Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Yuk, Ikutan Terus Bantu Mobilitas Para Penyandang Disabilitas!

Kepadatan penduduk dan kendaraan di Indonesia membuat mobilitas penduduknya menjadi begitu terbatas. Naik kendaraan akan ketemu sama yang namanya macet, jalan kaki di trotoar terhalang oleh pedagang atau pengendara kendaraan yang menyerobot.

Jadi, tak mengherankan apabila pegerakan warganya sangat terbatas. Jika bagi penduduk yang sehat saja begitu sulit untuk bergerak, bayangkan bagaimana keadaannya untuk para penyandang disabilitas/ yang memiliki kebutuhan khusus. Terlebih lagi, masih kurangnya pelayanan pendampingan bagi penyandang disabilitas membuat pergerakan mereka menjadi sangat tidak leluasa.

Karena kekhususan itu, mereka harus didukung fasilitas, sarana, dan prasarana yang memudahkan aksesibilitas dan mobilitas, terutama di ruang publik. Peran negara bukan malah membuat segregasi yang menyingkirkan penyandang disabilitas dari ruang publik yang juga menjadi hak mereka.

Relevansi Posisi Disabilitas. Dalam bahasa yang lebih lugas, relevansi disabilitas, dan revolusi mental bisa ditegaskan sebagai sikap pemerintahan Jokowi-JK untuk mengutamakan persoalan hak penyandang disabilitas dan mengintegrasikannya dalam kebijakan yang menjadi turunan visi misi revolusi mental di berbagai bidang kehidupan.

Upaya melakukan dekonstruksi persepsi terhadap penyandang disabilitas sesungguhnya memang sangat relevan dengan konsep revolusi mental Jokowi karena revolusi mental harus dimulai dari perubahan persepsi untuk menuju Indonesia yang tertib Serta menjadi bangsa yang mandiri. 

Sejalan dengan revolusi mental tersebut, Rexona dalam rangka memperingati hari penyandang disabilitas internasional yang jatuh setiap 3 Desember, membuat sebuah gerakan yang bernama Movement for Movement. Sebuah gerakan untuk membantu mobilitas para penyandang disabilitas.

Gerakan ini juga didukung oleh beberapa artis papan atas dan influencers, seperti Arifin Putra, Vicky Nitinegoro, Arief Muhammad, dan Julius Ryan. Dalam posting-an Instagramnya, mereka mengambil foto top down view yang menunjukan beberapa lokasi yang belum ramah disabilitas. Mereka pun mengajak followersnya untuk ikut mengunggah foto seperti mereka dan berbagi cerita mengenai lokasi yang mereka rasa belum ramah disabilitas.[Ar/chyu]

 

Sumber foto : Antara foto/Widodo S Jusuf

0
0
4
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan