Hak Cipta © 2015-2018 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Kemenpora Kembangkan Potensi Keterampilan dan Kemandirian Pengusaha Muda

Sebagai wujud implementasi Indonesia Melayani untuk mendorong Indonesia Mandiri, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) menggelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pemuda Berbasis Iptek dan Imtek yang bertema “Pemuda sebagai Penggerak Sentra Pemberdayaan Pemuda di Desa”. Acara yang digelar di Bogor, Jawa Barat pada akhir Juli 2017 lalu itu dalam kegiatan pelatihannya salah satunya adalah mengunjungi budidaya lele sistem bioflok di daerah Benteng, Kecamatan Ciampea, Bogor.

Pengembangan kewirausahaan pemuda ini adalah kegiatan mengembangkan potensi keterampilan dan kemandirin berusaha. Pelatihan tersebut membuka jalan kembali bagi seorang Radityo, pemuda desa yang sedang mengembangkan usaha ternak lele.

Seperti dilansir dari laman Berita Satu, dalam mengembangkan budidaya ikan lele dengan sistem bioflok ini adalah bentuk dari keberanian dan semangat pantang menyerah yang diperlihatkan Radityo yang kembali ke desanya di Banyuwangi, Jawa Timur.Selain itu dia juga tetap melakukan berbagai aktivitas untuk menggerakan pemuda desa.

Pilihan Radityo untuk kembali ke kampungnya yaitu Dusun Polean, Desa Tamansari, Kecamatan Tegal Sari, Banyuwangi, bermula saat ia bekerja bidang pemetaan di Kota Malang sekaligus mengabdi di rumah belajar untuk anak-anak pesisir Clungup Mangrove Conservation, Kabupaten Malang. Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) ini merasakan bahwa daerah tertinggal butuh perhatian lebih. Ia teringat dengan kampung halamannya yang juga berada di pelosok, tepatnya di tepi perkebunan (PTPN XII) yang berjarak sekitar 50km dari pusat kota Banyuwangi. Pemuda kelahiran 27 Juli 1994 ini pun terpanggil untuk pulang dan "mencari jalan" untuk kembali ke kampung halaman.

Setelah memikirkan berbagai jalan usaha yang tidak mudah ditemukan di desa, akhirnya ia terpikir untuk mencoba budidaya ikan lele, karena dulu ketika SMA pernah menjalani bisnis ini namun terhenti karena air tidak melimpah sepanjang tahun.

“Bermodalkan kuota internet saya mencoba mencari informasi kembali tentang budidaya lele. Akhirnya saya menemukan cara budidaya sistem bioflok, budidaya lele tidak bau dan hemat air dengan memanfaatkan bakteri dan fermentasi. Setelah melakukan analisis dan penghitungan usaha dan motivasi orang tua, akhirnya saya pulang dan meninggalkan segala aktivitas saya di Malang,” jelas Radityo, yang pernah lolos dalam Pekan Imliah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Ilmu yang ia dapatkan di internet diterapkan. Ada tiga kolam yang ia gunakan untuk ternak Lele dengan sistem bioflok. Awalnya tidak merasa kesusahan berkat pengalaman yang sudah akrab dengan bakteri dan fermentasi. Namun, permasalahan muncul ketika lele berusia remaja, atau pertengahan. Ketika lele mulai besar dan kolam mulai padat, bakteri bioflok di kolam mati sehingga air menjadi bau dan harus ganti air beberapa hari sekali. Ini tentu merepotkan. Raditiyo mencoba tidak menyerah, namun kematian bakteri yang berulang pada periode pemeliharaan lele selanjutnya membuat ia budidaya ikan lele yang ia lakukan terbilang gagal.

Jalan perbaikan ternak lele Bioflok akhirnya Radityo temukan saat mengikuti Pelatihan Kempora di Bogor.

Di Bogor, dia menggali informasi kepada anggota pembudidaya. Bahkan sempat menepi dari rombongan pelatihan untuk mencari informasi lebih dalam mengenai cara merawat bakteri agar dapat terjaga memproduksi flok.

“Kembalinya ke Banyuwangi, informasi yang sudah didapatkan dari Bogor mulai diterapkan. Alhamdulillah sekarang lebih baik dari sebelumnya. Sekarang keterbatasan air dan lahan bukan hambatan untuk budidaya lele dan bisa menjadi penghasilan rutin perbulan. Terimakasih kemenpora,” ujar menjadi wakil Jawa Timur terseleksi bersama wakil dari 33 provinsi lain yang mengikuti Pelatihan Pemuda Teknopreuner dari Kemenpora tersebut.

Kini, selain kegiatan budidaya lele tersebut, Radityo juga aktif di kelompok dan organisasi pemuda desa. Sebelumnya, dia juga sudah dikenal sebagai pemuda desa yang aktif membuat kegiatan gebrakan di kampungnya. Dua tahun lalu, ia bersama para pemuda desa pernah mengadakan lomba BMX Cross untuk memperingati 11 tahun jalan rusak di kampungnya. [Is]

Sumber: BeritaSatu.com

0
0
124
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan