Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Webinar: Diseminasi Usulan Revolusi Mental Dunia Pendidikan

Diseminasi Revolusi Mental dunia pendidikan
  • 18 Desember 2020

Webinar: Diseminasi Usulan Revolusi Mental Dunia Pendidikan

Universitas Bakrie bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Forum Rektor Indonesia (FRI) menyelenggarakan Webinar Diseminasi Usulan Revolusi Mental Dunia Pendidikan pada hari Kamis, 10 Desember 2020 melalui aplikasi Zoom dan Live pada YouTube Universitas Bakrie.

Webinar yang dibuka oleh Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D., Rektor Unversitas Bakrie dan dipandu oleh moderator Astrid Meilasari-Sugiana, Ph.D., Dosen Ilmu Politik Universitas Bakrie, menghadirkan Gunardi Endro, Ph.D., Dosen Etika Universitas Bakrie sebagai narasumber diseminasi, serta Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum., Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dr. Sholihul Huda M.Fil.I., Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Prof. Dr. Agus Purwadianto DFM, SH, M.Si., SP.F(K)., Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai penanggap paparan yang disampaikan oleh narasumber diseminasi.

Fokus pembahasan bertumpu pada filosofi yang melandasi revolusi mental, beserta implikasinya terhadap relasi sosial di bidang pendidikan, kehidupan berbangsa dan beragama. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik revolusi mental memiliki fokus untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berintegritas, punya semangat gotong-royong, dan mau bekerja keras. Berdasarkan pemaparan Gunardi Endro, Ph.D., salah satu tantangan revolusi mental saat ini adalah adanya arus digitalisasi di segala bidang kehidupan dan tuntutan survival di era industri 4.0. “Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan berkembangnya teknologi industri 4.0 agar dapat survive, salah satu caranya ialah melalui usulan revolusi mental dengan restorasi daya sintetis yang merupakan upaya to disrupt the disruption”.

Pemateri Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum., Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, juga memberi pandangan bahwa yang sangat penting dari revolusi mental ialah membangun titik pijak kesadaran historis. Ia mengungkapkan bahwa hal ini erat kaitannya dengan kompleksitas dimensi realitas manusia yang terjadi dari hari kehari sehingga menuntut pemahaman “integratif”. Beliau menambahkan beberapa faktor yang berpotensi mempengaruhi mentalitas diantaranya:

       Krisis Energi: food, feed, fuel, dorongan kuat untuk rekayasa biologis dalam rangka pemenuhan ketiganya.

       Krisis ekologis: anomali cuaca dan perubahan iklim global memerlukan kerja sama lintas negara.

       Krisis sosial: kesenjangan dan fragmentasi sosial akibat infodemik dengan tantangan untuk mengharmonisasi berbagai informasi.

       Krisis budaya: marginalisasi budaya lokal oleh arus global, baik melalui artikulasi religi maupun budaya pop.

       Krisis politik: konflik kepentingan para elite politik dan mengabaikan tujuan utama kesejateraan masyarakat

       Krisis ekonomi: pukulan gelombang resesi dunia.

       Krisis pendidikan: keterbatasan modal sosio-kultural, menjadikan kita selalu gagap dalam “politik pendidikan”.

Beliau juga memberikan pandangan mengenai dua pilar strategis melalui pendidikan, yaitu STEM dan multi-cultural identity. STEM adalah Science, Technology, Engineering, Mathematics. “Pendidikan yang mendukung kedua pilar itu harus kita perdalam lagi, meliputi: sejarah lokal dan global, kesadaran multikulturalisme, global ekologi, postnational society atau berpikir sebagai bagian dari warga dunia. Dimana komunikasi semakin terbuka dan dinamis, dan bahasa menjadi sangat penting”.

Lebih lagi, forum ini juga membahas dari perspektif filsafat Islam. Dr. Sholihul Huda M.Fil.I., Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya memaparkan pendapatnya dengan mengutip surat Al Baqarah mengenai masalah kelompok manusia yang hanya memikirkan dunia, berdebat tanpa ilmu, dan bermuka dua. Padahal sebaliknya, kewajiban manusia harus memenangkan potensi positif, melalui penanaman iman dan ilmu yang mana menjadi komponen penting mewujudkan revolusi mental. Berlandaskan imam, revolusi mental bermuara pada keserasian material dan spiritual manusia. Sedang melalui ilmu pendidikan, mental negatif bisa berubah menjadi mental-mental yang positif. Hal ini tentunya perlu dilihat lebih dari sekedar aspek kognitif dengan lebih melibatkan penguatan value dan spiritual di ranah pendidikan. Pada akhirnya perubahan paradigma pendidikan dapat dilakukan melalui revolusi mental untuk mewujudkan pendidikan yang lebih multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin. 

Sesi terakhir oleh Prof. Dr. Agus Purwadianto DFM, SH, M.Si., SP.F(K)., Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memberikan penekanan bahwa usulan konsep revolusi mental ]oleh Gunardi Endro dapat menjadi rekomendasi penguatan strategi pelayanan kesehatan, pengayaan kurikulum ilmu kedokteran dalam era global dan kearifan lokal, dengan mengedepankan aspek human rights, dan mencipatakan pelaku profesi yang lebih melayani. Hal ini selaras dengan bentuk nyata Revolusi Mental khususnya Gerakan Indonesia Melayani.


Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: