Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

4 CARA AJARKAN ANAK TOLERANSI SEJAK DINI

Siswa TK Santo Bernardus berpelukan dengan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

4 CARA AJARKAN ANAK TOLERANSI SEJAK DINI

Di tengah negara multikultural seperti Indonesia, sikap toleran sangat diperlukan demi melestarikan harmoni, kedamaian dan kebhinekaan. Berikut empat cara ajarkan anak toleransi sejak dini.

 

Jakarta (27/05/2021) Sudah menjadi takdirnya bahwa setiap individu berbeda. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia ini, sekalipun dia kembar identik. Oleh karena itu manusia harus menerima perbedaan dan penerimaan itu dimulai dengan membangun sikap toleran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Toleran berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

 

Menurut Abu Bakar (2015), istilah toleransi berasal dari bahasa Latin, “tolerare” yang berarti sabar terhadap sesuatu. Jadi toleransi merupakan suatu sikap atau perilaku manusia yang mengikuti aturan, di mana seseorang dapat menghargai atau menghormati perilaku orang lain secara sadar dan tanpa paksaan. Istilah toleransi dalam konteks sosial budaya berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat.

 

Di tengah negara multikultural seperti Indonesia, sikap toleran sangat diperlukan demi melestarikan harmoni, kedamaian dan kebhinekaan. Namun sikap toleran tidak bisa diperoleh begitu saja. Perlu ada pembiasaan atau internalisasi yang dimulai sejak dini. Dari sekian banyak cara, ada empat cara paling mendasar ketika Sobat Revmen ingin mengajarkan toleransi kepada anak-anak.

 

Pertama, memberikan contoh. Teladan atau menjadi role model selalu menjadi referensi paling efektif saat Sobat Revmen ingin mengajarkan atau menularkan hal-hal positif, termasuk toleransi. Berikan anak contoh, seperti bagaimana menghargai tetangga yang berbeda agama, bagaimana bersikap pada saat melihat orang yang ciri-ciri fisiknya berbeda, atau bagaimana Sobat Revmen merespon orang yang memiliki logat berbeda saat berkomunikasi.

 

Kedua, menunjukan sikap terbuka. Latih anak untuk bersikap terbuka dan tidak memaksakan kehendaknya. Lakukan ini misalnya ketika Sobat Revmen sedang berbicara dengan anggota keluarga, kemudian terjadi perbedaan pendapat. Maka terimalah perbedaan pendapat itu dengan cara yang bijaksana. Tentu saja itu bukan berarti “pendapat” yang berbeda itu harus diterima, melainkan menerima adanya “perbedaan.” Anak akan melihat dan belajar bagaimana mereka menyikapi perbedaan pendapat secara terbuka.

 

Ketiga, menghapus stereotipe. Stereotipe, labelling atau istilah sejenis yang memiliki makna “memberikan cap buruk” pada orang lain harus dihapus dari sikap dan tingkah laku Sobat Revmen. Misalnya saat ada tetangga dari Medan berbicara dengan logat dan nada yang keras, jangan mengatakan, “Orang Medan itu kalo ngomong kasar-kasar.” Cara kita memberikan stereotipe akan ditiru oleh anak.

 

Keempat, mengenalkan keragaman. Anak harus diberi informasi seobjektif mungkin mengenai keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, beserta atribut yang menjadi identitas di dalamnya. Ketika anak sudah tahu mengenai keragaman, maka tidak aka nada hal yang dianggap “aneh” lagi dalam mindset anak.

 

Tentu saja masih banyak cara lain untuk mengajarkan toleransi pada anak. Setidaknya empat cara ini dapat dijadikan basis dan referensi awal. Namun yang terpenting adalah bukan sekedar cara, melainkan juga kemauan (will). Kemauan kita untuk merawat toleransi yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci penting bagi anak.

 

Sobat Revmen, toleransi bukan berarti “menghapus” perbedaan, melainkan “menerima” perbedaan dengan sadar dan bijaksana. Indonesia adalah sebuah universitas paling tersohor untuk mempelajari dan mengaplikasikan sikap toleran. Sebab, di negeri inilah keragaman tumbuh subur, perbedaan eksis, penghargaan atas keragaman dan perbedaan itu masih lestari. Sobat Revmen, kita mesti bangga dengan sikap toleransi yang selalu kita rawat. Sebab inilah kita, anak-anak Indonesia.

 

Referensi:

 

Abu Bakar. (2015). Konsep Toleransi dan Kebebasan Beragama. Jurnal Toleransi, Vol. 7 No. 2. Riau: UIN Sultan Syarif Kasim.

 

Kompas.com. (2021). Available at: https://edukasi.kompas.com/read/2021/02/15/110334971/4-cara-ajarkan-anak-toleransi-sejak-dini?page=all. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

Halodoc.com. (2018). Available at: https://www.halodoc.com/artikel/5-cara-ajarkan-toleransi-pada-anak. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: