Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PELATIHAN PENGELOLAAN PERTANIAN TANPA BAKAR DENGAN TEKNOLOGI EKD

Pelatihan Teknologi Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Dayak kepada Para Petani di Desa Tumbang Lawang, Kalimantan Tengah
  • 23 Desember 2020

PELATIHAN PENGELOLAAN PERTANIAN TANPA BAKAR DENGAN TEKNOLOGI EKD

Sosialisasi dan Pelatihan Teknologi EKD adalah kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama dan dukungan dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK-RI). Bekerjasama dengan Formulator Pupuk Organik dan Herbalist, Ermina Komala Dara (EKD), Lembaga Lokal LD 21 dan GB2MU Kalimantan Tengah. Sosialisasi dan Pelatihan ini sebagai bagian dari implementasi program Gerakan Nasional Revolusi Mental di pedesaan demi menuju kemandirian  desa di sektor pertanian, peternakan, perikanan berbasiskan kearifan lokal Dayak.

Sosialisasi dan Pelatihan telah dilaksanakan di desa Tumbang Lawang, Kecamatan Pulau Malan, Kabupaten Katingan dengan dihadiri oleh perwakilan Petani dari 4 desa dari 2 Kecamatan, (Kecamatan Katingan dan Kecamatan Katingan Tengah). Yaitu dari Desa Tumbang Lahang, Desa Tumbang Lawang, Desa Dahian Tunggal, Desa Tewang Karangan. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari berturut turut,  dari tanggal 15 November 2020 sampai dengan  tanggal 17 November 2020. Demi kelancaran kegiatan tersebut diatas, pada  tanggal 2 November 2020, Tim Betang Sakula  Budaya bersama Lembaga Dayak 21 (LD21) telah  melakukan kunjungan ke desa desa tersebut dan  berkoordinasi dengan Kepala Desa (Ibu Mariani) serta perwakilan petani dari 4 desa. Hal ini dilakukan karena di beberapa desa masih tidak memiliki sinyal telepon dan internet. Sehingga komunikasi dan informasi harus dilaksanakan secara langsung.

Dikarenakan kondisi yang terbatas akibat pandemi Covid, maka antusiasme peserta Petani yang ingin bergabung terpaksa dibatasi. Undangan peserta di hari pertama sejumlah 20, di hari kedua 50, di hari ketiga sejumlah 15. Meskipun dalam kenyataannya jumlah yang hadir pada hari pertama, kedua dan ketiga lebih dari yang didaftarkan. Mengingat masih dalam masa Pandemi Covid, rangkaian kegiatan selama 3 hari tersebut dilaksanakan di halaman balai desa Tumbang Lawang dan lahan Petani dengan pertimbangan bahwa cara tersebut adalah yang paling aman bagi seluruh peserta karena berkegiatan di bawah Sinar Matahari dan alam terbuka yang diyakini anti virus. 

Pada hari pertama, kegiatan dibuka di sore hari dengan presentasi pengenalan Konsep Teknologi  EKD dan tanya jawab yang di pandu langsung oleh  ibu Ermina Komala Dara (EKD). Peserta yang berjumlah kurang lebih 20 petani dewasa, terlihat antusias dan menyimak presentasi konsep dan latar belakang lahirnya Teknologi EKD  dalam kaitannya dengan kearifan lokal Dayak. Meskipun sempat terganggu akibat hujan badai  dan tenda yang roboh, namun kegiatan tetap berlanjut di ruangan posyandu sembari menanti  hujan reda. Peristiwa di masa kecil EKD yang sakit sakitan dan  insting yang kuat terhadap aneka jenis manfaat  tanaman, buah buahan dan rempah-rempah  di usia 5 tahun, menjadi salah satu daya magnet yang menyita perhatian peserta pelatihan untuk  menyimak presentasi ini. Terlebih lagi konsep yang selama ini dianggap  sebagai ritual mistis Dayak, semisal tradisi memetik tanaman obat dengan cara berbicara  membaca mantra (komat kamit), menabur garam,  paku dan uang logam, mampu dijabarkan secara  ilmiah oleh narasumber (EKD) kepada peserta yang hadir.  Inspirasi EKD juga muncul dari kegiatan ritual  tradisisional Dayak saat prosesi Manugal (bertanam padi cara tradisional Dayak) dengan  menyediakan aneka persyaratan (darah ayam, air  rendaman beras, tampung tawar dll).  Semua pengalaman tersebut menjadi salah satu  sumber inspirasi lahirnya teknologi EKD Melalui presentasi yang disampaikan oleh Ermina  Komala Dara, para peserta menyadari bahwa  potensi daya alam yang dimiliki warga desa  sangatlah mahal dan seharusnya dibudidayakan. Tanaman seperti purun tikus dan rumput teki, daun pelara, masih banyak ditemui di desa Tumbang Lawang, terutama di lahan bertani.

Pada Hari kedua, Kegiatan dihadiri sekitar 50 Petani undangan dengan tambahan peserta lain sekitar 15 - 20 orang. Didahului kata sambutan dari Kepala Desa, Ibu Mariani, Ketua Yayasan Betang Sakula Budaya, Ibu Imelda Malinda, diselingi Karungut “Selamat  Datang” berbahasa Dayak oleh Remaja desa, yang  tampil tanpa mengenakan busana tradisional  Dayak dan berpakaian seadanya. Berdasarkan hasil dialog, bahwa remaja tersebut tidak memiliki baju tradisional. Acara berlanjut dengan Kata sambutan dan  pemaparan konsep implementasi Revolusi Mental  di Desa dari Kemenko PMK yang diwakili oleh Bpk. Alfian Ahmad. Pada sesi berikutnya peserta berdialog tentang Pangan Bijak Masyarakat Dayak bersama  narasumber, Dr. Marko Mahin. Dalam dialog yang dipandu oleh Dr. Marko Mahin, munculnya pemimpin perempuan sebagai Kepala  Desa di desa Tumbang Lawang, ternyata dirasa  lebih mempermudah terjalinnya komunikasi serta  koordinasi kegiatan. Hal ini berbeda dengan kepemimpinan kepala desa  sebelumnya yang cenderung di dominasi oleh  kaum lelaki. Praktek pengolahan pupuk Organik teknologi EKD dengan membuat 3 macam pupuk Multiguna: Omega 3, Pupuk Cair buah buahan, Formula EKD  rempah rempah. Kegiatan berlangsung seru dikarenakan sebelum  praktek membuat pupuk, peserta diwajibkan  menggunakan bedak basah EKD yang berbahan  dasar tanaman lokal seperti daun taya, daun plara  dll. Melalui kegiatan pengolahan pupuk EKD, Petani  dan Warga desa juga diberi pemahaman bahwa  pertanian organik sangat penting untuk mencegah terjadinya pencemaran akibat racun kimia dari  produk-produk pertanian yang barangkali telah  digunakan oleh Petani selama ini. Menurut keterangan dari Ibu Betsaida, peserta dari desa Tumbang Lahang, penggunaan herbisida kimia masih dilakukan untuk pembukaan lahan  baru. Oleh sebab itu, pembuatan produk organik dengan fungsi yang sama menjadi salah satu hal  penting dalam mewujudkan Revolusi Mental di bidang pertanian. Berdasarkan absensi, sekitar 90% peserta yang hadir adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa desa secara tidak langsung sudah memahami makna emansipasi. Menurut informasi dari ibu Mariani, Kepala Desa Tumbang Lawang, para laki-laki di desa lebih memilih untuk “menyedot” (menambang emas), yang selama ini dikenal berkontribusi terhadap  kerusakan lingkungan. Jika hasil pertanian meningkat dan menjanjikan, Kepala Desa berharap kaum lelaki di Desa Tumbang  Lawang bisa memilih mata pencaharian yang lebih  ramah lingkungan dan berjangka panjang.

 

Hari ketiga (terakhir) Kunjungan ke lahan Petani. Di sesi kunjungan lahan ini, Petani lebih bersemangat mengajukan pertanyaan seputar  pemanfaatan sumber alam dan hasil hutan sebagai  bahan pupuk dan obat-obatan. Pada kesempatan tersebut, Petani diajarkan bagaimana cara membuat Pakan ternak dari bahan keladi dan dedak tanpa harus direbus dan tidak menimbulkan gatal. Pakan ini berguna bagi macam-macam ternak (ayam, ternak sapi, ternak kambing, ternak hewan berkaki 4 lainnya), serta pakan Ikan. Bahan pembuat pupuk yang selama ini menjadi kejutan bagi warga desa adalah pemanfaatan Anding/Arak/Baram yang selama ini dikenal sebagai minuman tradisional upacara ritual adat Dayak, namun masih di buat secara sembunyi-sembunyi oleh masyarakat Dayak, dikarenakan minuman ini adalah hasil fermentasi yang mengandung alkohol. Sampai saat ini belum ada Perda yang mengatur pemanfaatan komoditas lokal ini seperti halnya Soju dari Korea atau Arak dari Bali. Namun peserta memiliki profesi pembuat Baram/Arak/Anding diam-diam terlihat lega  dikarenakan kegunaan minuman ini ternyata tidak hanya untuk diminum, namun bisa digunakan sebagai bahan pembuat pupuk dan pakan ternak.



Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: