Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Kisah Petani Holtikultura Asal Riau Yang Menginspirasi Dunia

Suryono seorang petani sayur dan buah dari Provinsi Riau, namun pemikirannya mengenai dampak kerusakan terhadap lingkungan dan hutan membawanya menjadi pembicara di forum yang bertaraf internasiol. Menjadi perwakilan yang dipercaya sebagai deligasi Indonesia, Suryono menjadi salah satu pembicara utama pada Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang Perubahan Iklim atau COP-22, di Maroko 7-18 November th lalu.

Dalam forum yang dihadiri oleh 190 negara itu, Suryono memaparkan akan pentingnya menjaga lingkungan alam dari segala kerusakan hutan yang disebabkan dari tangan – tangan manusia. Pria kelahiran Medan Sumatra ini, dipilih karena dinilai sebagai petani yang berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim dengan bertani holtikultura yang sebelumnya bertani sawit.

Tak hanya itu saja, pria yang berusia 41 tahun ini juga turut andil dalam menjaga lingkungan dan menjaga kebakaran hutan. Pria yang tinggal di Dusun Sukajaya Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak ini, juga aktif dalam kegiatan Progam Desa Makmur Peduli Api (DMPA) di daerahnya. Tujuan DMPA adalah praktik pertanian yang berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan, meliputi hutan alam dan Hutan Tanaman Industri (HTI), termasuk pencegahan kebakaran hutan melalui peran aktif komunitas lokal.

Keberhasilan Suryono, rupanya membuat para rekan se-profesinya mengikuti jejak dirinya. Pasalnya banyak di daerahnya kini yang berprofesi sebagai petani holtikultura yang sebelumnya merupakan para petani sawit. Sebagai petani hortikultura yang tidak pernah lelah memajukan pertaniannya, suryono mendapat  penghargaan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2015, dan Petani Terbaik Siak Bidang Hortikultura 2016.

Masa transisi ini tidaklah mudah, berkaitan dengan perubahan mindset, dari menanam sawit yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, kini Suryono harus beradaptasi dengan teknik dan mekanisme bercocok tanam yang baru. Berkat integritas dan etos kerja tinggi yang menjadi cerminan Indonesia mandiri, pada tahun 2013 nasib Suryono mulai berubah. Setelah menguasai teknik bercocok tanam hortikultura, hasil yang diperoleh tampak menunjukkan hasil. Dan perlahan, tanah miliknya yang kini seluas 2 hektar itu pun dipenuhi sayur dan buah-buahan.

Ditambah dengan bakat Suryono dalam berdagang, ia juga mampu memasarkan sendiri produk kebunnya. Dengan lahan setengah hektar, dan panen setiap 2 pekan sekali, Suryono mampu menghasilkan Rp15 juta per bulannya. Sebuah angka yang cukup mengesankan, jika dikalikan 2 hektar luas seluruh kebunnya.

Suryono bahkan mendorong para petani lain untuk langsung menjual hasil bumi mereka ke pasar, tanpa perantara, agar keuntungan yang diperoleh dapat maksimal. “Kini, pasar telah dipenuhi dengan berbagai sayur mayur segar, tidak lagi bergantung dengan pasokan dari luar daerah,”pungkasnya. [Ar/dbs]

Sumber foto :mediaindonesia

0
0
26
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan