Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Humanisme: Gagasan Terbesar Soekarno!

  • 16 November 2020

Humanisme: Gagasan Terbesar Soekarno!

Soekarno dilahirkan di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. Ia merupakan anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai Serimben. Lahir dengan nama Koesno, Soekarno kecil kerap menderita sejumlah penyakit. Kedua orang tuanya lantas memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Karno atau Soekarno. Tentu diharapkan agar ia akan tumbuh menjadi seorang ksatria kuat bagaikan tokoh-tokoh legendaris dalam lakon-lakon dan pertunjukkan wayang Bharata Yudha serta Ramayana. Soekarno muda selanjutnya berkembang di sekolah-sekolah Belanda (Europeesche Lagere School, Hogere Burger School, dan Tecniche Hoge School) serta aktif dalam organisasi pergerakan, yakni PNI.

Berbeda dengan anak-anak seusianya yang masih suka menghabiskan waktu dengan bermain, Soekarno muda menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku sejarah, filsafat, hukum, politik dan lain-lain. Beberapa buku-buku pemikiran tokoh dunia seperti Thomas Jefferson, Jean Jaques Rousseau, Paul Revere,George Danton Karl Marx, Fredrich Engels, serta Lenin juga tak ketinggalan dibaca oleh Soekarno. Soekarno menyebut sangat menghayati pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh besar dunia tersebut yang kelak memberikan pengaruh besar dalam memoles dan membawa perjuangan revolusi Indonesia.

Soekarno sebagai seorang pejuang kemerdekaan, presiden Republik Indonesia, negarawan, konseptor handal, serta gelar lainnya yang bersandar dibelakang namanya, terkenal akan gagasan-gagasan nasionalisnnya. Namun yang belum banyak kita tahu adalah bahwa nasionalisme Soekarno bersendikan asas-asas Humanisme. Sehingga nasionalisme Soekarno bukanlah nasionalisme yang bersifat xenophobid ataupun nasionalisme yang merendahkan harkat serta martabat bangsa lain. Nasionalisme Soekarno berangkat dari nilai-nilai suci terkait kemanusiaan, perdamaian, serta kesetaraan hidup di dunia. Hal tersebut kemudian termanifestasikan pada gagasan Marhaenismenya serta Pancasila.

Pemikiran-pemikiran humanisme Soekarno tersebut kemudian juga ia propagandakan pada dunia Internasional, salah satunya melalui forum Konferensi Asia Afrika pertama. Konferensi Asia Afrika sendiri diselenggarakan pada tanggal 18 April 1955 dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya. Konferensi ini merupakan pertemuan bangsa-bangsa dari Asia-Afrika untuk pertama kalinya yang menggelorakan semangat anti imperialisme dan solidaritas antar kedua benua. Terdapat 4 tujuan pokok dari diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika, antara lain: 1) Memajukan kemauan baik dan berlangsungnya antara bangsa-bangsa Asia Afrika dalam menjelajah dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka bersama serta memperkokoh hubungan persahabatan dan tetangga baik, 2) Meninjau kembali masalah-masalah hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dari negara-negara yang diwakili, 3) Mempertimbangkan masalah-masalah kepentingan khusus dari bangsa-bangsa Asia Afrika, seperti masalah mengenai kedaulatan nasional, nasionalisme dan kolonialisme, 4) Menuju kedudukan Asia Afrika dan rakyatnya, serta memberikan sumbangan yang dapat mereka berikan dalam usaha memajukan perdamaian dan kerjasama dunia.

Indonesia, diwakili oleh presiden Soekarno, memberikan pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika yang berlangsung di Bandung. Pada kesempatan tersebut, Sekoarno menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baruâ€. Dalam pidato tersebut, menurut analisis saya, Sokarno mencoba menyampaikan beberapa point penting, antara lain: Penghargaan atas perjuangan para pahlawan pada masa lalu, tanggung jawab negara-negara yang telah mencapai kemerdekaan, sekat / jurang yang memisahkan hubungan antar negara, semangat memerangi kolonialisme dan imperialisme, modernitas di abad ke-20, , lawan ketakutan dengan kepercayaan diri serta prinsip kesetaraan.

Pada saat membuka konferensi, Soekarno mencoba membuka kembali ingatan para peserta KAA, bahwa pada masa lalu negara-negara Asia Afrika merupakan negara terjajah yang pada perkembangan selanjutnya mereka mampu memerdekakan diri dengan perjuangan keras para pahlawannya. Maka tidak lah berlebihan apabila kita menyebut negara-negara Asia Afrika sebagai manifestasi dari perjuangan kolektif masyarakatnya pada masa lalu. Soekarno juga menegaskan negara-negara yang telah meraih kemerdekaannya tersebut memiliki tanggung jawab moril dalam menjaga perdamaian serta turut serta menghapus segala bentuk penjajahan di dunia. Sebab apabila kemerdekaan tidak dibarengi dengan tanggung jawab moril serta etika, maka tanggung jawab tersebut semata-mata hanyalah imitasi.

Selain itu, Soekarno juga menegaskan perlunya dihapuskan jurang pemisah antar negara yang tercipta akibat sistem kolonialisme serta imperialisme. Apabila suatu bangsa masih berada dalam cengkraman kolonialisme ataupun imperialisme, entah sekecil apapun, maka bangsa tersebut belumlah merdeka. Maka dari itu diperlukan semangat nasionalisme untuk melawan kolonialisme serta imperialisme. Nasionalisme dalam hal ini menurut Soekarno haruslah berlandaskan pada asas-asas suci yang memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan serta berangkat dari kehidupan sosio kultural masyarakatnya. Sehingga semangat nasionalisme tersebut juga diharapkan mampu menjaga perdamaian dunia. Bukan semangat nasionalisme yang bersifat chauvinis maupun mengarah kepada sikap xenophobic, yang justru akan menimbulkan perpecahan di dunia.

Terkahir, Soekarno menekankan prinsip kesetaraan serta keberagaman dalam menjaga perdamaian dunia. Dunia ini bukanlah milik suatu agama tertentu, etnis dan ras tertentu, idiologi tertentu, maupun golongan tertentu. Sehingga setiap manusia berhak mendapat kehidupan layak di dunia.

Semua gagasan Soekarno tersebut berangkat dari nilai-nilai humanisme. Saat ini, humanisme sebagai sebuah aliran pemikiran menjadi topik pembicaraan yang ramai diperbincangkan. Hal tersebut tidaklah lepas dari realita-realita diskriminasi serta penindasan yang ada di dunia. Gagasan Soekarno terkait humanisme tersebut masih relevan untuk dijadikan alternatif dalam penyelesaian krisis sosial yang tengah terjadi di masyarakat.

Sumber:

Bob Heiring. 2012. Soekarno Arsitek Bangsa. Jakarta: Penerbit Kompas

Sigit Aris Prasetyo. 2017. Go To Hell With Your Aid: Pasang-Surut Hubungan Soekarno dengan Amerika Serikat. Yogyakarta: Media Pressindo

Tashadi, dkk. 1999. Tokoh-Tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Ir. Soekarno Hingga K. H. Ahmad Dahlan. Jakarta: CV. Ilham Bangun K


Komentar pada Karya Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: