Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
VIDEO
Ruang Publik - Gerakan Indonesia Melayani : Layanan Publik Tak Berbelit
0
1
161
Bagaimana Tanggapanmu ?
1 Tanggapan
Sayang sekali kalau Revolusi Mental hanya begini. Kita menghabiskan triliunan untuk kegiatan yang kurang kreatif. Revolusi Mental meliputi Akhlak, Moral, Budi Pekerti, dan Mindset. Kita tidak punya pendidikan mindset, sehingga negara ini susah sekali untuk bisa mengubah mindsetnya dan memberdayakan pikirannya. Tidak ada yang bisa mengubah mindset seseorang kecuali dirinya. Sampai di situ benar, tapi tidak ada cara mengubah mental atau mindset orang kecuali mengajarkan cara berpikir (mind) kepada masyarakat. Percuma kita memberikan hardware dan software, tapi tidak ada petunjuk menggunakan hardware dan softwarenya. Hard ware itu adalah pengetahuan tentang otak, software itu pengetahuan tentang pikiran. Kita baru menggunakan 0,001% dari kemampuan pikiran kita. Mengapa pemerintah tak berdayakan ini. Kita perlu memberikan blendernya ke masyarakat, bukan juice. Yang diberikan pemerintah selama ini adalah juicenya, sehingga kita sulit memecahkan masalah bangsa, dari kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kriminalitas, dekadensi moral, kenakalan remaja, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Kita punya sistem dan software yang keliru dalam dunia pendidikan dan revolusi mental kita, tapi diteruskan. Revolusi Mental sebenarnya sangat sederhana. Baca banyak buku. Selesai. Kita bangsa paling malas baca di dunia, nomor 61 dari 63 negara yang disurvey UNESCO. Kita bukan saja memiliki minat baca yang rendah, tapi kita juga tidak memiliki kemampuan membaca cepat, sehingga dengan Malaysia saja kita kalah. Meningkatkan minat dan kemampuan baca itu tak sekadar pemerintah bagi-bagi buku atau menggerakkan masyarakat untuk membaca buku. Itu keliru. Itu sama dengan memberi HP, tapi tak mengajarkan manfaat HP dan bagaimana cara menggunakannya. Kami sudah mengirimkan proposal 400 halaman ke Pemerintah bagaimana cara merevolusi mental bangsa. Apakah pemerintah menghargai? Tidak pernah, tak sepotong surat ucapan terima kasih. Setiap tahun kami mengirimkan surat ke Presiden dan Menteri sejak zaman SBY, melaporkan aktivitas dan kegiatan kami merevolusi mental puluhan ribu anak bangsa dari Aceh sampai Papua, tapi tak pernah ada respon dari pemerintah. Jadi pemerintah sendiri perlu direvolusi mentalnya. Dengan cara sederhana, hargai masukan dari masyarakat. bambang prakuso Pimpinan Alfateta Mind Power Academy, Gerakan Sejuta Motivator, PASUKAN MONAS (Penggerak Sukarelawan Motivator Nasional), Gerakan Baca 1 Bulan 1 Buku). www.alfateta.com.