nama Baharuddin Lopa akan selalu dikenang dan dirindukan sebagai jaksa yang amanah dan berintegritas. Mari kita meneladani keberanian, kejujuran, dan kesederhanaannya. Semoga kelak generasi penerus bangsa lainnya banyak yang meneruskan jejak perubahan almarhum.

 

Sumber Foto:

https://www.liputan6.com/news/read/3874039/nama-baharudin-lopa-kembali-muncul-siapa-dia

 

Referensi:

Tirto.id, 3/7/18

Mojok.co, 4/11/19

Idntimes.com, 11/11/19

Lontar.id, 11/11/19

Era.id, 23/2/21

https://aclc.kpk.go.id/

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: