Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Arky Gilang: Bantu Atasi Sampah Organik di Banyumas Lewat Budidaya Maggot

Arky Gilang dengan produk maggot kering sebagai hasil dari pengelolaan sampah organik
  • 27 November 2021
  • 0 Komentar

Arky Gilang: Bantu Atasi Sampah Organik di Banyumas Lewat Budidaya Maggot

Lewat  budidaya maggot (larva lalat) atau Black Soldier Fly (BSF), Arky Gilang membantu menyelesaikan permasalahan sampah di Banyumas ___ sekaligus menghadirkan inovasi pakan ternak alternatif bagi kebutuhan industri peternakan, perikanan, dan pertanian. 

 

Jakarta (27/11/2021) Sobat Revmen, sampah organik menjadi salah satu penyumbang besar timbunan sampah di Indonesia. Padahal tak kalah dengan sampah anorganik, sampah organik pun juga membahayakan bagi lingkungan karena ikut menyumbang emisi yang mengakibatkan krisis iklim. Ialah Arky Gilang, pria yang berupaya menjawab permasalahan sampah organik di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, melalui budidaya maggot (larva lalat) atau Black Soldier Fly (BSF), yang nantinya diolah menjadi sumber protein untuk dijadikan pupuk dan pakan ternak. Seperti apa? Yuk sobat Revmen, kita cari tahu lebih jauh terobosan bagi lingkungan oleh pemuda inspiratif berikut ini!

 

Meninggalkan sejumlah perusahaan yang telah dirintisnya di kota besar, Arky Gilang (35) memilih pulang ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah, demi menjalankan usaha pengolahan sampah organik. Hal tersebut berangkat dari kepedulian Arky dan teman-teman satu desanya yang membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam rangka menanggulangi masalah sampah pada 2018 lalu, yang secara lebih khusus kemudian menangani masalah sampah organik. Menyadari keterbatasan ruang dan waktu pengomposan yang memakan waktu lama, akhirnya dipilihlah opsi untuk membudidayakan maggot atau larva BSF guna menangani sampah organik secara lebih cepat dan efektif.

 

Larva BSF yang telah besar setelah mengkonsumsi bubur sampah organik nantinya akan tumbuh memiliki protein yang sangat tinggi dan siap dipanen sebagai pakan ternak. Secara lebih khusus, produk akhir dari pengolahan sampah organik tersebut akan dijual berupa maggot basah, maggot kering, dan pupuk organik yang biasa dikenal dengan sebutan kasgot atau bekas maggot dengan kandungan unsur hara yang tinggi. Menyasar pasar lokal ketimbang ekspor, Arky memasarkan produk maggotnya tersebut melalui brand Mr. Maggot. Selain di wilayah Banyumas, produk maggot basah dari usahanya tersebut dipasarkan hingga Kebumen, Pati, dan sejumlah daerah lainnya. Sedangkan maggot kering dipasarkan hingga Jabodetabek, Batam, Bali, dan Lombok.

 

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga bekerja sama dengan kelompok pembudidaya ikan di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pemberian maggot sebagai pakan ikan tersebut membantu petani pembudidaya ikan lantaran lebih murah ketimbang harga pelet pakan ikan. Secara tidak langsung pula, usaha budidaya maggot yang dijalankannya tersebut ikut membantu menyelesaikan masalah timbulan sampah organik di Kabupaten Banyumas. Di mana untuk memenuhi pasokan sampah organik sebagai pakan maggot, Arky bekerja sama dengan KSM Banjarnyar yang mengumpulkan sampah organik dari lima desa sekitar. Selain itu, pihaknya juga bermitra dengan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sokaraja Kulon, untuk membantu menyelesaikan pengelolaan sampah organik di Banyumas.

 

Usaha maggot yang sukses dijalankan Arky tersebut ternyata bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya yang mengambil Ilmu Geodesi. Ia lantas mengaku menekuni usaha maggot dilakukan atas dasar pengabdian dan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya di kampung halamannya. Lewat usaha maggotnya itu pula ia merasa dapat mengambil peran untuk turun dan berkontribusi langsung di tengah-tengah masyarakat sehingga kebermanfaatannya pun dapat lebih terasa. Mengutip Antaranews.com, hal tersebut lebih lanjut membuat Arky mulai mengembangkan desanya melalui berbagai kegiatan seperti pengelolaan sampah dan wisata. Bahkan hingga saat ini, ia masih dipercaya sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Banjaranyar.

 

Mengutip Sariagri.id, bermodalkan maggot seberat 5 gram pada awal merintis usahanya, kini Arky mampu memproduksi 5 kuintal maggot basah setiap harinya atau setara 15 ton per bulannya. Dari kisaran 15 ton larva hidup itu, pihaknya hanya akan memproduksi 0,5 ton maggot kering. Sedangkan sisanya dijual dalam kondisi basah dengan harga sekitar Rp 6.000 per kilogram. Lewat usaha maggotnya tersebut pula, Arky mampu mengolah 5 ton sampah setiap hari yang berasal dari 5.500 rumah dan 72 instansi pemerintah di Kecamatan Sumbang dan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Wah, inspiratif sekali bukan, sobat Revmen?

 

Oleh karenanya sebagaimana salah satu gerakan Revolusi Mental yaitu Gerakan Indonesia Bersih, apa yang digagas Arky Gilang melalui usaha maggotnya menjadi salah satu inovasi berkelanjutan dalam mengolah sampah organik yang dapat mengurangi beban timbulan sampah di TPST wilayah Banyumas. Nah, sudah sepatutnya kita pun bijak dalam mengkonsumsi pangan agar tak terbuang percuma menjadi sampah, sekaligus memilah sampah rumah tangga, serta menerapkan metode 3R atau Reduce (kurangi), Reuse (gunakan kembali), dan Recycle (daur ulang), yha! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersih

 

 

Sumber Foto:

https://www.antaranews.com/berita/2059478/arky-gilang-sarjana-geodesi-yang-sukses-menekuni-bisnis-maggot

 

Referensi:

Satu-indonesia.com. (2021). Diakses tanggal 29 Oktober 2021.

Antaranews.com. (2021). Diakses tanggal 29 Oktober 2021.

Antaranews.com. (2021). Diakses tanggal 29 Oktober 2021.

Sariagri.id. (2021). Diakses tanggal 29 Oktober 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: