Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Gerakan Revolusi Mental Penguatan Jati Diri dan Pendidikan Karakter Melalui Pelatihan Ibing Penca ISBI Bandung bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

  • Beranda
  • Kabar Revolusi Mental
  • Suara Kita
  • Gerakan Revolusi Mental Penguatan Jati Diri dan Pendidikan Karakter Melalui Pelatihan Ibing Penca ISBI Bandung bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Pendidikan Karakter melalui Nilai-nilai Kebudayaan Pencak Silat
  • 28 Desember 2020

Gerakan Revolusi Mental Penguatan Jati Diri dan Pendidikan Karakter Melalui Pelatihan Ibing Penca ISBI Bandung bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Pandemi Covid-19 yang sudah melanda dunia sejak Bulan Maret lalu, tidak menjadi halangan bagi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung untuk terus menggali nilai-nilai kelokalan yang dapat dijadikan sebagai media dalam penguatan jati diri masyarakat penyangganya. Penguatan jati diri dan pendidikan karakter menggunakan nilai-nilai budaya lokal  dalam konteks kekinian sangat relevan untuk terus dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mengatasi krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia.
Banyak sekali perilaku yang sudah tidak lagi mempedulikan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa ini yang sangat luhur. Bagaimana memelihara hubungan baik antar manusia, bergotong royong, saling menghormati, saling menghargai, hidup rukun, saling kebersamaan, saling menghargai, memelihara alam dan masih banyak lagi. Nilai-nilai tersebut dewasa ini semakin luntur dan semakin ditinggalkan. Maraknya perilaku korupsi, kolusi, nepotisme, tidak menghargai orang lain, maraknya kekerasan pada anak-anak dan remaja; penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan lain lain.

Angka pengguna narkoba di seluruh Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini telah mengancam kelangsungan hidup bangsa dan generasi muda pada masa yang akan datang. Degradasi moral telah terjadi di mana-mana di kampung maupun di kota. Konflik sosial terjadi di berbagai tempat, teror kekerasan tak terkendali, adu domba antar umat manusia, saling hujat, dan lain-lain. Peristwa-peristiwa ini telah menghancurkan modal sosial yang sangat penting untuk keutuhan moral kehidupan bersama. Permasalahan ini menjadi masalah sosial yang serius yang belum dapat ditangani. Fakta-fakta tersebut sedang menimpa bangsa Indonesia tercinta. Fenomena ini menunjukkan bangsa kita sedang mengalami krisis sosial karena telah banyak orang yang kehilangan “jati dirinya” sehingga mengancam eksistensi bangsa Indonesia.


Melihat kondisi tersebut, ISBI Bandung terus berupaya untuk menggaungkan pentingnya memahami dan mengimplementasikan kearifan lokal budaya bangsa yang sarat dengan nilai-nilai luhur bangsa. Upaya menyebarluaskan nilai-nilai kearifan budaya lokal ini selaras dengan semangat persatuan sebagai aksi nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental.
 
