Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

APA KABAR POS RONDA?

Masyarakat sedang meronda
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

APA KABAR POS RONDA?

Salah satu hal paling menarik yang ada di pos ronda adalah kentongan. Kentongan berfungsi menjadi “alarm” dan akan dipukul berkali-kali jika sebuah situasi terjadi, seperti ada pencurian atau kebakaran.

 

Jakarta (09/05/2021) Salah satu tradisi baik yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah siskamling (sistem keamanan lingkungan) atau meronda. Meronda merupakan kegiatan berpatroli berkeliling kampung untuk menjaga keamanan, ketertiban dan ketenteraman lingkungan.

 

Kegiatan yang biasa dilakukan dalam meronda meliputi penjagaan, patroli, memberikan peringatan (atas terjadinya kejahatan, kecelakaan, bencana, atau kebakaran), memberikan bantuan pada masyarakat terkait keamanan dan ketertiban, melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian, melaporkan gangguan keamanan kepada aparat kepolisian, serta melakukan tindakan penanganan langsung di lapangan.

 

Para peronda tentu membutuhkan sebuah tempat untuk “nongkrong” bersama. Tempat tersebutlah yang disebut dengan pos ronda, yakni sebuah bangunan mungil yang biasanya dilengkapi dengan kontongan, kursi dan balai-balai. Di sinilah para peronda melakukan penjagaan, berkoordinasi atau melakukan tindakan keamanan. Kalau dipikir-pikir, pos ronda dan para peronda mirip dengan para prajurit di game tower defense, seperti game Iron Marines atau Defender 2 TD. Namun yang dijaga bukanlah kastil atau istana, melainkan kampung, yang di dalamnya berisi para kerabat dan tetangga. Sambil meronda, biasanya para peronda akan mengobrol santai untuk mendiskusikan soal-soal aktual yang terjadi kampung atau sekedar melakukan hal-hal ringan seperti main tebak-tebakan, bermain catur, bermain gaplek atau berbalas pantun.

 

Salah satu hal paling menarik yang ada di pos ronda adalah kentongan. Kentongan merupakan benda dari kayu dengan bentuk agak panjang yang terdapat lubang di bagian tengahnya, lengkap dengan alat pemukul. Kentongan berfungsi menjadi “alarm” dan akan dipukul berkali-kali jika sebuah situasi terjadi, seperti ada pencurian atau kebakaran. Selain itu, kentongan juga berfungsi untuk menunjukan waktu. Misalnya jika peronda memukul kentongan sebanyak satu kali, maka itu artinya jam sudah menunjukan pukul satu pagi. Demikian seterusnya hingga pukul 5 pagi.



 

Para peronda adalah anggota masyarakat sekitar lingkungan. Mereka terdiri dari anak-anak remaja dan bapak-bapak. Untuk meronda, setiap anggota masyarakat akan mendapatkan jadwal secara berkelompok. Pada tahun 1980-1990 an, para ibu-ibu biasanya akan datang ke pos ronda untuk memberikan cemilan dan kopi. Namun pada masa ini, nuansa itu sudah hampir punah. Pos ronda mulai ditinggalkan masyarakat seiring berubahnya zaman.

 

Masyarakat sekarang merasa cukup memasang CCTV (Closed-Circuit Television) atau televisi dengan sirkuit tertutup. Dan jika terjadi sesuatu, masyarakat tinggal melakukan panggilan telepon atau mengirim pesan melalui Whatsapp kepada pihak RT (Rukun Tetangga) atau RW (Rukun Warga). Semua dilakukan dengan cara yang menjadi lebih ringkas dan instan, namun menghilangkan nilai guyub dan gotong royong di tengah warga.

Padahal jika melihat sejarahnya, pos ronda dan kegiatan meronda memiliki sejarah yang panjang. Menurut Hendaru Tri Hanggoro (2019), kemunculan pos ronda sudah ada sebelum kedatangan colonial Eropa ke Indonesia. Di masa awal, pos ronda berfungsi sebagai gardu-gardu di pintu masuk keraton Jawa untuk menunjukan kekuasaan raja. Ketika VOC Belanda datang, fungsi gardu itu berubah menjadi penanda batas administratif sebuah desa atau kampung. Namun pada masa ini pula gardu memulai fungsinya sebagai pos penjaga keamanan.

 

Kata “ronda” berasal dari bahasa Portugis dan Belanda yang berarti “berkeliling.” Pada saat melakukan ronda, masyarakat berkeliling di kampung masing-masing dan tidak boleh melewati batas wilayah administratifnya, sebab setiap kampung sudah memiliki pos ronda dan penjaganya masing-masing. Pos ronda kemudian beralih fungsi lagi secara beragam pada masa pendudukan Jepang, pada masa kemerdekaan dan pada masa pemerintahan Orde Baru. Setelah era Orde Baru, pos ronda diambil alih kembali oleh warga. Warga tidak lagi bergantung pada pemerintah dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Hal ini kemudian menumbuhkan keakraban di antara warga.

 

Meski pos ronda pada era ini semakin ditinggalkan, namun di beberapa desa di Indonesia pos ronda masih terus dihidupkan sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, menjadi media tempat berkumpulnya warga, dan menjadi salah satu titik koordinasi melakukan gotong royong warga.

 

Sobat Revmen, menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Daripada kita cuma melototin para ABG berjoget di Tik Tok atau pamer iPhone rekondisi di Instagram, sebaiknya kita menghidupkan kembali pos ronda. Tuntutan profesi dan pekerjaan memang menjadi kendala terbesar untuk menghidupkan pos ronda. Namun selalu ada jalan untuk nilat yang baik, bukan?

 


Referensi:

 

Hendaru Tri Hanggoro (2019). Melihat Indonesia Melalui Pos Ronda. Available at: https://historia.id/urban/articles/melihat-indonesia-melalui-pos-ronda-Dnow4/page/5. Diakses tanggal 1 Mei 2021.

Jay Akbar. (2010). Jangan Berpaling dari Siskamling. Available at: https://historia.id/kultur/articles/jangan-berpaling-dari-siskamling-P3R4v/page/1. Diakses tanggal 1 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar