Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Amilia Agustin: Remaja Bandung yang Pelopori Sekolah Bebas Sampah

Amilia Agustin pelopori Sekolah Bebas Sampah yang meningkatkan kepedulian anak-anak sekolah maupun kelompok PKK untuk mengelola dan mendaur ulang sampah agar memiliki nilai guna lebih
  • 23 Juni 2021
  • 0 Komentar

Amilia Agustin: Remaja Bandung yang Pelopori Sekolah Bebas Sampah

Di usia yang masih belia dan kampanye zero waste belum gaung terdengar, Amilia Agustin, menginisiasi gerakan ‘Sekolah Bebas Sampah’ yang membangkitkan kesadaran pengelolaan sampah secara tepat di lingkungan sekolah.

Jakarta (10/06/2021) Selama ini kerap kali sosok dan kisah inspiratif diasosiasikan dengan capaian-capaian yang sifatnya terukur materi. Namun sosok berikut ini justru menginspirasi karena di usianya yang masih belia, Amilia Agustin, mampu membawa perubahan di lingkungan sekolahnya menjadi lebih peduli terhadap lingkungan. Tak hanya sekedar meningkatkan kepedulian, lewat gerakan ‘Sekolah Bebas Sampah’ atau ‘Go to Zero Waste School’ yang diinisiasinya Amilia sekaligus memberdayakan kelompok ibu-ibu sekitar melalui program daur ulang sampah. Yuk sobat Revmen, kita simak kisah inspiratif berikut ini!

Aktif bergelut dengan dunia sampah membuat Amilia Agustin (25) mendapat julukan khusus sebagai ‘Ratu Sampah Sekolah’. Sepak terjang perempuan kelahiran 20 April 1996 itu bermula saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP Negeri 11 Bandung, yang kala itu kampanye zero waste atau upaya minimalisasi produksi sampah belum populer di kalangan anak muda. Berangkat dari kegelisahannya melihat onggokan sampah dan sistem tata kelola sampah di sekolahnya yang kurang begitu apik, Amilia Agustin atau yang biasa disapa Ami lantas menghimpun beberapa kawannya untuk membentuk program pengelolaan sampah berbasis sekolah yang menjadi subdivisi baru di ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang dinamai ‘Sekolah Bebas Sampah’ atau ‘Go to Zerowaste School’.

Menyadari persoalan sampah tak hanya berhenti sampai tahap membuang sampah pada tempatnya, Ami bersama rekannya tersebut lalu melakukan giat memilah sampah di sekolah. Mulai dari melakukan sosialisasi ke siswa-siswa lain tentang pentingnya memilah sampah hingga membuat tempat pemilahan sampah organik, anorganik, tetrapak, dan kertas. Meski pada awalnya banyak siswa yang masih enggan memilah sampah, sehingga membuat Ami dan rekan kelompoknya terpaksa harus turun tangan memilah sampah yang tercampur tersebut sepulang sekolah. Setelah setahun berjalan, setiap kelas pun akhirnya melakukan pemilahan sampah dan pengomposan sampah organiknya masing-masing menjadi pupuk kompos. Bekerjasama dengan Yayasan Kontak Indonesia (YKI), bahkan sampah kemasan tetrapak yang terkumpul kemudian ditukarkan menjadi buku catatan dari daur ulang sampah tetrapak itu sendiri.

 

Ami juga merangkul ibu-ibu PKK di lingkungan sekitar sekolah untuk mendaur ulang sampah agar memiliki nilai guna lebih. Para kelompok ibu-ibu tersebut kemudian diajarkan cara mendaur ulang sampah, seperti membuatnya menjadi tas dengan bahan dasar sampah kemasan minuman sachet atau limbah kain perca. Hasil kreasi tersebut kemudian dijajakan dengan membuka stan saat pembagian rapot, sehingga inisiatifnya tersebut mampu memberdayakan ibu-ibu lingkungan sekitar yang kurang mampu untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan produk-produk daur ulang sampah. Kini, ‘Go to Zerowaste School’ yang dirintis Ami bersama teman-temannya tetap berlangsung dan sudah berjalan lintas generasi, sekalipun Ami sudah tak bersekolah lagi di sana. Bahkan SMP tempatnya dahulu bersekolah menjadi ikon sekolah sehat di Bandung dan membina empat sekolah negeri lainnya.

Tak hanya peduli pada lingkungan, Ami juga peduli terhadap sesama lho, sobat Revmen! Duduk di bangku SMA Negeri 11 Bandung, Ami mendirikan komunitas Bandung Bercerita yang memberi pengajaran secara sukarela kepada anak-anak kelompok marginal yang hidup di pemukiman kumuh kota Bandung. Sementara ketika beranjak menjadi mahasiswa di Universitas Udayana Bali, Ami menggagas bank sampah dan membentuk komunitas peduli lingkungan bernama Udayana Green Community’. Di mana selain memberikan sosialisasi ke lingkungan sekolah dan masyarakat terkait pengelolaan sampah, komunitas ini juga melatih warga di desa-desa untuk melakukan pengolahan sampah terpadu. Sesuai dengan passion-nya, selepas menamatkan bangku perkuliah Ami mendedikasikan dirinya pada bidang sosial dengan bekerja pada bagian CSR (Corporate Social Responsibilty) di salah satu perusahaan swasta nasional. Di perusahaan itu pun Ami tetap mengampanyekan masalah lingkungan, sehingga di lingkungan perusahaannya tersebut tidak lagi menyediakan plastik dan sampah di sana juga dipilah.

Atas kiprahnya tersebut, pada tahun 2009 Ami terpilih sebagai salah satu Young Changemakers oleh Ashoka Indonesia. Kemudian di usianya yang ke-14 tahun, Ami pun mengantongi penghargaan dari SATU Indonesia Awards 2010 yang menjadikannya sebagai kandidat termuda sejak ajang penganugerahan tersebut digelar. Inisiatif, keberanian, dan kegigihan Ami di usia yang masih belia untuk menggerakan perubahan membuatnya layak dijadikan teladan dan inspirasi bagi semua, khususnya generasi muda. Prakarsanya tersebut juga merepresentasikan wujud nyata gerakan revolusi mental yaitu Indonesia Melayani dan Indonesia Bersih. Yuk sobat Revmen, semangat terus berkarya dan berinovasi motori perubahan positif di masyarakat demi Indonesia yang lebih maju! #AyoBerubah 

 

Sumber Foto:

I: https://nasional.tempo.co/read/1218802/jerih-payah-sang-ratu-sampah

II:https://www.harianproperty.com/Inspirasi/details/451/Kisah-Amilia-Si-Ratu-Sampah-yang-Kini-Telah-Sarjana

 

Referensi:

Satu-indonesia.com

P2k.unugha.ac.id

Tokohinspiratif.id, 12/12/19

Pembaharublog.wordpress.com, 16/03/17

Kumparan.com, 26/06/19

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)