Rangkaian kegiatan ini dimulai pada tanggal 5 Desember 2020 dengan mengangkat tema  “Penguatan Jati Diri dan Pendidikan Karakter Melalui Pelatihan Ibing Penca”. Program ini dilaksanakan selama lima hari yaitu dari tanggal 5,6,7, dan 11,12 Desember 2020 bertempat di Babakan Hangasa, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.  Program ini terselenggara atas dukungan dari Kementerian Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Forum Rektor Indonesia.
Pada saat pembukaan, kegiatan dihadiri oleh warga masyarakat, para Ketua Rukun Tetangga (4 RT), Ketua RW, para sesepuh penca silat di Desa Panyocokan, Abah Iyas,  Abah Kudus, Bah Engking, abah Ajat, Bah Ahmad (Dharma Saluyu) dan sejumlah penduduk Kampung Hangasa. Namun karena masa pandemi Covid-19 peserta yang hadir hanya dibatasi sebanyak 50 orang.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan maksud dan tujuan Gerakan Nasional Revolusi mental yang  dilaksanakan selama lima hari di Kampung tersebut  bersama masyarakat dan Padepokan Dharma Saluyu. Sosialisasi yang dilaksanakan berkaitan dengan bagaimana menggali kembali dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam warisan leluhur kita di dalam tata cara adat dan tradisi, termasuk di dalamnya pelatihan karakter yang ada dalam pencak silat.
Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. "Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala". Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Pencak Silat merupakan tradisi leluhur yang memiliki nilai adiluhung dan telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) untuk kemanusiaan. Oleh karena itu generasi muda yang telah berlatih silat maupun yang tertarik untuk mengikuti pelatihan di Padepokan Dharma Saluyu dapat mengenal nilai-nilai warisan budaya tersebut. Berlatih silat bukan untuk kesombongan, atau merasa diri jagoan tapi lebih utama untuk mengendalikan diri, berdisiplin dan berrtanggung jawab pada diri sendiri dan lingkungan.
Daerah Babakan Hangasa dipilih sebagai lokasi program  karena daerah tersebut memiliki potensi untuk menguatkan nilai-nilai kelokalan. Daerah ini baru menggeliat dan menyadari nilai-nilai budaya lokal perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat. Masyarakat tergugah dengan pentingnya nilai-nilai budaya lokal karena terus diberikan sosialisasi oleh pemuda penggerak yang notbene ASN ISBI Bandung yaitu saudara Iyan Sopyan S.Sn.  Untuk menguatkan gerak langkahya ISBI Bandung turut mendukungan dengan program  Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) 2020 khususnya mendukung dimensi perubahan Indonesia Bersatu.
Walaupun mereka pada dasarnya sudah mengetahui ibing penca, namun mereka belum mengetahui tentang makna nilai budi pekerti yang ada dalam pencak silat tersebut. Oleh sebab itu,  mereka diberikan pemahaman tentang masalah tersebut. Dengan harapan setelah kegiatan GNRM ini mereka memahami tentang nilai-nilai moral yang baik dikaitkan dengan Pancasila dan nilai-nilai kearifan lokal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini, diterjunkan pula lima mahasiswa Jurusan Tari  dan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan di antaranya Anggha, Dewi, Budi, dan Gilang di mana mereka juga sebagai peraih juara-juara ibing penca dan tanding tingkat nasional dan internasional.
 
Kegiatan ini langsung dipimpin Rektor ISBI Bandung Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum didampingi oleh Nanan Supriatna, S,Sen., M.Sn., dan Dr. Retno Dwi Marwati, S.Sen., M.Hum.
Pada hari pertama, semua peserta diajak berdialog dan dilanjutkan dengan berlatih bersama, sambil menjelaskan tentang nilai-nilai pudi pekerti luhur yang  ada dalam pencak silat.
 
Yang menarik dalam pelaksanaan program tersebut adalah semua unsur masyarakat terlibat dalam acara baik dari pihak pemerintah desa, para sesepuh, ibu-ibu PKK, dan tentunya anak-anak dan remaja yang ada di desa tersebut. Tim ISBI Bandung seperti menjadi keluarga baru mereka. Gotong royong, kebersamaan masih sangat kental dalam masyarakat tersebut. Harapannya kebersamaan mereka perlu juga diwariskan para anak-anak dan remaja sebagai generasi penerusnya yang dewasa ini dalam masa globalisasi dan rentan akan pengaruh luar. Maka penguatan jati diri dan pendidikan karakter yang terus kami gaungkan dan pesankan pada mereka diharapkan dapat dipahami serta direalisasikan dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.


Kegiatan selama lima hari ini dirasakan sangat kurang dan keluarga besar babakan Hangasa masih mengharapkan kehadiran ISBI Bandung di tengah masyarakatnya. Harapan kami sebagai TIM ISBI Bandung dapat menjadikan daerah ini ke depan sebagai desa binaan yang perlu terus dilakukan secara kontinu. Pada acara penutupan disajikan pula pertunjukan ibing penca sebagai hasil dari penggalian dan pelatihan bersama antara ISBI Bandung dengan masyarakat setempat.

Dalam acara penutupan kegiatan Gerakan Nasional Revolusi Mental, Rektor ISBI Bandung diminta untuk tampil membawakan ibing penca. Tentu ini menjadi hal yang positif dimana ketika generasi muda diajak berdialog mengenai nilai-nilai budi pekerti luhur yang terkandung dalam pencak silat ternyata rektornya juga bisa menampilkan ibingan. Hal ini membuat masyarakat semakin meyakini bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam pencak silat itu sangat bermanfaat dalam menuntun kehidupan manusia. Yang tidak kalah pentingnya dari kegiatan ini adalah ketika Tim ISBI akan kembali ke kampus, mereka beramai-ramai mengantar dengan cucuran air mata. Artinya kehadiran ISBI Bandung di Babakan Hangasa sangat berkesan dan bermanfaat bagi mereka. Ini lah bukti bahwa empowering masyarakat melalui seni dalam hal ini ibing pencak sangat penting dalam membangun ketahan budaya masyarakat. Persatuan dan kesatuan terwujud sangat signifikan dalam masyarakat yang kekinian. (Een Herdiani , Bdg, Desember 2020).


Komentar pada Suara Kita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: