Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Pendidikan Harus Dimaknai Sebagai Pembentukan Karakter Diri

Tujuan pendidikan tidak hanya dapat dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan kecerdasan kognitif. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Prof. Agus Sartono, yang mengatakan, “Pendidikan harusnya juga bisa dimaknai sebagai media untuk membentuk karakter dan ini dimulai dari pembiasaan sehari-hari baik dalam lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga” jelas ketika ditemui Jum’at (29/10).

 

Selanjutnya, Agus menyoroti berbagai permasalahan yang sedang dialami Indonesia khususnya terkait Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Secara beruntun sejumlah kepala daerah tertangkap tangan oleh KPK dalam tindak pidana korupsi. Sejumlah kasus korupsi juga menyeret nama-nama besar. Menurut Agus, hal ini terjadi karena pendidikan saat ini lebih menekankan pada peningkatan kemampuan kognitif, bukan ke pembentukan karakter. “Persoalan yang muncul saat ini disebabkan oleh ketiadaan karakter” ujar Agus, yang juga guru besar Ilmu Ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

 

Selain permasalahan KKN, Agus juga menyoroti karakter generasi muda sekarang yang lebih mementingkan hasil dibandingkan proses. Menurutnya, kecenderungan generasi muda yang lebih mementingkan hasil disebabkan juga karena pengaruh teknologi yang berkembang saat ini, khususnya ketika semua keinginan sudah dapat diraih hanya dalam gengggaman. “Padahal hidup ini harus dilalui dengan proses yang benar dan hasil itu nomor dua, Hasil adalah konsekuensi daripada proses” paparnya.

 

Untuk semakin memperkuat pendidikan karakter, maka guru memiliki peranan yang cukup penting.  “Kurikulum kita bisa dirancang, gedung kita bisa beli, teknologi bisa kita beli atau pendanaan bisa kita adakan, tetapi perlu diketahui bahwa hal yang paling penting adalah guru yaitu orang yang akan melatih peserta didik untuk menjadi terbiasa berfikir baik, bertutur kata baik, berprilaku baik dan punya karakter yang baik,” tutur Agus.

 

Lanjut Agus menerangkan, selain guru yang berada di dalam institusi pendidikan formal, Agus juga menekankan pentingnya keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dalam melakukan pendidikan karakter. “Dalam mewujudkan pendidikan karakter saya meyakini bahwa peran keluarga itu sangat penting karena memang pembiasaan atau penanaman nilai-nilai itu harus dimulai dari keluarga” jelas Agus.

 

Agus juga menjelaskan bahwa Kemenko PMK sudah melakukan koordinasi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri. Koordinasi yang dilakukan meliputi penguatan pendidikan karakter di seluruh jenjang dan penyusunan pedoman bagi guru dalam melakukan pendidikan karakter.


Dirinya berharap agar masyarakat, khususnya para peserta didik dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri. “Kalau kita bisa melakukan dengan baik maka kita akan mampu menjadi pengawas, komisioner KPK, Polisi, dan Jaksa bagi diri kita sendiri” harap Agus. [Ar/dbs]


Sumber foto : Pedomanbengkulu.com

0
0
117
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan