Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Pawai Perempuan : Hapus Kekerasan Dan Diskriminasi di Indonesia

Seraya membawa aneka poster dan berpakaian cerah, sejumlah orang menggelar Pawai Perempuan atau Women's March di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (04/03) pagi.

Tuntutan para peserta pawai, sebagaimana lantang diteriakkan seorang orator, "agar tidak ada perempuan didiskriminasi, agar tidak ada lagi diskriminasi hanya karena orientasi seksualnya."

Kekerasan seksual yang menimpa perempuan juga menjadi sorotan dalam aksi yang diadakan untuk menyambut Hari Perempuan Internasional.

'Darurat kekerasan': Pembunuhan perempuan oleh laki-laki di Indonesia

·                     Mencegah kekerasan seksual lewat pendidikan

·                     Jutaan orang di AS dan sejumlah negara ikuti protes anti-Trump

Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan pada Februari lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus, naik 9% dari 2014. Dari ratusan ribu kasus itu, bentuk kekerasan yang paling banyak dialami oleh perempuan adalah kekerasan fisik , yaitu 38%. Kekerasan seksual menempati urutan kedua dengan 3.325 kasus.

Perhitungan lain, sebagaimana disampaikan akun Menghitung Pembunuhan Perempuan di Facebook yang dibentuk oleh Kate Walton, aktivis dan penulis asal Australia, terdapat 193 kasus pembunuhan dengan korban perempuan sepanjang 2016.

Kate menyebut data itu menunjukkan situasi 'darurat kekerasan' terhadap perempuan.

'Agar tahu perjuangan perempuan'

Kondisi yang dialami perempuan Indonesia itulah yang mendorong para peserta pawai mengajak serta anak mereka, sebagaimana dilakukan Hanifah. Dengan semangat, integritas yang menunjukan etos kerjanya, perempuan itu mengikuti pawai dengan membawa anak lelakinya yang berusia tujuh tahun.

"Agar dia tahu perjuangan perempuan," katanya kepada wartawan Hilman Handoni yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Sejumlah peserta pawai juga ingin mengingatkan bahwa rakyat Indonesia bisa berbuat lebih baik terhadap kaum perempuan.

"Berbicara feminisme itu sebenarnya bukan cuma Barat. Tapi di Indonesia juga punya nilai luhur dalam memuliakan perempuan," ujar Dea Safira Basori, pegiat Indonesia Feminis yang datang dengan memakai atribut pakaian daerah.

·                     Tagar #NotOkay: Video Trump picu kisah kekerasan seksual

·                     Kekerasan seksual pada perempuan dan inferioritas laki-laki

Akan tetapi, ada pula peserta yang menggarisbawahi kekerasan tidak melulu melibatkan tindakan fisik.

Endah dan Intan, dua di antara kesembilan pelajar sekolah menengah pertama dari kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mengaku perundungan atau bullying menjadi masalah yang dihadapi perempuan-perempuan di sekolah.

Mereka mengajak sesama pelajar untuk tidak merundung satu sama lain. "Ini hanyalah awal," demikian bunyi kalimat dalam salah satu poster yang mereka bawa.

Soal kekerasan terhadap perempuan, suara orator dalam pawai itu kembali terdengar. "Betapa banyak perempuan, buruh migran yang mengalami kekerasan di Arab Saudi, tapi luput dalam pembicaraan," pekiknya.

'Laki-laki juga harus ikut'

Pawai Perempuan atau Women's March telah diikuti jutaan perempuan di seluruh dunia. Aksi bermula dari kota Washington DC, Amerika Serikat, sebagai bagian dari respons perempuan yang kecewa dengan berbagai kicauan Presiden AS Donald Trump yang dinilai seksis dan diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok minoritas lain.

Tapi tuntutan aksi kemudian berkembang melebihi kecaman terhadap Presiden Trump.

Dalam aksi di pusat Jakata, pada Sabtu (04/03), pihak penyelenggara yang terdiri dari puluhan lembaga perlindungan hak-hak asasi, secara bergotong – royong mendesak Indonesia kembali ke toleransi dan keberadaan, menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender, mengajak pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan terhadap perempuan.

Ada pula desakan agar pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan dan pro-kelompok marginal lain, termasuk perempuan difabel, serta menuntut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan perempuan di bidang politik.

Bagaimanapun, aksi ini tak hanya melibatkan perempuan.

Ari Kriting, seorang komedian tunggal, terlihat ikut dalam aksi ini. "Saya melakukan aksi ini untuk ibu saya, dan ibu-ibu di kawasan Timur Indonesia."

Menurutnya, laki-laki seharusnya ikut aksi ini. "Kita sering kok melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kita godain perempuan, itu kan juga pelecehan," tutupnya. [Ar/bbc]

 

Sumber foto: bbc.com

0
0
5
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan