Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

AWAS! UPLOAD VIDEO SEMBARANGAN DI YOUTUBE BISA MELANGGAR HAK CIPTA

Logo Youtube
  • 04 Agustus 2021
  • 0 Komentar

AWAS! UPLOAD VIDEO SEMBARANGAN DI YOUTUBE BISA MELANGGAR HAK CIPTA

Tahun 2018 label musik Nagaswara melayangkan gugatan terhadap pihak Gen Halilintar atas pelanggaran hak cipta lantaran menyanyikan ulang lagu “Lagi Syantik,” mengubah liriknya dan memproduksi video klip tanpa izin, lalu mengunggahnya ke Youtube.

 

Jakarta (22/07/2021) Saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017 di Pekanbaru, Riau, Presiden Jokowi meminta salah satu anak Sekolah Dasar, yang bernama Rafia Fadila, untuk berdialog dengannya. Presiden Jokowi bertanya soal cita-cita anak itu dan dijawab secara lantang oleh Rafi, “(Ingin) jadi Youtuber, pak.” Jawaban kelas 6 SDN 36 Pekanbaru itu sontak membuat Presiden dan para peserta memberikan respon meriah. Rafi adalah perwakilan dari sekian banyak anak bangsa yang ingin menjadi bagian dari tren baru di era digital. Dan tahun 2017 merupakan periode semakin terbukanya masyarakat pada jenis-jenis profesi baru, salah satunya profesi menjadi Youtuber.

 

Namun menjadi Youtuber tentu tidak sekedar merekam dan mengunggah (upload) video saja. Lebih dari itu, ada aturan yang berlaku di dalam prosesnya, termasuk memahami apakah konten yang diproduksi terbebas dari pelanggaran hak cipta atau tidak. Apa sih yang dimaksud dengan hak cipta? Menurut UU No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Sementara menurut Copyrightalliance.org, hak cipta adalah hak eksklusif yang secara otomatis diberikan pada seorang pembuat karya atas karya-karyanya. Hak cipta adalah merupakan kekayaan intelektual dalam berbagai bidang. Tujuan dari pelaksanaan hukum hak cipta adalah untuk melindungi hak eksklusif, hak moral, dan ekonomi bagi pencipta. Ada tiga hak penting yang dilindungi dalam hak cipta, yaitu hak eksklusif, hak moral dan hak ekonomi.

 

Hak eksklusif adalah hak pembuat karya untuk mengontrol mekanisme kepemilikan juga distribusi dari karyanya. Dalam hak eksklusif berarti siapa pun yang ingin menggunakan, menyalin, memperbanyak, dan menjual suatu karya cipta harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pembuatnya.  Hak moral berarti walaupun karya tersebut telah dibeli, pembeli harus tetap mencantumkan nama pembuat karya. Hak moral membuat karya akan selalu lekat dengan penciptanya. Sementara hak ekonomi berarti pembuat karya berhak mendapatkan imbalan ekonomi dari pihak-pihak yang menggunakan karyanya.

 

Youtube adalah platform digital berbasis internet yang menyajikan berbagai kemudahan kepada publik untuk menikmati dan mempublikasikan konten video secara gratis. Kehadiran Youtube juga menghadirkan konten kreatif yang dihasilkan oleh pengguna atau yang dikenal dengan Youtuber. Isi video yang diproduksi dan dipublikasikan oleh Youtuber bervariasi, sesuai dengan hobi dan kepentingannya. Tapi bagaimana jika konten yang di upload melibatkan orang atau hasil karya orang lain? Apakah ada konsekuensinya? Jawabnya, ada!

 

Mari kita lihat sebuah contoh. Pada tahun 2018 label musik Nagaswara melayangkan gugatan terhadap pihak Gen Halilintar atas pelanggaran hak cipta lantaran meng-cover lagu “Lagi Syantik.” Lagu tersebut awalnya dipopulerkan oleh penyanyi dangdut Siti Badriah. Cerita bermula pada 2018, ketika Gen Halilintar menyanyikan ulang lagu “Lagi Syantik” dengan mengubah liriknya dan memproduksi video klip tanpa izin. Lagu tersebut kemudian diunggah ke channel YouTube. Karena hal itulah, pihak Nagaswara Publisherindo Musik melayangkan gugatan terhadap Gen Halilintar.

 

Melihat contoh kasus Gen Halilintar di atas, ada dua pelanggaran hak cipta yang dilanggar, yaitu menyanyikan ulang (cover) lagu tanpa meminta izin dan mengubah lirik lagu tanpa meminta izin. Namun demikian, pelanggaran hak cipta di Youtube tidak terbatas pada menyanyikan ulang sebuah lagu atau mengubah lirik tanpa izin, melainkan juga terdapat beberapa jenis pelanggaran lain, di antaranya mengunggah ulang konten video (baik utuh maupun sepotong) tanpa meminta izin, menggunakan konten tertentu milik orang lain tanpa izin dan menggunakan ide kreator lain tanpa memberi keterangan atau meminta izin. Konsekuensi pelanggaran hak cipta di Youtube adalah video tidak diizinkan tayang, digugat oleh pemilik hak cipta dan pada kasus tertentu diharuskan membayar denda sesuai hukum perdata yang berlaku.

 

Youtube mengidentifikasi 6 hal yang terikat pada hak cipta, yaitu: (1) Karya audio visual, misalnya acara TV, film, dan video online; (2) Rekaman suara dan komposisi music; (3) Karya tulis, misalnya bahan kuliah, artikel, buku, dan komposisi musik; (4) Karya visual, misalnya lukisan, poster, dan iklan; (5) Video game dan software komputer; dan (6) Karya drama, misalnya lakon dan musikal.

 

Youtube juga memberikan beberapa catatan pendukung agar seorang kreator tidak melanggar hak cipta orang lain dengan memperhatikan beberapa hal dasar berikut; Pertama, dengan memberikan kredit (mencantumkan nama pemilik) tidak otomatis seorang kreator mempunyai hak untuk menggunakan karya orang lain; Kedua, karena alasan sudah membeli sebuah konten (misalnya membeli lagu di iTunes) tidak otomatis seorang kreator memiliki hak untuk mengunggah konten itu secara bebas; Ketiga, karena merasa telah merekam sendiri acara di konser, bioskop atau TV, tidak otomatis seorang kreator memiliki hak untuk menggunakannya.

 

Youtube kemudian memberikan dua solusi untuk meminimalisir pelanggaran hak cipta. Pertama, gunakan fitur check untuk mengantisipasi atau mengurangi jumlah video yang memiliki hak cipta. Apabila opsi "Copyright" dan "Ad Suitabillity" sudah mendapatkan ceklist berwarna hijau, artinya video tersebut dianggap aman, karena sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Kedua, melakukan klaim Content ID. Dengan melakukan klaim Content ID, seorang kreator dapat memutuskan tindakan yang akan dilakukan jika konten dalam suatu video di YouTube memiliki kecocokan dengan karya miliknya. Jika ditemukan kecocokan, video tersebut akan mendapatkan klaim Content ID.

 

Sobat Revmen, para Youtuber atau kreator yang serius menekuni profesi ini biasanya bekerja sungguh-sungguh dalam menciptakan dan memplubikasikan karya mereka. Proses pembuatan karya tersebut bukan hal yang mudah. Maka secara hukum dan moral kita harus dapat memahami bahwa mereka memiliki hak atas hasil karya mereka itu. Melanggar hak cipta mereka bisa berdampak berhentinya para Youtuber dalam membuat karya-karya yang bermanfaat. Yuk, kita tingkatkan integritas dalam berkarya dan tertib di dalam ruang digital. Dengan demikian kita dapat tumbuh menjadi bangsa yang menghargai hak cipta dan menghormati karya-karya orang lain, sebagaimana kita juga ingin agar orang lain menghargai karya dan hak cipta kita. #AyoBerubah #HakCipta

 

Referensi:

Hukumonline.com. (2019). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Youtube.com. (2021). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Youtube.com. (2021). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Akurat.co. (2020). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: