Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Melati & Isabel: Lewat Kampanye Perangi Sampah Plastik Raih Penghargaan di Jerman

Dua gadis belia Indonesia, Melati dan Isabel Wijsen, mengharumkan nama bangsa dengan berhasil meraih Penghargaan Bambi di Jerman berkat program mereka Bye Bye Plastic Bags. Dua anak asal Bali itu memerangi sampah plastik yang merupakan limbah yang sangat besar di pulau Dewata.

Lebih dari seribu penghargaan Bambi telah diberikan dalam tujuh dekade terakhir, tapi tidak banyak yang mengantongi kisah inspiratif seperti dua bocah Indonesia yang tahun ini mendapat penghargaan mentereng itu.

Melati Wijsen (12) dan Isabel (10), menjadi penerima penghargaan Bambi termuda berkat program mereka tersebut. Kedua anak yang berasal dari Bali itu memerangi sampah plastik yang merupakan limbah yang sangat besar di pulau Dewata sejak April 2013. Bahkan mereka menargetkan Bali akan bebas plastik sebagai wujud Indonesia Bersih di Januari 2018 .

Inspirasi Melati dan Isabel dapatkan setelah mereka menerima pelajaran tentang tokoh dunia, seperti Nelson Mandela, Lady Diana dan Mahatma Ghandi di sekolah. Mereka lalu berinisiatif untuk melakukan hal yang berguna untuk dunia di umur mudanya. Berbekal semangat, integritas dan etos kerja yang tinggi, mereka berdua mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bye Bye Plastic Bags mereka mewujudkan misinya hingga diundang ke London untuk berbicara di TED Talks juga ke New York untuk menjadi pembicara di PBB saat peringatan World Oceans Day 2017.

Usaha menciptakan Bali bebas plastik

Kakak beradik ini sadar tanpa dukungan pemerintah setempat mereka tidak akan mewujudkan mimpinya. Untuk mendapatkan perhatian pemerintah, mereka bergotong – royong membuat petisi guna mengumpulkan tanda tangan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali, seizin Bea Cukai dan Imigrasi setempat. Terkumpul lebih dari 100 ribu tanda tangan, namun hal tersebut belum bisa meyakinkan Gubernur Bali, Mangku Pastika.

Putus asa karena tidak bisa menemui Gubernur selama satu setengah tahun duo Wijsen mengadakan mogok makan. Mereka terinspirasi setelah melakukan kunjungan ke rumah Mahatma Gandhi di India. Karena masih di bawah umur mogok makan tersebut dilakukan saat matahari terbit hingga tenggelam dan berada dalam pengawasan ahli gizi. Esoknya, dikawal oleh polisi, mereka berhasil menemui Mangku Pastika yang menandatangani nota kesepahaman untuk mewujudkan Bali tanpa kantong plastik pada Januari 2018.

Dukungan dunia

Efeknya sangat besar bagi komunitas global. Pada Januari 2016, 13 negara telah menunjukkan minatnya untuk bergabung dan menerapkan Bye Bye Plastic Bags di negara mereka masing-masing. Tiga bulan kemudian LSM tersebut melebarkan sayapnya ke Ibukota Jakarta. Serta, Bye Bye Plastic Bags berhasil melibatkan sekitar 12 ribu orang relawan untuk mengumpulkan 40 ton sampah di seluruh pantai di pulau Bali pada Februari 2017 dalam acara yang bertajuk One Island One Voice. LSM itu juga menandai toko dan warung yang sudah tidak menggunakan kantong plastik di media sosialnya.

Inspirasi yang mereka berikan pada dunia diakui pada penghargaan Bambi di Berlin 16 November lalu. “Ini luar biasa bagaimana perjuangan lima tahun kami sangat sepadan. Bagaimana kesenangan, petualangan, pengalaman yang telah kami lalui pada umur yang muda dan di garis depan menghadapi isu terbesar, yaitu polusi plastik. Penghargaan ini untuk generasi kita, generasi yang membantu menyelamatkan bumi,” ucap Melati di panggung Bambi dengan penuh kepuasan.

Penghargaan Bambi adalah ajang bergengsi di Jerman. Tiap tahunnya penghargaan tersebut memilih insan-insan inspiratif bagi warga Jerman bahkan dunia. Penyelenggara, Hubert Burda Media, menyajikan penghormatan tersebut untuk individu dengan keunggulan di media dan televisi internasional.

Kategori yang digelar adalah media, seni, budaya, olah raga dan bidang lainnya. Pertama kali diadakan tahun 1948, mereka merupakan ajang penghargaan tertua di Jerman. Penghargaan ini dinamai menurut buku ‘Bambi, a Life in The woods‘ karangan seorang penulis Austria, Felix Salten, dan pialanya pun berbentuk rusa laiknya dalam kisah. [Ar/dw]


Sumber foto: indonesiaproud.wordpress.com

0
0
5
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan