Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SUARA KITA
Menurut Anda, pentingkah gadget untuk anak usia dini?
71%
Justru Beresiko
16%
Kurang Penting
14%
Penting
58 PEMILIH
Bagaimana Tanggapanmu ?
2 Tanggapan
*MENGAPA MINAT BACA BANGSA INDONESIA TERENDAH DI DUNIA? BAGAIMANA MASYARAKAT DAN PEMERINTAH MENGATASI MASALAH INI.* *Bambang Prakuso,BSM* Direktur Alfateta Indonesia Mind Power Academy. www.alfateta.com _Silakan jika ingin dishare. Semoga bisa menyadarkan semua pihak._ *Mungkin ada yang tersinggung dengan tulisan ini karena ini otokritik untuk bangsa ini yang menampar kita semua, pemalas membaca.* Maaf ya. Fakta, kita negara paling malas baca buku di dunia. Itulah sebab mengapa kita sulit melepaskan diri dari dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, bahkan menjadi negara dengan produktivitas rendah padahal UMK tertinggi di ASEAN. Bisakah Indonesia berubah menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa maju di dunia? Sangat bisa jika tahu caranya. Ini bukan persoalan bisa atau tidak, tapi mau tidak. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak kreatif walau kita rajin meneriakkan industri kreatif. Saya pendukung Jokowi. Itu tidak berarti saya tak mengkritik pemerintah bahkan beliau. Soalnya ada temen, milih kepala daerah Anu. Salah bener tetap di dukung. Sepertinya pilihannya “malaikat” yang cuma mengenal 2 pasal. Pasal 1, pimpinannya tidak pernah salah. Pasal 2 kalau salah, lihat kembali ke Pasal 1. Rakyat yang baik dan cerdas justru harus berani mengkritisi pemimpin yang mereka pilih. Ini pola pikir di negara yang sudah maju. Kalau yang masih berpikir inlander, memang pimpinan segalanya. Suworgo nunut, neroko katut (hahaha… ini mottonya bini teman saya). Saya, juga grup Slank tegas, blak-blakan, terang-terangan memilih Jokowi. Alhmadulillah tukang membel itu menang. Tapi toh kami tetap kritis. Kalau saya mengirim draft 400 halaman kritik terhadap Revolusi Mental yang saya kirim langsung ke Jokowi dan istana, Slank, saat bensin naik Maret 2018, konser dengan lagu barunya “Naik-naik ke puncak gunung” (syair diganti listrik, BBM… yang naik… naiknya tinggi-tinggi sekali). Apa itu berarti saya atau Slank benci atau pindah haluan tak bersimpati pada Jokowi? Oh belum tentu. Jangan lawan politik menjadikan ini pertanda Jokowi gagal. Ada yang bilang “Terjadinya Pelecehan seksual, jumlah korban Narkoba makin banyak, gank motor brutal, bahkan jembatan ambruk pun dituduh sebagai pertanda Revolusi Mental Jokowi gagal. “Ini kan Koplak kata anak zaman Now. Banyak yang bicara Revolusi Mental tapi gak tahu apa itu Revolusi Mental “tenggelamkan saja” kata Bu Susi. Ya jangan kaget, pimpinan DPR pun gak tahu apa itu Revolusi Mental. Saya beri tahu yang sebenarnya ya… Revolusi Mental itu bukan untuk rakyat, tapi untuk Pejabat. Gak percaya? Tanya Kementerian PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan). Saya mendukung Jokowi karena beliau cerdas. Mengangkat isu “Revolusi Mental” untuk mengatasi mentalitas bangsa kita yang centang prenang kayak kapal pecah ini. Pengalaman saya memberi pelatihan Change Your Mindset sejak tahun 2007 kepada puluhan ribu orang dari semua lapisan masyarakat dari Aceh sampai Papua sampai sekarang, menunjukkan Revolusi Mental cara paling cepat mengatasi dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan, terorisme, dll di negara ini. Di saat kita sibuk mencari solusi bagaimana mengatasi permasalahan bangsa, ada anggota DPR yang berkutat menyibukkan istilah Revolusi Mental = istilah komunis. Kalau saya melihat anggota DPR semacam itu sanyam senyum saja “Istilah komunis menurut pemahaman nenek loe (sory mengutip ucapan Ahok.” Bahkan saya lebih serem dari Jokowi, tak cukup Revolusi Mental tapi kita harus “brain wash (cuci otak)” bangsa ini. Nah brain wash lagi-lagi disebut istilah Komunis. Emang gue pikiri. Kalau teroris bisa cuci otak orang kenapa negara tidak? *Bangsa Paling Malas Baca Di Dunia* Maaf, itu di atas cuma pembuka. Kulonuwonnyalah gitu, saya ingin mengkritis pemerintah. Boleh dong. Suara Rakyat adalah suara Tuhan loh. Tapi saya gak mau disebut suara saya ini suara Tuhan. Kualat nanti. Sebagai pelatih Baca Buku Sangat Cepat, saya sedih dan prihatin, UNESCO dan BPS menemukan fakta lewat survey, bangsa kita adalah bangsa paling malas baca buku di dunia. No. 61 dari 63 negara. Nah negara yang no. 63 itu sebuah negara kecil di Afrika. Sungguh meng-ha-ru-kan kata Tukul Arwana, sambil matanya mendelik, mulutnya monyong, dan gaya tepuk tangannya seperti monyet. Kita negara paling malas baca buku di dunia, tapi anehnya bangsa yang merasa paling pintar dan benar di dunia. Padahal di negara lain kita dijuluki Indon, di Arab bangsa pembantu, dulu zaman Belanda disebut Inlander…. Tapi kita emang gak pernah malu. Entah karena jiwa besar atau memang kita bangga dengan sebutan itu. Buktinya kita selalu bangga dengan kebodohan itu. Apalagi kebodohan yang dibungkus agama. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Coba lihat data penelitian UNESCO berikut ini: Minat dan kemampuan baca negara: 1. Filipina 52,6%, 2. Thailand 65,1%, 3. Singapura 74% 4. Jepang 82,3%. 5. Indonesia 0,001% Jumlah buku yang dibaca: 1. Malaysia dan Singapura @ 6 judul buku/tahun 2. Jepang @ 15 judul buku/tahun 3. Jerman, Perancis, Belanda @ 22 judul buku. 4. Indonesia 1 buku pun TIDAK. Dengan alasan apa kita ingin katakan kita lebih hebat dari negara ASEAN lainnya? Kita hanya mengembik dan ambil mentah mentah dari para penulis hoax, pimpinan agama yang kurang baca buku, guru yang kurang baca buku, pejabat yang kurang baca buku, pimpinan organisasi yang kurang baca buku. Kita percaya bulat-bulat, karena memang kita tak tahu apa-apa. Kita bangsa yang paling sulit mengubah mindset atau pola pikir kita. Karena kita tidak baca banyak buku. Jadi kita tidak punya dasar untuk mengubah pola pikir kita. Karena itu kesalahan dan kebodohan yang bertahun bercokol di kepala kita adalah kebenaran. Kalau kesalahan dan kebodohan sudah menjadi mindset, sebuah pola pikir yang dianggap benar bagaimana kita bisa mengubah pola pikir seseorang. Tidak bisa. Tidak ada yang bisa mengubah pola pikir seseorang kecuali dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa mengubah pola pikir dengan cara yang sangat mudah adalah mau terbuka atas masukan orang lain. Masukan yang paling netral dan mendekati kebenaran adalah bahan bacaan berupa buku. Mengapa buku? Karena buku ditulis oleh ahlinya. Buku ditulis dari A-Z, bicara tuntas, memiliki dasar pemikiran yang kuat dan ditunjang data dan fakta. Nah bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan bangsa ini, ketika bangsa ini terbukti adalah bangsa paling malas baca buku di dunia? Ya efeksnya seperti sekarang ini, tingginya angka kejahatan, korupsi, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, seks bebas, kenakalan remaja, intoleransi, anarkhisme, terorisme. Bukan saja dekadensi moral implikasinya tapi juga pada tingginya angka pengangguran, kemiskinan, kebodohan, konsumerisme. Dan rendahnya produktivitas bangsa dibanding dengan negara lainnya. Siapa paling senang dengan kondisi di atas? Negara maju. Selagi bangsa kita bodoh, gengsinya tinggi, emosinya mudah digoyahkan, isu SARA jadi komoditas negara asing tertawa terkekeh-kekeh saja. GSM (Goyang Sedikit Mabok). Meruntuhkan Indonesia gak perlu pakai peluru atau bom atom. Cukup goyang isu SARA. Caranya gimana? Itu mah gak usah diajarin. Itu bangsa kita paling pintar. Mumpung sebagian besar bangsa ini pola pikirnya seperti katak di bawah tempurung. Comberan dikira lautan luas. *Sanggahan dan Fakta Di Lapangan* Celakanya sudahlah minat baca rakyatnya rendah, minat baca para pejabat di negeri ini juga rendah. Termasuk para cendikiawannya. Loh kok berani-beraninya menuduh begitu? Yah ini kita bicara pengalaman ya? Beberapa waktu lalu, seorang penggerak relawan baca buku protes kepada saya. Data UNESCO tidak benar. “Saya malah begitu haru melihat di daerah anak-anak kita dan masyarakat desa berebut membaca buku yang kami tawarkan kepada mereka” katanya. Hehehe… saya juga melihat begitu, sekarang banyak warga yang sadar untuk mengumpulkan buku dan meminjamkannya kepada anak-anak. Ada tukang becak, tukang sayur, tukang parkir… (Di TV sering diberitakan). Tapi bukan begitu mengukur gemar membaca. Dari foto-foto yang ada di grup Gemar Membaca itu, pertama yang saya lihat pembacanya anak-anak (bukan remaja atau orang dewasa), yang mereka baca buku pelajaran dan dongeng… hampir tak saya lihat buku motivasi, marketing, dll. Kedua, Kriteria yang digunakan untuk menilai gemar membaca bukan buku pelajaran, bukan novel, tapi buku non fiksi dan non teks. Ayo apakah para penggiat buku sudah mensurvey ini? Lagi pula untuk menghitung minat baca tidak bisa diukur dari minat baca di sebuah desa, atau usia SD saja, tapi harus menyeluruh. Alat ukur yang digunakan adalah jumlah penduduk di suatu negara. Semakin kecil jumlah penduduk suatu negara maka pembaginya semakin kecil. Indonesia ya semakin besar. Saya sudah mensurvey. Kalau saya mengadakan pelatihan, saya tak pernah lupa bertanya, siapa di antara peserta yang dalam setahun ini baca 1 buku? Fakta hampir tak 1 orang pun mengacungkan jarinya. Berapa banyak yang saya tanya, puluhan ribu orang. Sejak tahun 2017 sampai sekarang. Kepada anak sekolah, mahasiswa, dosen, guru, pejabat, anggota ormas… kalau saya tanya, dari 100 orang. Paling banyak menjawab 2 orang. Itu sudah banyak sekali. Beberapa waktu lalu di sebuah kabupaten, ada 700 peserta ibu-ibu, saya tanya siapa yang setahun ini baca 1 buku. Tak satupun mengacung. Pernah ada yang mengacung. Saya tanya, buku apa? “Buku pelajaran, buku novel”… hahaha. Itu tidak termasuk. Ada alasan saya kenapa tak memasukkannya. *Buku, bukan Internet.* Apakah buta huruf? Pasti Anda menjawab buta aksara. Yes. Salah. Menurut UNESCO sekarang buta huruf itu bukan buta aksara, tapi buta bacaan alias tidak mau baca, khususnya baca buku. Kalaulah kita disurvei UNESCO dikatakan kita negara paling malas baca buku di dunia, sebenarnya mereka mengatakan kita adalah negara yang BUTA HURUFNYA paling tinggi di dunia. Walau kita dikatai negara paling rendah minat bacanya sedunia, tapi memang kita patut gembira, karena kita negara nomor 6 tertinggi di dunia yang memanfaatkan internet dan media sosial. Fakta memang demikian, banyak orang yang menghabiskan waktunya berjam-jam bahkan sampai berhari-hari di gadgetnya. Apa ilmu pengetahuan yang mereka cari? No. Gosip, hoax, hasutan, ujaran kebencian… ini yang mendapatkan tempat di otak bangsa kita kebanyakan. Saya yakin jika disurvei ada lebih dari 50% yang sharing tanpa saring. Seolah kalau kita sudah mensharing kita orang yang sudah baca. Padahal belum. Gerbage in garbage out. Yang masuk sampah, keluarnya sampah. MCK dan MCA itu sama, sama-sama tempat buang sampah. Apa bukti bangsa kita buka internet? Kita memang jago buka internet tapi tetap saja malas baca. Ini sudah saya test. Saya sering mengirimkan spam informasi tentang pelatihan saya atau bisnis via WA. Seringkali tidak Panjang, antara 3-10 alinea. Apa respon penerima? Banyak yang membalas “Apa ini, dari siapa ini, apa maksudnya?” Hadeh, padahal jelas pengirimnya, alamat jelas, bahkan informasinya cukup jelas. Saya tahu orang Indonesia tidak suka baca. Lalu saya coba terjemahkan dalam bentuk video. Ternyata pertanyaannya sama “Apa ini?”. Kesimpulannya, walau kita ditempatkan nomor 5 pengguna internet tertinggi, tetapi tetap saja kita malas membaca. Entah apa yang dilihat di internet… Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sedikit sekali yang bisa memanfaatkan internet untuk kepentingan yang positif. Sedikit. Hanya mereka yang cerdas dan banyak baca buku yang pada akhirnya bisa memanfaatkan informasi untuk mencari duit dan memperbesar jaringan komunikasi mereka. *Kecepatan Baca Orang Indonesia Dewasa sama dengan anak SD* Mengapa kita lemah dalam minat membaca. Jangan kaget ya? Pengalaman saya menunjukkan kita bukan cuma malas membaca buku, tapi malas belajar. Tahan jantung Anda. Saya juga mau bilang, bukan sekadar malas belajar, niat belajar saja hampir tidak ada. Pengalaman saya membuktikan ini. Mengapa malas dan tidak niat? Karena ini terkait dengan kesalahan pemerintah juga. Bukan hanya di zaman Jokowi, tapi juga mulai dari zaman Pak Harto, atau mungkin sejak zaman Majapahit. Para penggiat buku dan para dosen mengakui pemerintah telah menyadari pentingnya membaca buku, maka dikirimlah buku-buku, diadakan perpustakaan, dimudahkan donasi buku-buku, program literasi digalakkan. Sampe sampe DPR minta dibkinkan perpustakaan paling megah di ASEAN (hahaha). Tapi menurut saya itu bukan kebijakan kreatif. Kalau cuma menyebarkan dan menghimbau orang membaca buku gampang, tapi bagaimana orang mau dan tahu cara membaca buku yang benar… itu yang pemerintah tidak melakukannya. Ibaratnya mengirim mesin pertanian, tapi tak memberi tahu bagaimana caranya agar mesin pertanian ini dapat digunakan maksimal dan orang menjadi jauh lebih gemar bertani. Ya yang penting gugur kewajiban. Mungkin sama dengan Anda, pemerintah tidak pernah percaya ada cara membuat orang gemar baca buku tak sekadar memberikan buku. Ada ilmu Baca Sangat Cepat. Dengan ilmu ini Anda bisa membaca 1 detik 2 halaman. Bisa dibayangkan dengan kemampuan baca sangat cepat yang ilmiah ini, Anda bisa membaca buku non fiksi dan bukan buku teks (bukan buku pelajaran) sebanyak minimal 5 sehari. Mengapa bukan buku Teks karena buku teks adalah buku wajib. Saya pelatih Baca Buku Sangat Cepat, dan saya bisa membuktikannya. Untuk membuktikan kita bukan saja kalah dalam jumlah membaca tapi juga kalah dalam kecepatan membaca sangat gampang. Hitung jumlah kata dalam sebuah buku x 60, kemudian bagi dengan jumlah menit dan detik yang Anda perlukan untuk membaca buku tersebut. Jadi gambaran rumusnya demikian: Jumlah kata x 60 : Waktu (detik). Lihat rumus di gambar. Fakta setelah kami memberikan pelatihan ke banyak angkatan Pelatihan Baca Sangat Cepat, kemampuan baca rata-rata orang dewasa kita adalah sekitar 250-300 kata/menit. Jika buku yang sama kita test kepada pelajar SD dan SMP, ternyata kemampuan baca orang dewasa (bahkan sarjana) sama tidak jauh beda. Ketahuilah kecepatan baca 250 – 300 kata itu termasuk rendah. Ini artinya bangsa kita perlu waktu 30 hari dengan waktu 1 jam untuk membaca buku setebal 250-300 halaman. Indira Gandhi, John F. Kennedy, Jimmy Charter, Marshal Mc Luchan adalah pembaca cepat di dunia. Mereka mampu membaca di atas 500 kpm. Tapi dunia terus berkembang. Tahun 1980an pertama kali diperkenalkan ilmu Kekuatan Pikiran (Mind Power), dan kemudian berkembang pesat tahun 2000an dengan lahirnya NLP (Neuro Linguistic Programming), NAC (Neuro Association Conditioning), Hypnoteraphy dll yang kemudian lahirlah ilmu Membaca Sangat Cepat, melanjutkan ilmu Speed Reading yang dipopulerkan oleh Soedarso. Apa yang bisa dilakukan dengan ilmu Membaca Sangat Cepat (Super Spead Reading) berbasis Mind Power? Anda bisa membaca minimal 1 jam 1 buku @ 200 halaman. Bahkan dengan kemampuan ini, Anda bisa menulis buku sangat cepat. Apa saya sudah membuktikannya? Tentu saja. Dengan Teknik SSR saya mampu membaca minimal 10 buku sehari, atau 5 bukuan dalam 1 jam dalam kondisi tertentu. Apakah semua terserap dalam pikiran? Terserap. Bukan saja lebih cepat, tapi jauh lebih banyak terserapnya. Peserta bukan cuma mampu mempresentasikannya, tapi juga menuliskannya kembali dalam bentuk buku yang hampir sama, bahkan lebih lengkap. Kemampuan baca sangat cepat terus berkembang. Tidak berlebihan jika para ahli mengatakan kita baru menggunakan potensi otak kita 0,001%. *Kita Bisa Kalau Kita Mau* Apa yang terjadi jika semua orang Indonesia diwajibkan belajar SSR atau Baca Sangat Cepat? Yang jelas pengarang buku akan menjadi orang kaya baru, penerbit buku dan toko buku akan muncul di mana-mana. Tahukah Anda, sejak zaman Orde Baru penulis buku Indonesia gak ada yang pernah bisa kaya raya dari bukunya. Miskin iya. Biaya menulis buku tak sebanding dengan royaltinya. Yang sudah kecil, dicicil, kenapa potong pajak pulak., Tapi bukan itu yang paling penting. Dengan ilmu itu, kita bisa baca seminimal-minimalnya 2 buku seminggu, atau sebulan 2 buku sajalah. Kalau itu bisa kita lakukan, apa yang terjadi? Kita mengalahkan kemampuan baca buku negara Asean, Jepang, bahkan Eropa. Berapa lama pengajaran ilmu ini bisa kita lakukan? Jika pemerintah dan rakyat punya kemauan cukup 6 bulan atau 1 tahun untuk seluruh Indonesia. Itu artinya Revolusi Mental yang sebenarnya bisa kita lakukan dalam waktu kurang dari 3 tahun. Belum lama ini Cina mengumumkan, berani menargetkan angka kemiskinan 40 juta rakyatnya akan turun dalam waktu hanya 3 tahun. Kok Cina pede amat? Dia tahu rahasianya. Revolusi Mental Rakyatnya. Caranya memasukkan sebanyak mungkin informasi ke otak mereka. Apa implikasi Revolusi Mental dimulai dari pikiran dan dimulai dari banyak membaca ini di Indonesia? Terjadinya penurunan angka kemiskinan, kebodohan, pengangguran, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, korupsi, tindak kriminal, anarkhisme, tawuran, intoleransi, konsumerisme, kebrutalan gank motor, seks bebas, kenakalan remaja, dll. *Agama, Ideologi, dan Budaya Bukan Penentu* Apakah masyarakat Jepang melahap 12 buku setahun atau Eropa 22 buku setahun ada kaitannya dengan agama mereka? Apa negara Jepang, Korea, Cina melejit menjadi bangsa dengan ekonomi kuat karena agama, ideologi, atau budaya mereka? Kalau lah karena agama, berarti Shinto paling benar, Toa Pe Kong yang benar. Kita adalah negara muslim terbesar. Intinya kita negara yang penduduknya beragama. Ada 5 agama besar yang diakui di Indonesia, tapi mengapa kehidupan bangsa kita tidak pernah bisa sejajar dengan bangsa maju di seluruh dunia. Bahkan sementara bangsa lain cenderung berpikir maju, bangsa kita malah cenderung berpikir mundur. Apakah agama tidak bisa jadi solusi? Jawabannya agama bukanlah yang menentukan sebuah negara adidaya atau berkembang atau bahkan miskin. Bukan juga karena ideologi atau budaya sebuah bangsa. Kalaulah ideologi, Rusia atau Amerika yang paling benar. Bukan juga karena budaya. Kalau karena budaya harusnya Yunani yang jadi negara maju. Faktanya negara itu bangkrut. Karena kekayaan alam? Kalaulah karena kekayaan alam mestinya Indonesia jadi negara super power? Lalu karena apanya? Ya karena MINDSET (Pola Pikir) sebuah bangsa. Apakah pelajaran akhlak berbasis agama diajarkan di sekolah? Diajarkan. Bagaimana dengan budi pekerti berbasis budaya dan moral berbasis ideologi Pancasila? Diajarkan. Lalu dimana pelajaran tentang mindset berbasis mind power? Tak ada. Jadi jelas mengapa bangsa ini tidak akan pernah bisa maju.Yang terjadi malah mundur. Kita bahkan tidak bisa membedakan apa itu akhlak, moral, budi pekerti, dan mindset. Mindset bukan akhlak, bukan moral, bukan budi pekerti. Selama kita tidak memahami ini kita tak akan sulit sekali berubah, sulit menyamakan persepsi, bisa jadi salah dalam membuat kebijakan. Apa itu pelajaran mindset berbasis mind power? Adalah ilmu yang mengajarkan otak manusia, cara mengubah mindset, memberdayakan pikiran dan bagaimana membuat pikiran kita terampil. Apakah ilmu ini bertantangan dengan agama? Tidak sama sekali. Jelas di Al Quran dikatakan Afalla Ta’qilun dan La’alakum tafakarun yang intinya Allah mengatakan “pakai otakmu, gunakan otakmu, Tidakkah engkau memikirkannya?” Otak senjata manusia untuk menerjemahkan semua dalil Al Quran dengan pikiran (Dalil Aqli). Jadi Allah meminta untuk manusia untuk terus belajar tidak hanya dari Al Quran. Salah satu cara yang paling mudah untuk mendownload isi pikiran orang dan pengetahuan di dunia ini adalah membaca buku. Bahkan perintah Al Quran yang pertama adalah IQRA (bacalah!). Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku kita mengenal dunia, dengan menulis kita dikenal dunia. *Kebijakan Pemerintah yang Kurang Kreatif* Sebenarnya kunci melepaskan bangsa ini dari segala krisis adalah menggiatkan minat baca buku di Indonesia. Ini tanggung jawab pemerintah. Pemerintah tidak boleh pura-pura bego di sini. Kalau memang di atas dikatakan ada cara untuk mempercepat gairah minat baca di Indonesia dengan SSR, ya pemerintah ya harus mau mengoreksi diri. Jangan sudah tahu tapi diam saja. Kebijakan yang tidak kreatif adalah memperbanyak buku, menggiatkan literasi tapi tidak mengajarkan cara membaca buku cepat dan benar. Kesalahan fatal pemerintah selama ini adalah membayar peserta seminar. Ini bukannya membuat bangsa ini minat belajarnya tinggi malah anjok ke titik nadir. Kami ingin mengajarkan ilmu ini ke seluruh Indonesia melalui jaringan Alfateta di seluruh Indonesia dibantu Pasukan Monas (Penggerak Sukarelawan Motivator Nasional). tapi faktanya kami menghadapi fakta. Masyarakat yang sudah hancur moralnya gara-gara kebijakan pemerintah mengatakan “Kalau seminar biasanya kami yang dibayar, bukan kami yang membayar”. Ini terjadi di seluruh penjuru tanah air. Ini kebijakan sejak zaman orde baru yang memunculkan tindakan koruptif, tapi tetap dipiara oleh pemerintah. Kami tahu pak Jokowi tak tahu ini. Tapi ya sekarang beliau harus tahu. Jadi pantas jika negara tidak punya kebijakan Revolusi Mental untuk Rakyat kecuali untuk Birokrat. Karena jika peserta pelatihan dibayari pemerintah transportnya, uang sakunya, negara ini gulung karpet. Saran kami, jika pemerintah mau sesungguhnya mudah. Anggaran mencerdaskan rakyat pasti ada. Ada dana BOS, ada dana Desa, gunakan saja dana itu untuk melatih sebanyak mungkin pelatih Mind Power, Baca Sangat Cepat, Brain Map, Super Memory, Revolusi Mental. Kerjsama dengan semua Pemda untuk membantu kemudahan pembelajaran untuk rakyat. Berdayakan pikiran bangsa kita dengan ilmu pikiran. Ini abad pikiran, kalau mereka tidak bisa menggunakan pikirannya, mau jadi apa bangsa kita. Pemerintah tidak usah pusing membiayai program ini jika tidak ada dana dari APBN atau ABPD, Revolusi Mental harus menjadi tanggung jawab masyarakat bukan pemerintah saja. Artinya biarkan masyarakat dengan swadana dan swadaya memajukan diri mereka sendiri. Sepuluh tahun kami melakukannya bisa kok. Ingatlah bahwa Revolusi Mental bukan hanya untuk kepentingan negara, tetapi kepentingan masyarakat itu sendiri. Pemerintah tetap menjadi fasilitaror, dinamisator dan katalisator. Begitu banyak relawan pendamping desa, relawan gerakan cerdas dan sehat yang dibentuk pemerintah, tapi pekerjaan mereka hanya formalitas. Pernah kami berdialog dengan puluhan bahkan ratusan penggerak dan pemberdaya masyarakat desa seperti itu, tapi tak jelas apa juntrungannya. Kebijakan bersifat formal, jangka pendek, kaku, dan sekadar menggugurkan kewajiban. Pernah kami tawari bagaimana jika kepada para relawan pemerintah yang dibayar negara itu kami tumpangkan ilmu-ilmu yang bermanfaat agar bisa diajarkan langsung ke masyarakat di waktu mereka yang banyak senggang? Para relawannya sangat bersemangat. Tapi apalah daya mereka, Alfateta, dan saya. Bukan rahasia umum bangsa ini tahu sebagus apa pun program kita kalau tak sejalan dengan program pemerintah ya tak perlu digubris. Ini sifat jelek birokrat kita sejak zaman bahuela. Ini akibat pejabat pembuat kebijakan yang tidak kreatif dan fleksibel. Lalu kita rakyat mau ngomong apa? Sisa karat birokrat sejak zaman Otns masih sangat melekat. Kalaulah ide saya melalui Alfateta disetujui, bisa terguling periuk para pejabat di lapangan. _*)Bambang Prakuso* BSM adalah pendiri, pelatih utama, dan pemimpin Alfateta Indonesia. Beliau memprakarsai berdirinya AIMPA (Alfateta Indonesia Mind Power Academy), Gerakan Revolusi Mental, Gerakan Sejuta Motivator, Gerakan Baca 1 Bulan 1 Buku, Yayasan Tenar (Teraphy Narkoba), Pasukan Monas (Penggerak Sukarelawan Motivator Nasional), anggota DPP JKPN (jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan Nasional). Telah menulis 35 judul buku dan menyusun lebih dari 50 modul pelatihan Mind Power, Kewirausahaan, Motivasi, Creative Writing, dll. Telah melatih puluhan ribu orang dari Aceh sampai Papua ilmu Revolusi Mental, Psikotransmiter (ilmu komunikasi bawah sadar), Baca Sangat Cepat atau Super Speed Reading, Kewirausahaan, Penulisan Kreatif, Marketing, dll. Alamat kantor Jl. Kalibata Timur 1 No. 17 Jakarta Selatan. HP 081380642200. www.alfateta.com. [email protected]_