Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Semua itu Dimulai dari Bandung

  • 10 Agustus 2020

Semua itu Dimulai dari Bandung

Praktik Baik

Foto: (sumber: infobdg.com)

 

Semua itu Dimulai dari Bandung

 

Semua diawali dari semangat untuk berbagi dan rasa kemanusiaan yang kuat. Ada kebahagiaan tersendiri jika niat berbagi itu sudah tersalurkan kepada siapa saja penerimanya. Meski cuma lewat sebungkus nasi!

 

Sejak tahun 2018, warga Kota Bandung mulai diperkenalkan dengan adanya sebuah etalase yang berukuran tidak terlalu besar tetapi berisi nasi bungkus, minuman, bahkan kue. Etalase berukuran sekitar 50 cm x 100 cm itu ada di pinggir Jalan Cibodas Raya, Antapani, Kota Bandung. Kehadirannya lantas menyita perhatian dan sempat viral berkat unggahan di sosial media. Bagian pintu etalasenya tertutup tetapi tidak dikunci. Etalase itu pun bertuliskan “Tempat Nasi Gratis.” Siapa saja boleh mengambil nasi bungkus itu dan minumannya dan tentu saja gratis.

 

Menurut Penjaga etalase yang juga Marbot Masjid di lingkungan itu, Ari (40), etalase itu memang sengaja “mengundang” siapa saja yang membutuhkan untuk mengambil nasi bungkus. Dia mengungkapkan, Pengelola etalase adalah seorang perempuan bernama Nia Masniari yang berteman dengan Rochsan Rudyantho Alibasyah, yang tidak lain adalah Inisiator Gerakan Berbagi Nasi Gratis ini. “Nasi bungkus di sini tidak berbayar. Setiap hari disediakan 20 bungkus,” kata Ari lagi. “Kalau tidak habis, nasi bungkus gratis itu akan dibagikan kepada warga sekitar. Kalau yang datang bisa siapa saja. Orang yang kebetulan melintas juga banyak. Bukanya sampai sore saja.”

 

Rochsan, Inisiator Tempat Nasi Gratis di Kota Bandung ini mengungkapkan, awalnya Dia mengunggah foto mengenai gerakan berbagi nasi gratis di Facebook. Unggahan itu pun lalu mendapat banyak respon positif dari teman-temannya. “Teman-teman saya kemudian mengajak bagaimana kalau bikin gerakan serupa," ujar Kang Apuy, sapaan akrab Rochsan kepada Liputan6.com. Ide membuat etalase untuk “tempat pamer” nasi gratis itu pun dipelajari Kang Apuy. Selain itu, Dia mencari katering rumahan yang siap masak nasi dan lauk, serta lokasi penempatan etalase nasi gratis. Secara resmi, Kang Apuy mengaku kalua kegiatan ini resmi dimulai pada 25 Oktober 2018.

 

Untuk nasi dan lauk pauk, Kang Apuy memesan di katering rumahan yang menyediakan menu Rp12 ribu per porsi, sedangkan pemilihan lokasi penyebaran tempat nasi gratis didasarkan pada domisili rekannya. Demi memudahkan distribusi nasi bungkus itu juga. “Walau katering rumahan yang kecil syaratnya harus bersih dan enak,” tambah Kang Apuy. Setelah semakin berkembang, nasi bungkus gratis dengan seluruh dananya berasal dari urunan Sang Inisiator dan teman-temannya, etalase serupa pun kini berada di dua lokasi lain yaitu di di Jalan Burangrang, Kota Bandung, dan Jalan Wangsaniaga, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat. Nasi bungkus gratis ini mulai tersedia setiap harinya sejak pkl 10 pagi hingga 4 sore.

 

Setelah makin banyak menarik perhatian dan kabar yang semakin meluas, etalase nasi gratis ini diketahui pula oleh Nia Masniari yang akhirnya mengelola etalase nasi bungkus di kawasan Cibodas. “Jadi sekarang sudah ada tiga titik. Saya tidak akan menyangka gerakannya jadi meluas seperti sekarang ini. Bahkan ada warga yang ikut menyumbang nasi dan lauk pauknya secara langsung,” kata Kang Apuy. “Saya merasa bukan orang pertama yang melakukan gerakan ini. Semua murni karena kemanusiaan saja. Kita juga tidak membagikan nasi, tetapi membagikan kebahagiaan melalui sebuah nasi.”

 

Penggerak gerakan nasi bungkus gratis lainnya di Kota Bandung adalah Dudy Supriyadi bersama istrinya. Etalase nasi bungkus gratis itu diletakkan di warung kecilnya sementara Dudy sehari-hari berprofesi sebagai Guru Ngaji. Semua makanan dimasak bersama istrinya dengan dana yang berasal dari donatur.  “Banyak pedagang, pekerja keliling, pemulung dan pengamen yang datang ke warung. Saat saya tanya apakah sudah sarapan, kebanyakan mereka itu belum sarapan karena belum memiliki uang, dagangannya belum laku atau belum ada pelanggan,” tutur pria berusia 50 tahun ini kepada Tagar.id

 

Dudy pernah diberitahu oleh salah seorang pedagang yang kerap mengambil makanan di warungnya. Pedagang itu berharap porsi nasi dapat ditambah sehingga rasa kenyang dapat bertahan lama hingga di atas 7 jam. “Ada yang meminta ke saya. Pak kalau bisa nasinya lebih banyak, jadi sarapan cukup sekali, tapi kuat sampai sore," ungkapnya.

 

Dudy merasa “ibadah” ini tidak akan berjalan mulus tanpa adanya bantuan sosial dari orang-orang sekitar. Banyak penduduk yang pada akhirnya merasa iba. Dari timbulnay kesadaran ini pula menurutnya jadi  sangat penting untuk meringankan beban penderitaan orang lain. Tanpa membeda-bedakan dari mana mereka berasal atau latar belakangnya. Kenal atau pun tidak.

 

Gerakan Berbagi Nasi Bungkus Gratis ini, setelah viral dan jadi berita nasional, lantas menular ke kota lain. Selain Yogyakarta, tercatat ada Kota Purwokerto, Malang, Salatiga, Purbalingga, Jawa Tengah; Tenggarong, Kalimantan Timur; Kediri, Jawa Timur; Riau; bahkan Kota Bireuen, Aceh. Kerelaan untuk berbagi kepada sesama pada dasarnya adalah niat baik yang diupayakan untuk tetap ada sampai kapanpun, terlebih jika sudah menyadari bahwa niat itu berasal dari ajaran agama yang diyakini. Karena memang tidak pernah ada ruginya jika berbagi, malah justru semakin menambah ketentraman hati, juga datangnya rezeki.

 

Kegiatan yang didasari semangat kedermawanan ini nyatanya memiliki akar kuat di Indonesia. Semula berwujud berbagi dengan tenaga yang biasanya bergotong-royong untuk membangun rumah atau membuka pertanian dengan semangat menjaga hubungan antarwarga kampung atau tetangga. Seiring berjalannya waktu, bentuk berbagi atau sedekah itu kian berkembang menjadi bentuk materi yang lain entah hanya sekadar paket sembako misalnya. Kini, berbagi bahkan dapat saja dilakukan dengan cukup klik jari di layar ponsel. Buka layanan mobile banking¸buka nomor rekening yang dituju, proses transfer uang dengan semangat berbagi itupun terjadi. Jika semangat berbagi semacam ini terus dilakukan, berarti Indonesia juga terus merawat semangat kerukunan dan bersama menuju Indonesia yang harmonis. Mari terus berbagi! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 


#ayoberubah

#ayoberbagi

Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: