Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Dimensi Revolusi Mental Ibadah Haji (1)

Dimensi Revolusi Mental Ibadah Haji (1)
  • 07 Juli 2022
  • 0 Komentar

Dimensi Revolusi Mental Ibadah Haji (1)

Oleh Anwar Hudijono

 

Seluruh proses ibadah haji berlangsung hanya beberapa hari. Tetapi pada waktu yang sangat singkat itu merupakan momentum proses revolusi mental yang dahsyat. Spektakuler. Muaranya untuk menghadirkan perubahan  yang lebih baik. Mengaktualisasi fitrah manusia.

 

Revolusi mental pada ibadah haji ini merupakan  bagian esensi evolusi manusia menuju Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan sesungguhnya kepada  Allah dikembalikan. Sangkan paraning dumadi (asal dan arah pergerakan mahluk). Jadi haji itu menyegarkan kembali terhadap pengetahuan dan kesadaran hakikat penciptaan.

 

Doktrin itu tercermin dalam seluruh skenario haji. Bermula dari Kabah sebagai simbol Allah. Hidup bergerak menuju arafah (pengetahuan), masyaril haram (kesadaran), Mina (cinta) dan kembali ke Kabah. Dengan kembali kepada Allah maka Allah menjadi lebih dekat dari urat leher hamba-Nya. 

 

Kenapa harus berubah? Sering tanpa disadari manusia menjalani kehidupan yang tidak seharusnya. Istilah Dr Ali Syariati dalam bukunya yang terkenal, Haji, hanya aksi pendular yang tanpa makna. Bersifat siklistis yang sia-sia. Pagi berganti sore. Malam berganti siang. Tidur diakhiri dengan bangun,bangun diakhiri dengan tidur. Begitu berulang-ulang.

 

Manusia sangat sibuk mencukupi kebutuhannya yang tidak pernah merasa tercukupi.  Manusia asyik dengan berakting di dalam permainan dunia seperti kotak gabus di atas tarian ombak samudera tanpa arah tujuan. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (Quran, Al Ankabut 64).

 

Apalagi kehidupan di ujung akhir zaman ini. Mata eksternal (fisik) begitu dimanja dengan medsos, kesenangan realitas palsu. Seolah waktu berjalan sangat cepat. Nyaris tiada waktu untuk bersabar dan khusyuk. Tak ada waktu merevitalisasi nafsu mutmainnah (kejiwaan yang tenang). “Wa kanal insanu ajula, dan memang manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (Quran Al Isra 11). Tanpa sadar bahwa tergesa-gesa itu dekat dengan setan.

 

Akhirnya hidup hanya untuk hidup. Hidup yang demikian pada dasarnya boleh dibilang mati. Orang Jawa menyebutnya mati sajeroning urip (mati di dalam kehidupan). Secara fisik hidup, tetapi jiwanya sudah mati. Spritualitasnya kering kerontang. Unsur kemanusiaannya punah. Secara substansi manusia berubah menjadi “jazad”, seolah hidup padahal mati. Seperti jazad buatan Samiri (Quran, Thaha 88).

 

Terminologi jazad (juga tertera di surah As Shad 34. Menurut eskatolog Islam, Syekh Imran Hosein adalah Dajjal. Dajjal yang akan menjadi sumber fitnah-fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Salah satu misi Dajjal menghancurkan fitrah manusia.


Anwar Hudijono, Tenaga Ahli Media GTN GNRM Kemenko PMK

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: