Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Wow! Seni Rakit Pinisi Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Perahu  Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang sudah  terkenal sejak berabad-abad yang lalu.  Kini Teknik dan seni membuat perahu Pinisi asal Sulawesi Selatan (PINISI: Art of Boatbuilding in South Sulawesi)  tersebut, masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda umat manusia, yang ditetapkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Keilmuan dan  Kebudayaan atau UNESCO, pada sidang ke-12 komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang berlangsung di Pulau Jeju, Korea Selatan, Kamis, (7/12/17).

Seperti  dilansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud), sebelumnya Kemendikbud telah mendaftarkan seni teknik membuat kapal Pinisi ke UNESCO pada 2015 lalu.

Dirjen Kebudayan Kemendikbud, Hilmar Farid mengungkapkan rasa bangga dengan penetapan Pinisi ini, yang merupakan  bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan tentang teknik perkapalan tradisional nenek moyang bangsa Indonesia yang diturunkan geberasi ke generasi dan  masih berkembang sampai hari ini.

"Sebagai bangsa Indonesia tentunya rasa syukur dan bangga dengan ditetapkannya seni pembuatan perahu Pinisi dalam representative list UNESCO," kata Hilmar

Ditambahkannya, penetapan tersebut menjadi pemicu agar generasi muda bisa bangga untuk tetap menjaga nilai tradisi kebudayaan yang dimiliki.

“Dunia saja mengakui, tentunya bangsa Indonesia harus lebih mengakui. Kami berharap para generasi muda menjadi lebih bangga dan menggali nilai tradisi budaya untuk lebih dikembangkan,” ujarnya.

Sekretariat Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO menggarisbawahi tentang perlunya Indonesia membuat program untuk tetap menjaga ketersediaan bahan baku bagi keberlanjutan teknologi tradisional ini, yang diwujudkan dalam bentuk perahu yang berbahan baku utama kayu.

Selain itu, sidang juga menilai perlunya program-program baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal  terkait dengan transmisi nilai tentang teknik dan seni pembuatan perahu tradisional ini kepada generasi muda.

Hotmangaradja Pandjaitan, Wakil Tetap RI di UNESCO mengungkapkan, hal ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas dan masyarakat, yang menjadi bagian penting dalam pengusulan Pinisi ke dalam daftar ICH UNESCO.

UNESCO menekankan, Indonesia perlu  memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing terutama bagi pengembangan pengetahuan, teknik dan seni warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan di tanah air pada umumnya, seperti pembuatan perahu tradisional Pinisi ini.

Hal ini sejalan dengan gerakan Indonesia Mandiri yang berpegang teguh dengan nilai-nilai yang tertanam  dalam menyongsong Revolusi Mental, yaitu etos kerja, gotong royong, serta integritas, untuk kemajuan bangsa yang lebih baik.

Dengan penetapan Pinisi ini, maka Indonesia telah memiliki delapan elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012), dan Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015). Serta satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik di Museum Batik Pekalongan (2009). [Is]

Sumber foto: Antara Foto

0
0
124
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan