Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Munajat Keselamatan Bumi Dari Kaki Gunung Slamet

Sumber foto Indonesia.go.id
  • 18 Januari 2022
  • 0 Komentar

Munajat Keselamatan Bumi Dari Kaki Gunung Slamet

Masyarakat disekitar kaki Gunung Slamet sampai hari ini masih menjaga tradisi Sedekah Bumi atas syukur hasil alam yang melimpah juga sarana menjaga kerukunan warga dan memperkenalkan budaya lokal kepada publik.  

 

Jakarta, 18/01/22 - Gunung Slamet merupakan gunung berapi aktif yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Ada 5 kabupaten yang mengitari gunung Slamet yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Menurut sumber dari berbagai literatur, nama Slamet diambil dari Bahasa Jawa yang artinya selamat. Nama terseut diberikan karena masyarakat percaya meski gunung berapi tapi tidka pernah Meletus besar selama ini, sehingga membawa rasa aman pada warga.

 

Masyarakat di sekitar kaki Gunung Slamet yang membentang dari wilayah karesidenan Banyumas hingga  karesidenan Pekalongan memiliki tradisi rutin tahunan dengan mengadakan “Sedekah Bumi”. Tradisi yang diwarisi turun temurun dari para  leluhur untuk menjaga bumi.

 

Dikutip dari Indonesia.go.id Salah seorang sepuh di Kaki Gunung Slamet adalah mbah Tarmono. Beliau sesepuh komunitas adat Ketanda asal Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Setiap tahun sebelum buklan suro Sesepuh adat ini merapalkan doa keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk warga desa, keluarga Dalang Nawan dan alam semesta sekaligus wujud rasa syukur atas keberkahan hasil bumi. Doa dilakukan dalam bahasa Banyumasan dan Arab. 

Doa Mbah Tarmono merupakan inti dari kegiatan Sedekah Bumi Suran Trah Dalang Narwan yang pada masa pandemi ini mengusung tema “Merawat Tradisi Menjaga Asa dalam Pandemi”. Perhelatan ini biasanya digelar Yayasan Dhalang Nawan di halaman rumah keluarga besar Dalang Nawan, Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.


Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai pergelaran seni budaya sejak pagi hingga siang hari dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Seperti kesenian tradisional Gubrak Lesung yang dilakoni enam perempuan yang memegang alu dan satu penyanyi, tarian dan karawitan anak, tari gambyong, kolaborasi musik modern dan gamelan, serta ditutup oleh gending karawitan klasik sanggar Dalang Nawan.


Dilansir dari Kate.id Pentas tersebut tetap memerhatikan protokol Kesehatan. Para penari tampil memakai pelindung wajah (face shield) saat menari di atas panggung. Demikian pula dengan penabuh gamelan tetap memakai masker saat mengiringi tarian. Para hadirin juga diwajibkan mengenakan masker. Sebagai bagian dari kegiatan merawat tradisi Banyumasan, keluarga Dalang Nawan juga mengundang empat komunitas/desa adat terbesar Banyumas, yaitu Bonokeling (Kecamatan Jatilawang), Kalitanjung (Kecamatan Rawalo), Katanda (Kecamatan Sumpiuh), dan Tinggarwangi (Kecamatan Purwojati). Perwakilan mereka semua hadir.

 

Sehari sebelum acara puncak, para kasepuhan Karangnangka menggelar kidungan dari Sabtu malam mulai pukul 21.30 WIB hingga 00.30 WIB Minggu dini hari. Dilanjutkan dengan ziarah ke empat penjuru punden desa hingga pukul 04.30 WIB.


Sayangnya, perhelatan Suran Sedekah Bumi kali ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Biasanya dihadiri oleh ribuan orang dari seantero Banyumas maupun daerah lain. Acara gerebeg gunungan dan wayangan ditiadakan karena pandemi Covid-19.


Tak jauh dari desa Supiuh ada juga tradisi ruwat bumi di Desa Papringan Banyumas yang juga masih di kaki Gunung Slamet. Tahun lalu digelar berbeda dibanding tempat lain. Warga Desa Papringan membuat gunungan yang berisi puluhan lembar batik khas yang dibuat oleh perajin batik yang ada di wilayah tersebut.

 

Dilansir dari Merdeka.com Gunungan batik setinggi dua meter dibawa keliling desa bersama dua gunungan yang berisikan hasil bumi dari pertanian warga sekitar. Arak-arakan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, mengambil rute jalan yang melewati wilayah permukiman desa setempat. Sepanjang jalan, arak-arakan gunungan tersebut disambut meriah warga yang melihat. Sesampainya di balai desa, gunungan kemudian diletakkan bersamaan dengan gunungan berisi hasil bumi warga.

 

Menurut ketua panitia ruwat bumi Desa Papringan, Kartono, gunungan batik tersebut tidak untuk diperebutkan. Tetapi, gunungan berisi 20 kain batik tersebut menjadi medium untuk memperkenalkan batik papringan yang kini sudah dikenal luas masyarakat desa. "Gunungan (batik) ini dibuat untuk memperkenalkan seni batik yang sudah ada di Desa Papringan kepada masyarakat desa. Tujuannya agar bisa mengembangkan dan memperluas kerajinan membatik” ujar Ketua Panitia.

 

Pemerintah Kabupaten Banyumas sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus mendukung upaya “nguri-uri kebudayaan” di wilayah tersebut. Hal ini tentu tak lepas dari semangat melestarikan budaya sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam spirit Revolusi Mental. Dalam kegiatan tersebut selain doa, munajat, warga berkumpul bersilaturahmi, makan bersama menjaga kerukunan antar masyarakat serta turut memperkenalkan budaya lokal yang semakin hari makin tergerus terutama dikalangan anak muda.


Reporter : MKH

 

Referensi:

Indonesia.go.id (2020). Dikases tanggal 16 januari 2022.

Kate.id (2020). Dikases tanggal 16 januari 2022.

Merdeka.com (2021). Dikases tanggal 16 januari 2022.

 





 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: