Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PBNU Gelar Sosialisasi Peningkatan Pemahaman Agama yang Moderat di Era New Normal Pandemi COVID-19 Tahun 2020

Pembukaan Sosialisasi Peningkatan Pemahaman Agama yang Moderat di Era New Normal Pandemi COVID-19 Tahun 2020
  • 28 Desember 2020

PBNU Gelar Sosialisasi Peningkatan Pemahaman Agama yang Moderat di Era New Normal Pandemi COVID-19 Tahun 2020

Jakarta (15/12) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melaksanakan Sosialisasi Peningkatan Pemahaman Agama yang Moderat di Era New Normal Pandemic Covid-19 yang dilaksanakan di Grand Hotel Bidakara Jakarta pada hari Selasa-Rabu tanggal 15-16 Desember 2020. Sosialisasi ini terselenggara atas kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai implementasi Gerakan Nasional Revolusi Mental khsusunya pada Gerakan Indonesia Bersatu.

Dalam Sambutannya di Acara Sosialisasi Peningkatan Pemahaman Agama di Era New Normal Pandemi COVID-19 Tahun 2020,  KH. Marsudi Syuhud menyampaikan agar jangan pernah bosan apalagi sampai berhenti mensosialisasikan pemahaman agama yang moderat. Pemahaman Agama Moderat merupakan sebuah keharusan sebagaimana perintah Tuhan dalam Firman-Nya, yang menyebutkan bahwa kita adalah Ummatan Wasathan  (Umat yag Moderat), untuk menjadi moderat bukanlah perkara gampang karena akan ada upaya tarik-menarik, bisa ditarik ke kanan dan juga sebaliknya ditarik kearah kiri. Sejarah mencatat bahwa negara kita membuat pilihan untuk menjadi negara yang moderat, dalam perjalanannya negara ini pernah ditarik kearah kanan dengan munculnya DI TII yang diprakarsai oleh Kahar Muzakar dan juga ditarik ke samping kiri yang memunculkan kelompok komunis yang dikenal dengan istilah PKI.

Untuk menjaga negara ini tetap moderat dan berada ditengah, setidaknya ada tiga syarat (rukun) yang harus jadi pegangan dan senantiasa disosialisakan kepada generasi berikutnya: 1. mentransformasikan ajaran ketuhanan menjadi aturan keseharian (pandangan hidup) negara-bangsa, baik aturan yang diatur oleh pemerintah (Undang-undang) atau aturan sosial bangsa. 2. rekonsiliasi dua kemaslahatan (kepentingan) agar tidak kontradiktif yakni kepentingan umum dan kepentingan khusus. kepentingan publik diatur oleh negara tanpa mengesampingkan kepentingan individu. jika terjadi kontradiktif maka negara hadir untuk rekonsiliasi dan mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan Individu. sikap tersebut merupakan adat atau budaya timur sebagaimana ajaran nenek moyang bangsa ini yang diwariskan secara turun temurun. 3. Menyelaraskan kebutuhan jasmani dan rohani.

Pemahaman agama yang bisa di terima oleh masyarakat banyak yaitu yang di tengah (tawassuth), yang kanan mestinya ke tengah dan yang kiri juga mestinya ke tengah, itulah sedikit moralitas yang harus senantiasa diamalkan dalam bernegara dan hidup sosial dan berbudaya untuk membetuk peradaban yang lebih beradab dan bermartabat.

Aris Dharmansyah Edisaputra (Staff Ahli Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Ekonomi), menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada NU yang selama 94 tahun tetap setia menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila serta mengisi pembangunan dengan memberikan kontribusi yang nyata secara konsisten dan beliau juga berharap NU sebagai organisasi keagamaan yang memiliki jumlah anggota yang sangat besar dan tersebar di seluruh Indonesia diharapkan terus hadir dengan memberikan keteladanan dan menyampaikan pesan yang dapat memberikan rasa optimisme di masyarakat .

Aris juga mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2016 Presiden Jokowi menetapkan program gerakan nasional revolusi mental yang bertujuan untuk mengubah cara pikir, cara kerja, cara hidup dan sikap serta perilaku bangsa Indonesia yang mengacu kepada nilai-nilai gotong royong untuk membangun bangsa yang bermartabat, modern, maju, sejahtera berdasarkan Pancasila, gerakan nasional revolusi mental juga menjadi 5 program utama yaitu Gerakan Indonesia melayani Indonesia bersih Indonesia tertib Indonesia Mandiri dan Indonesia bersatu. Dalam rencana pembangunan jangka menengah RPJMN tahun 2020-2024 gerakan revolusi mental diletakkan berdampingan dengan moderasi beragama menjadi prioritas nasional di tengah masyarakat Indonesia diantaranya untuk menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda di Indonesia meningkatkan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitarnya dengan menjaga ketertiban sosial dan membantu mereka yang membutuhkan, menjadi pondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai pengaruh budaya maupun agama dari luar Indonesia, di tengah masyarakat kita yang tidak sering ditemukan pemahaman keagamaan yang dengan mudah mengalahkan kelompok lain yang berbeda sehingga dengan program moderasi beragama tercipta pemahaman yang moderat dalam melihat perbedaan tidak dipandang sebagai kelompok yang harus dihakimi. Saya yakin kegiatan ini akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi masa depan bangsa dan saya juga berharap kegiatan ini juga memberikan pengaruh positif dan menjadi motivasi untuk mengimplementasikan aksi nyata khususnya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang semakin maju, Mandiri berkepribadian, berkarakter dan berdaya saing.

Acara ini dihadiri oleh, KH. Marsudi Suhud (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) melalui zoom meeting, Bapak Aris Dharmansyah Edisaputra (Staff Ahli Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Pemnafaatan Sumber Daya Ekonomi), Bapak Iwan Setiawan (Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia), Bapak Dr. H. Endin AJ Soefihara, MMA. (Ketua Umum Yayasan Talibuana Nusantara / Koordinator Tim Materi Madrasah Kader Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Bapak Dr. KH. Muh. Mujib Qulyubi, MH. (Wakil Rektor III UNUSIA Jakarta / Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Bapak Drs. H. Sultonul Huda, M.Si. (Wakil Sekretaris Jenderal PBNU / Koordinator Madrasah Kader Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), dan Bapak Ir. H. Suwadi D. Pranoto (Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) selaku Narasumber. Disamping itu, juga hadir selaku Moderator Bapak Dr. H. Ulil Abshar Hadrawi M.Hum (Dosen Pasca Sarjana UNUSIA Jakarta / Wakil Sekretaris Jenderal PBNU), Bapak Dr. Daniel Zuchron, M.Hum (Dosen UNUSIA Jakarta / Wakil Ketua Lakpesdam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Bapak H. Ahmad Sudrajat, MA (Ketua NUCare-LAZISNU PBNU), Bapak Syaiful Bahri Muhammad (Wakil Sekretaris Lembaga Wakaf dan Pertanahan PBNU), Bapak Jibril Misbahuddin Fandi (Wakil Bendahara Lembaga Bahtsul Masail PBNU) dan Bapak Abdul Gafur el-Batawi (Wakil Sekretaris Lembaga Wakaf dan Pertanahan PBNU). Disamping itu, hadir sebagai Peserta, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Banten, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama  se Jabodetabek, Pimpinan dan Pengurus Lembaga dan Badan Otonom Nahdlatul Ulama di Tingkat Pengurus Besar.

Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: