Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Sambung Hidup, Sambung Etalase Nasi Gratis

  • 05 Agustus 2020

Sambung Hidup, Sambung Etalase Nasi Gratis

Praktik baik

Foto: (sumber: tagar.id)

 

Sambung Hidup, Sambung  Etalase “Nasi Gratisâ€

 

Berbagi kepada yang membutuhkan tentu sangat baik, apalagi kalau kemudian terus berlanjut lalu jadi gerakan bersama. Semoga semakin banyak etalase dengan nama ‘Nasi Gratis’ itu!

 

Berbuat baik, kali ini dating dari Kota Yogyakarta, memang tidak selalu berupa uang, sembako atau bantuan masker dan cairan pembersih seperti di tengah situasi Wabah Covid-19 ini. Berbentuk sederhana saja, hanya sebuah etalase layaknya lapak pedagang kaki lima, tetapi apa isi etalase ini kerap begitu dinantikan oleh mereka yang membutuhkan. Nasi bungkus gratis ini bisa diambil oleh siapapun yang membutuhkan seperti pengemis, pemulung, tukang parkir, pedagang keliling, petugas kebersihan, tukang becak, dan lainnya.

 

Etalase dengan tulisan besar “Nasi Gratisâ€ itu tersebar di berbagai lokasi di Kota Yogyakarta. Etalase itu juga tidak terlalu besar tetapi cukup untuk menaruh puluhan bungkus nasi beserta lauknya. Etalase yang terdiri dari dua tingkat ini sudah ada di delapan lokasi yang tersebar di Yogyakarta yaitu YAP Square, Infia Concept Photo Studio, Omah Geprek Nylekit Malioboro, hingga Social Agency Ambarukmo. Inisiatif ini digagas oleh Tempat Nasi Gratis Jogja dengan akun Instagram @tempatnasigratisjogja.

Siapapun berhak mengisi etalase tetapi terlebih dulu harus memenuhi persyaratan. Adapun menurut akun @tempatnasigratisjogja, syarat itu adalah nasi harus dibungkus dengan kotak makan, mika, ataupun kertas, tidak lupa harus disediakan pula alat makan seperti sendok, garpu, atau sumpit. Untuk lauk makanan, disyaratkan untuk harus yang halal, bersih, awet, dan juga bergizi. Donatur juga perlu melengkapi nama makanan di kemasan agar tidak perlu dibuka lagi oleh setiap orang yang ingin mengambilnya. Kalau lauk yang disediakan berkuah, harus dikemas tersendiri dalam plastik. Selain nasi bungkus, etalase ini juga memperbolehkan untuk diisi makanan lain yang mengenyangkan seperti camilan dan minuman.

 

Etalase “Nasi Gratisâ€ di Yogyakarta ini nyatanya terinspirasi dari etalase serupa yang ada di dua Kota Jawa Barat yaitu Bandung dan Purwakarta.  Lokasi di Bandung ada di pinggir Jalan Burangrang. Puluhan nasi bungkus dengan lauk tersedia antara pukul 11.00 WIB hingga 15.00 WIB. Sementara itu, di Kota Purwakarta, lokasinya ada di Pasar Jumat, Jalan Jenderal Sudirman, Nagri Kaler, Purwakarta.

 

Menurut salah seorang penggagas etalase “Nasi Gratisâ€ Kota Yogykarta,  Veronica Christamia Juniarmi (28 th) awalnya berpikir bagaimana caranya dapat berbagi makanan untuk pengemudi ojek online (ojol) yang kadang wara wiri mengantar makanan pesanan customer tetapi sebenarnya mereka belum makan. Ada juga penjual asongan keliling, tukang becak, yang sering Dia jumpai di daerah kuliahnya (Mrican) dan tempat kerjanya (Sagan) kadang belum makan setelah seharian bekerja. “Tapi saya berpikir yang semua orang bisa kasih gitu. Nah lihat TNG (Tempat Nasi Gratis) di Bandung saya pikir kenapa enggak dibuat di Yogya dengan mekanisme yang sama dan tempatnya yang strategis,â€ paparnya seperti dikutip dari tribunjogja.com.

 

Selama Ramadan lalu, kata Vero, Etalase “Nasi Gratisâ€ itu cukup banyak yang mengisi. Kadang dalam 15 menit nasi-nasi bungkus di dalamnya sudah ludes. Satu orang hanya boleh mengambil satu bungkus nasi saja. “Kalau Jumat biasanya lebih banyak yang mengisi,â€ ungkapnya lagi.

 

Vero mengungkap awal pembuatan etalase “Nasi Gratisâ€ yang disebutnya dengan nama ‘Eta’ ini berasal dari uang pribadinya. Menurutnya, jika etalase bisa membuat orang berbagi lebih banyak dan bisa membuat orang dapat makan maka jika memang rezekinya akan diganti oleh Yang Maha Kuasa.

Vero sebelumnya adalah pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di sebuah universitas di Tiongkok. Ketika harus kembali ke Indonesia akibat Wabah Covid-19, Dirinya justru menjadi lebih fokus mengurus ETA yang sudah ada sebelumnya. “Pengalaman di Tiongkok bikin saya jadi semangat buat berbagi di sini karena itu yang sekarang paling dibutuhkan. Saya yakin orang baik di Jogja itu banyak hanya mungkin belum ada wadahnya saja,â€ katanya lagi.

 

Gerakan “Nasi gratisâ€ ini sesungguhnya dapat menjadi wadah untuk menyalurkan kebaikan orang-orang yang ingin berbagi sekaligus sebagai tempat bagi orang yang membutuhkan makanan guna menyambung hidup. Dari sosok seperti Vero, kita dapat belajar betapa berbagi terhadap sesama itu adalah panggilan hati yang dapat mendatangkan banyak kebaikan bagi Pemberinya. Vero sendiri mengaku ingin lebih mengedukasi orang-orang agar mau berbagi melalui ‘Eta.’ Menurutnya, ‘Eta’ bukan sekadar etalase makanan tapi ada banyak pesan yang disampaikan yaitu bisa berbagi, bersyukur, berempati, saling melengkapi dan membuat Yogyakarta bisa semakin kuat di masa pandemi ini. Demikian, gerakan bernama Etalase “Nasi Gratisâ€ ini. Semoga jadi inspirasi untuk gerakan serupa di kota-kota dan daerah lain di Indonesia! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber






#ayoberubah

Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: