Hak Cipta © 2015-2017 Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
SIARAN PERS
Hebat! Sri Utami Dari Buruh Cuci Menjadi Pemilik Rumah Sakit

Satu lagi sosok kartini hadir ditengah masyarakat Indonesia, dialah Sri Utami wanita asal Solo Jawa tengah. Berbekal semangat, integritas, etos kerja dan niat yang tulus, wanita kelahiran Kediri, 13 oktober 1948 ini mampu merubah hidupnya dan menjadi manfaat bagi orang – orang disekitarnya.

Perjuangan Sri Utami dalam mengarungi bahtera hidup patut diacungi jempol. Demi keluarga ia rela melakukan apa saja bekerja menjadi buruh cuci, jual batu hingga berjualan jamu gendong pernah ia lakoni tanpa rasa malu. Tak hanya gigih bekerja Sri Utami juga pandai menyimpan uang hasil ia bekerja, tidak tanggung – tanggung uang yang ian simpan mampu untuk membeli tanah sekaligus menyekolahkan suami di  Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Jawa Tengah.

Dari tabungan ini pula Sri mampu mendirikan Klinik Mojosongo pada tahun 2001. Anak ke-13 dari 17 bersaudara dari pasangan R Moentoro dan Sihmini ini rupanya juga bertangan dingin, 13 tahun kemudian dari satu klinik berkembang menjadi empat klinik dan satu rumah sakit (rs) yang diberi nama Pratama Mojosongo, yang dibangun, di Jl Malabar Utara III Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah. Dengan pasilitas bedah lengkap dan tarif relatif murah yaitu Rp.15.000 untuk konsultasi dokter dan Rp.45.000 untuk rawat inap.

Bukan berarti RS Mojosongo memberi layanan seadanya, fasilitas rumah sakit terus berkembang lengkap dengan berbagai peralatan canggih. Kini jajaran klinik dan rumah sakit Mojosongo jadi andalan dan rujukan bagi masyarakat Solo.

Seperti yang terlansir Jpnn.com, Rumah sakit-rumah sakit di bawah pengelolaan Sri mempunyai misi sebagai rumah sakit murah, cepat, dan aman. Sri menerapkan sistem pelayanan kesehatan yang sama, tidak membedakan kelas.

Saat ini RS Mojosongo menyediakan pelayanan unit gawat darurat (UGD), kebidanan dan kandungan, kesehatan ibu dan anak, apotek, penyakit gigi dan mulut, bedah umum, bedah ortopedi, telinga hidung tenggorokan, serta laboratorium, USG, dan radiologi. Setiap bulan pada minggu pertama, RS itu secara rutin mengadakan layanan periksa kesehatan gratis.

Ada juga senam bersama yang bisa diikuti umum. "Sambil mengajar senam, saya menyosialisasikan pentingnya hidup sehat. Dengan begitu, sakit bisa dicegah," urai Sri.

Istri dari Dr. Mudzakkir ini, selalu coba membantu orang lain dengan berbagai cara. Ia mendorong para karyawan kliniknya agar coba berwiraswasta.

Kepedulian Sri Utami terhadap kaum marjinal terus bertambah. Setelah sukses mendirikan rumah sakit, Sri juga mendirikan koperasi dana pinjaman tanpa bunga bagi para masyarakat kecil dan pedagang kaki lima.

Berkat kontribusinya kepada masyarakat, Sri meraih beberapa penghargaan. Antara lain, anugerah pelopor penggerak pembangunan Kartini Award 2013 pada April lalu. Dia juga terpilih menjadi salah satu di antara 89 Tupperware She Can, penghargaan untuk para perempuan inspiratif Indonesia. 

Diusia senjanya yang menhinjak angka 70 tahun ini ingin terus berkarya dan manfaat bagi orang lain. [Ar/dbs]

Sumber foto: tribunnews.com

0
0
7
Bagaimana Tanggapanmu ?
0 Tanggapan